fikih peradaban
fikih peradaban

Indonesia dan Peran Fikih Peradaban

“Islam adalah kekuatan spiritual, intelektual, emosional dan material peradaban”, tulis ulama Mesir Abdel Mun’im al-Qi’iy dalam kitabnya “Qonun al-Fikr al-Islami”. Singkat tapi memuat ruh moderasi Islam, termasuk moderasi politik yang jauh dari sentimen radikal dan liberal. Ruh ini perlu ada dan mewarnai  dunia nyata dan maya. Dalam narasi fikih, moderasi politik Islam merupakan fikih peradaban atau dalam bahasa Arab disebut fiqhul hadlarah. Ada yang menawarkan istilah fiqh ushul al-hadlarah. Kedua istilah ini muncul sebagai respon atas kondisi dunia paska kekhilafahan Turki Usmani dan meningkatnya kesadaran peran peradaban umat Islam.

Fikih peradaban mulai diperbincangkan setelah ketiadaan negara-negara Islam (duwal Islamiyah) dan kokohnya negara bangsa (nation-state). Sebagai mementum global dan kebutuhan masyarakat, fiqhul hadlarah disebut jauh lebih penting dari fiqhul thaharah (fikih bersuci). Fiqhul hadlarah hanya bisa dikaji oleh para ulama dan membutuhkan kerja kolektif bukan personal. Di Indonesia, diskusi fikih peradaban sedang digarap oleh Nahdlatul Ulama (NU).

Moderasi beragama menuntut umat Islam untuk terus belajar atau mempelajari hal-hal yang akan dia lakukan dalam konteks peradaban sebelum bicara dan bertindak. Di era medsos, kesalahpahaman agama bisa berakibat fatal bagi persatuan dan kesatuan. Terlebih masalah politik Islam dan moderasi yang membutuhkan kejelian tingkat tinggi terhadap realitas  keberagaman dan keberagamaan. Prof. Abdullah Ahmed An-Naim seorang warga Sudan yang mengajar di Emory University terkesima dengan  realitas keberagaman dan  keberagaman di Indonesia. Dalam konteks sekarang dan pengalaman berkompromi yang dimiliki, Indonesia pantas menjadi corong fikih peradaban dunia.

“Fikih Peradaban” adalah dua kata yang “meluncur” besar-besaran menjelang Abad Kedua NU di Indonesia. Dua kata ini mencerminkan perpaduan tata nilai, tata kelola dan tata sejahtera yang harus dijaga keseimbangan dan keharmonisannya. Tatanan ini dibutuhkan untuk mewarnai  institusi pendidikan (ilmu), peradilan (keadilan) dan ekonomi (harta) sebagai pilar atau arkaan peradaban yang merujuk al-Qur’an sebagai hudan lin Naas, petunjuk bagi umat manusia, bukan hanya umat Islam.

Baca Juga:  Ragam Demonstrasi Menurut Imam Al Ghazali

Kata Fikih bisa diartikan luas yaitu pemahaman (agama), bisa juga sempit yaitu hukum. Dalam kamus Indonesia, konotasi fikih adalah islami sehingga penyebutan Fikih Peradaban secara otomatis membawa semangat atau peran tersendiri umat Islam. Dalam tradisi Arab, kata fikih berlaku umum dan mencakup hukum-hukum positif atau buatan manusia seperti fikih konvensional yang kemunculannya dinegasikan dengan fikih Islam atau fenomena nama lembaga keulamaan resmi di Sudan yaitu “Majma Fiqh Islami” yang menambahkan kata “Islami”. Artinya kata fiqh yang berasal dari bahasa Arab belum tentu merujuk pada agama Islam.

Kata fikih menarik untuk digunakan sebagai sarana mewadahi  ajaran Islam yang universal. Liga Muslim Dunia ketika merespon wabah Covid-19 mengangkat tema muktamar internasional “Fikih Darurat”. Demikian juga kata Peradaban, Qatar mengangkat tema  “Peran Peradaban Umat Islam di Dunia Mendatang” dalam muktamar internasionalnya. Iran dan Irak mengangkat tema “Dialog Peradaban” sebagai narasa tandingan untuk menghapus narasi “Konflik Peradaban” yang sudah viral sebelumnya.

Fikih Peradaban merupakan salah satu “senjata” advokasi sosial di tingkat global dalam mencapai kesepakatan dan kemaslahatan universal dengan jalan menutup peperangan sama sekali. Termasuk dalam hal ini perang proksi seperti sosialisme dengan kapitalisme, Sunni dengan Syiah atau sipil dengan militer. Selain itu, Fikih Peradaban juga membuka ruang kolaborasi para penggerak dunia Islam demi menyelamatkan umat Islam dari industrialisasi Islamphobia dan umat manusia dari polariasi hitam dan putih atau perang dan damai.

Pemikir Kenamaan Mesir Mohamed Imarah dalam bukunya “Fiqh al-Hadlarah al-Islamiyah” menyebut Syariat Islam tidak hanya berkontribusi bagi umat Islam, melainkan juga bagi umat manusia keseluruhan. Titik tolaknya adalah spirit ijtihad yang disalurkan melalui koridor fikih dan fitrah keseimbangan manusia antara akal, nash, eksperimen dan intuisi. Menurutnya, proses memahmi sunnah Nabi Saw dalam membangun fikih peradaban semestinya ditempuh dengan kesadaran sejarah bukan sekedar “pembacaan” sejarah. Dirinya mengutip pesan Imam Ali bin Abi Thalib ketika bertanya kepada Nabi Muhammad Saw tentang Sunnahnya, Nabi menjawab: “akal adalah dasar agamaku”.

Dari kalangan Syiah, Sayed Sistani menggaungkan fikih peradaban secara aplikatif melalui metodologi fatwa. Menurutnya, tuntutan manusia terus berkembang dan pintu ijtihad tetap terbuka dengan mencairkan kebekuan berfikir yang tidak relevan dengan kebutuhan. Perpustakaan umat Islam perlu diperkaya dengan kajian-kajian fikih peradaban sebagai bentuk kecemburuan agama, terlebih kalangan muda yang intens berinteraksi dengan masalah kontemporer.

Baca Juga:  Perkataan Kotor Tidak Akan Lahir dari Hati dan Pikiran yang Bersih

Nabi Muhammad Saw mencontohkan bagaimana agama dan negara dijalin seimbang sebagaimana Islam adalah agama dan negara. Kebutuhan harmonisasi tanpa terganggu oleh fitrah perbedaan merupakan inti masalah fikih peradaban. Setiap kerja kelompok atau institusional dalam mengangkap peran peradaban umat Islam di Indonesia akan memberikan inspirasi perdamaian bagi yang lain, terutama bagi tatanan dunia baru yang melibatkan komponen-komponen penting didalamnya, baik komponen pendidikan (ilmu), peradilan (adil) maupun komponen ekonomi (harta).

Kajian fikih peradaban di Indonesia akan memberikan sumbangsih bagi tatanan dunia baru tanpa ketegangan. Setidaknya gagasan-gagasan besar ulama Indonesia bisa didiskusikan dan dirumuskan dengan penuh adab (tatakrama) untuk warisan generasi mendatang. Gagasan (pemikiran) ibarat burung merpati, jika tidak didekati dengan adab maka akan terbang lari tak akan kembali.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Avatar of Ribut Nurhuda
Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

prasangka

Cara Ulama Salaf Melawan Prasangka Buruk

Prof. Jamal Faruq seorang ulama al-Azhar Mesir mengutip pernyataan Syekh Abderrahman Habankah al-Maidani bahwa diharamkannya …

Sanad ilmu agama

Keistimewaan Sanad Ilmu Agama di Era Ledakan Informasi

Ledakan informasi menjadi keniscayaan seiring meluasnya digitalisasi. Generasi milenial atau zilenial semakin terlatih dalam mengakses …