Terorisme memang bukan peristiwa baru Dalam senarai historitas manusia terorisme telah ikut mewarnai perjalanan membangun peradaban Ada fluktuasi ketika bangunan yang hendak diwujudkan menjadi cita adiluhung manusia Laksana sebuah teater ada protagonis dan juga ada antagonis Tak ada kemapanan dalam mencipta tatanan Tatanan yang ada terus berdinamika seiring rasionalitas dan hasrat saling berkelindan saling bertarung hingga tiada bertepi Thomas Hobbes mungkin saja benar ketika dia menyatakan homo homini lupus manusia adalah serigala bagi sesamanya Manusia merupakan binatang yang berpikir yang tetap sulit untuk membendung animo belligrendi nafsu berperang yang melekat pada dirinya Kendati perang yang biasa terjadi tidaklah sama dengan teror yang berlangsung Ada distingsi yang signifikan memisahkan keduanya Bagaimana kita merespon ketika sekelompok masyarakat menyambut jenazah Amrozi dan Mukhlas serta Imam Samudra sesudah ketiganya dieksekusi mati Teriakan takbir serta spanduk menyambut bak pahlawan dan syuhada Hal serupa bisa dilihat pada pemakaman Eko Joko Sarjono alias Eko Peyang dan Air Setiawan di Sragen teroris yang tewas di Jatiasih Bekasi Apakah ini hanya reaksi dari wujud esprit de cop Ada mumbul sikap dan reaksi atas ungkapan kehidupan yang berupa tindakan dari ekspresi bahasa terorisme yang memunculkan respon psikologis bahkan reaktif Pada tataran wacana ini dapat ditengarai sebagai kenyataan yang kontradiktif Warisan PencerahanAdalah fakta demikian menurut Derrida Giovanna Borradori 2005 sejak serangan 11 9 media telah membombardir dunia dengan gambaran gambaran dan kisah kisah tentang terorisme Ini mengundang refleksi kritis yaitu penelusuran filosofis Derrida terkesima oleh betapa secara naif media menyumbang ke arah penggandaan kekuatan pengalaman traumatis akibat terorisme tersebut Pada saat bersamaan Derrida juga gelisah mengenai betapa nyata ancaman bahwa terorisme akan mengeksploitasi jaringan jaringan tehnologi dan informasi Baca Juga Cinta Tanah Air adalah Bagian Sunnah NabiKendati segala horor yang kita saksikan bukan tidak mungkin bahwa suatu hari kita akan memandang kembali pada 11 9 sebagai contoh terakhir suatu hubungan antara teror dan teritori sebagai pemunculan paling akhir teater kuno kekerasan yang ditakdirkan untuk mengopak imajinasi Sebab serangan serangan teror di masa mendatang yang didukung dengan kecanggihan tehnologi akan lebih berwarna dan boleh jadi horor akan datang dalam situasi senyap diam diam tak kasat mata akhirnya tak terbayangkanIdeologi eksplisit para teroris dalam kasus serangan Twin Towers dan Pentagon pada 11 9 ialah penolakan atas jenis modernitas dan sekulerisasi yang di dalam tradisi filsafat diasosiasikan dengan konsep Pencerahan Dalam filsafat Pencerahan menggambarkan bukan hanya sebuah periode spesifik yang secara historis bertepatan dengan abad ke 18 melainkan juga afirmasi atas demokrasi dan pemisahan kekuasaan politik dari kepercayaan keagamaan yang dijadikan fokus oleh Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika Filsuf berdiri vis a vis warisan Pencerahan dan ini bukan hanya masalah teoritis melainkan juga berimplikasikan percabangan politis yang peka Immanual Kant menyebut Pencerahan sebagai kebangkitan manusia dari ketidakdewasaannya yang ditimpakan pada dirinya sendiri Ketidakdewasaan merupakan ketidakmampuan menggunakan pemahamannya sendiri tanpa bimbingan orang lain Lebih dari sekedar segugus kepercayaan Pencerahan menandai putusnya hubungan dengan masa lalu yang dimungkinkan hanya atas dasar ketidaktergantungan individu dihadapan otoritas Bagi Jurgen Haberma Constantinus Fatlolon 2016 masalah terorisme global yang berangkat dari peristiwa 9 11 di New York dan Pentagon tersebut adalah sebagai sebuah episode dalam drama sejarah yang berlangsung terus dari modernitas itu sendiri Munculnya terorisme global dapat dilihat sebagai sebuah usaha dari proses rasionalisasi atau modernisasi yang menindas secara sistematis dunia kehidupan manusia Proses kolonialisasi dunia kehidupan oleh modernisasi inilah yang mengakibatkan reaksi fatal dalam bentuk terorisme global Ini akibat tidak tuntasnya modernisasi Berhembusnya proses modernisasi membawa dalam dirinya sebuah harapan akan kebebasan otonomi dan masyarakat yang lebih sejahtera Namun modernisasi memiliki otoritas yang lemah terhadap apa yang disebut Habermas sebagai rasionalitas komunikatif Akibatnya mekanisme mekanisme sistematis memasuki wilayah rasionalisasi dunia kehidupan dengan sebuah jarak yang lebar Situasi inilah yang kemudian melahirkan fundamentalisme agama termasuk terorisme global Jawaban filosofisSecara epistemologis akar kekerasan bisa kita lihat sumbernya dalam dua hal yakni yang bersumber dari dalam diri manusia itu sendiri maupun yang bersumber dari luar diri manusia sebagai stimulus rangsangan terhadap lahirnya tindak kekerasan Penjelasan tentang epistemologi kekerasan termasuk kekerasan atas nama agama juga mengandaikan dua sumber yaitu sumber dari dalam internal dan sumber dari luar eksternal Di sini kita berhadapan dengan apa yang oleh filsafat disebut sebagai akar akar epistemologis kekerasan yaitu kekerasan dari mengakar dari dalam diri manusia yang bersifat intsingtif dan dari luar yang bersifat stimulus Untuk akar epistemologi kekerasan yang bersifat internal instingtif kita bisa merujuk pada pandangan Konrad Lorenz dalam On Agression 1966 yang menjelaskan bahwa kecenderungan kita terhadap perang nuklir dan kekejaman kekejaman yang lainnya bukan disebabkan oleh faktor faktor biologis diluar kendali kita seperti kondisi sosial politik dan ekonomi yang kita ciptakan melainkan digerakkan oleh naluri insting manusia sebagai sumber energi yang selalu mengalir dan harus selalu dialirkan Jadi itu semua terjadi tidak selalu merupakan akibat dari reaksi terhadap rangsangan luar Lorenz berpendapat bahwa energi khusus untuk tindakan naluriah instingtif manusia mengumpul secara kontinyu terus menerus dipusat pusat syaraf yang ada kaitannya dengan pola tindakan yang dilakukan manusia termasuk tindak kekerasan Bagaimana yang bersifat eksternal Ia berasal dari luar diri manusia sebagai stimulus rangsangan tindak kekerasan Ini dapat kita lihat pada pandangan sekelompok filsuf yang bertentangan secara diametris dengan pendapat Lorenz tentang akar kekerasan yang bersifat naluriah instingtif Mereka menyatakan bahwa kekerasan merupakan bentuk manifestasi dari stimulus rangsangan yang diperoleh manusia dari luar dirinya Secara umum pandangan ini dianut oleh kaum environmentalis Tindakan manusia secara eksklusif termasuk tindak kekerasan diciptakan oleh faktor faktor lingkungan yakni oleh kondisi sosial politik ekonomi budaya dan sebagainya jadi bukan oleh faktor faktor bawaan yang bersifat naluriah tadi Hal ini ada benarnya juga terutama bila dikaitkan dengan fenomena kekerasan yang merupakan salah satu penghambat kemajuan manusia Pandangan ini dalam bentuknya yang radikal dikemukakan oleh para filsuf era pencerahan Manusia menurut para filsuf Pencerahan diseyogyakan terlahir baik dan bernalar Sementara itu yang membuat mereka memiliki tabiat jahat adalah keberadaan institusi struktur dan realitas di luar diri manusia yang memperlihatkan teladan teladan buruk Dalam perspektif khusus terorisme global kemungkinan jawaban terhadapnya menurut Habermas Constantinus Fatlolon 2016 adalah sejauh modernitas ditempatkan dalam sebuah cara yang seimbang dengan pandangan pandangan tradisional dan pandangan pandangan religius Dalam pandangan Habermas sebuah hubungan harmonis dan saling pengertian dapat tercapai apabila dialog tidak menjadi alat strategis untuk mendorong salah satu pihak mengadopsi pandangan atau mengakomodir tuntutan tuntutan politik pihak lain Teori tindakan komunikatif demikian Habermas menyebutnya akan memberikan kita sebuah gambaran untuk terlibat dalam diskursus dengan perilaku inklusif untuk mencapai saling pemahaman dan konsensus melalui kekuatan tanpa kekerasan berdasarkan argumentasi yang lebih baik Habermas menolak intervensi militer untuk mengatasi problem terorisme global Menurutnya terorisme global dapat diatasi melalui sebuah desentralisasi representasi diri yang normatif dan dialog inter religius Desentralisasi representasi diri yang normatif dapat mengantar kaum teroris dan Barat untuk merelativisir perspektif perspektif mereka dan terlibat dalam sebuah pertukaran perspektif secara simetris yang bebas dari segala bentuk distorsi Relativisasi perspektif juga harus terjadi dalam dialog antar religius Prinsip dasar sesungguhnya adalah praktik diskursus rasional

Tinggalkan Balasan