Ali Bin Abi Thalib

Bid’ah Hasanah (4) : Ali Ibn Abi Thalib Membiarkan Umat Shalat Sunnah sebelum dan setelah shalat id

Aku adalah Kota Ilmu Pengetahuan, Sementara Ali Ibn ABi Thalib adalah gerbangnya, siapa yang hendak mendapatkan ilmu pengetahuan, datangilah ia dari pintu gerbannya”. HR. Thabarani, 11061.

Tidak perlu diragukan kapasitas Ali Ibn ABi Thalib sebagai seorang intelek handal, karena intelektualitasnya, diikrarkan langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama. Secara tersirat, Nabi hendak menegaskan bahwa apa yang diputuskan oleh Ali, nyaris sama dengan apa yang diputuskan oleh Nabi. Lantaran ia diibaratkan pintu gerbang ilmu pengetahuan oleh Nabi, sementra Nabi sendiri adalah kotanya. Miniature keindahan kota, akan terekam jelas dari pintu gerbangnya.

Dalam konteks ibadah, Ali berani mengambil keputusan untuk membiarkan praktik ibadah itu dilaksanakan. Walaupun sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Contohnya shalat sebelum dan setelah shalat id. Apakah bukan bid’ah?! Jelas ini bid’ah! Tetapi kenapa kok dibiarkan oleh Ali ? ini jawabannya.

حدثنا إبراهيم بن سعيد الجوهري ، قال : نا إبراهيم بن محمد بن النعمان الجعفي أبو إسحاق ، قال : سمعت الربيع بن سعيد الجعفي ، قال : نا الوليد بن سريع ، مولى عمرو بن حريث ، قال : خرجنا مع أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضي الله عنه في يوم عيد ، فسأله قوم من أصحابه ، فقالوا : يا أمير المؤمنين ما تقول في الصلاة يوم العيد قبل الإمام وبعده ؟ قال : فلم يرد عليهم شيئا ، ثم جاء قوم آخر ، فسألوه كما سألوه الذين كانوا قبلهم ، فما رد عليهم ، فلما انتهينا إلى الصلاة صلى بالناس ، فكبر سبعا وخمسا ، ثم خطب الناس ، ثم نزل فركب ، فقالوا : يا أمير المؤمنين هؤلاء قوم يصلون ، قال : فما عسيت أن أصنع سألتموني عن السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم لم يصل قبلها ولا بعدها ، فمن شاء فعل ، ومن شاء ترك ، أتروني أمنع أقواما يصلون ، فأكون بمنزلة من يمنع عبدا أن يصلي ” . وهذا الحديث لا نعلمه يروى عن عمرو بن حريث ، إلا من هذا الوجه بهذا الإسناد ، ولا نعلمه يروى عن علي إلا من هذا الوجه متصلا

Baca Juga:  Sejarah Perkembangan Fikih: Ikhtiar Ulama Mendialogkan Islam dengan Realitas

Menceritakan kepada kami Ibrahim Ibn Sa’id al-Jauhari, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Nu’man al-Ju’fiy Abu Ishaq, ia berkata: aku mendengar Rabi’ Ibn Sa’id al-JU’fiy berkata: menceritakan kepada kami al-Walid Ibn Sari’, seorang sahaya dari ‘Amr Ibn Harits, ia berkata: kami pernah keluar bersama Amirul Mu’minin Ali Ibn Abi Thalib di hari id. Lantas datanglah bebera orang dari sahabat beliau mengajukan pertanyaan. “apa pendapatmu tentang shalat sebelum shalat id dan setelah shalat id?” namun Ali Ibn Abi Thalib sedikitpun tidak memberikan komentar apa apa.  

Kemudian datang lagi beberapa menyakan hal yang sama pada beliau. Dan beliaupun tidak menjawabnya. Setelah kami tiba di tempat shalat id, beliau shalat sebagai imam. Beliau bertakbir tujuh kali dan lima kali. Lalu beliau menyampaikan khutbah id. Setelah turun dari mimbar beliau menaiki kendaraannya. Lalu para jamaah bertanya kepada beliau. Wahai Amirul Mu’minin, mereka melakukan shalat setelah shalat id ! Aku tidak bisa berbuat apa apa jika kalian bertanya tentang sunnah. Karena nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama tidak pernah melakukan shalat sebelum ataupun setelah shalat id.

Barang siapa yang hendak melakukannya, lakukannlah ! siapa yang hendak meninggalkan, tinggalkanlah ! aku tidak akan melarang seseorang yang akan melakukan shalat, karena aku tidak ingin tergolong orang orang yang menghalangi seseorang untuk melakukan shalat. (komentar al-Bazzar tentang hadits ini: kami tidak pernah mengenal hadits ini diriwayatkan oleh ‘Amar Ibn Harits kecuali hadits dengan sanad seperti ini. Dan juga kami tidak pernah mengenal hadits ini diriwayatkan dari Ali kecuali dengan sanad yang muttashil (bersambung seperti ini). Musnad al-bazzar. No. 487 (2/129)

Baca Juga:  Ali bin Abi Thalib: Peletak Dasar Ilmu Pengetahuan Islam

Ali Ibn Abi Thalib, Sang Khalifah Keempat, berani mengambil keputusan untuk melakukan “pembiaran” terhadap praktik shalat sebelum dan setelah shalat id. Karena Ali Ibn Abi Thalib menilai shalat tersebut adalah perbuatan baik, kendatipun tidak pernah dipraktekkan oleh dan di masa Rasulullah. Secara tidak langsung, Ali Ibn Abi Thalib hendak menegaskan bahwa sesuatu yang belum pernah dilakukna oleh Rasulullah belum tentu salah dan tercela. Dengan kalimat lain, bid’ah ada yang hasanah (baik) ada pula yang sayyi’ah (buruk). Yang hasanah jangan dicegah untuk menjadi ranah ibadah. Tetapi yang sayyi’ah lebih laik untuk distop agar tidak menimbulkan fitnah dalam ibadah.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo