Alquran
Alquran

Cara Rasulullah Mengajarkan al-Quran Kepada Sahabat

Tidak dipungkiri, sebagaimana cantum dalam ushul fikih karya Abdul Wahhab Khalaf, al Qur’an, kalam Allah, adalah mu’jizat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril dan membacanya mendapat pahala.

Sebagai mu’jizat, al Qur’an memiliki keunikan dan keistimewaan yang tak bisa ditandingi oleh akal manusia (khariqun ‘an al ‘adah). Pilihan diksi kata, pola atau struktur kalimat, gaya bahasa, ritme, keindahan retoris dan sebagainya tidak ada tandingannya. Tidak ada satupun bahasa manusia di planet bumi yang menyamainya, apalagi melampauinya. Ini menjadi salah satu bukti kongkrit penuzulan al Qur’an benar-benar dari Allah.

Karena itu, makna kandungan al Qur’an tidak bisa diwakili oleh sebuah terjemahan manusia. Manusia tidak bisa menghasilkan al Qur’an versi bahasa Indonesia, atau versi Arab sekalipun. Terjemahan adalah sebagian makna saja. Ini, sekali lagi menegaskan kepada kita, bahwa al ruju’ kepada al Qur’an tidak semudah yang dibayangkan. Harus melalui tafsir-tafsir yang ditulis oleh para ulama yang memiliki otoritas keilmuan memadai dan memiliki sanad (ketersambungan) keilmuan yang tak diragukan.

Menterjemahkan atau menafsirkan al Qur’an dengan sekehendak sendiri dikhawatirkan akan memutar balikkan makna dari yang sebenarnya. Karenanya, walaupun membaca al Qur’an mendapatkan pahala, tidak boleh final disitu. Al Qur’an tidak cukup hanya dibaca atau dihafalkan. Harus lebih dari itu, yakni mengetahui makna yang dikandungnya. Untuk memahami kandungannya harus belajar atau membaca karya-karya ulama. Itupun harus benar-benar ulama yang kredibel.

Anjuran tidak hanya membaca atau menghafal teks-teks kalam Allah, tetapi juga harus memahami penafsirannya banyak dijumpai dari kisah sahabat ketika belajar al Qur’an kepada Rasulullah. Seperti termaktub dalam kitab Tafsir Muqatil bin Sulaiman.

Baca Juga:  Meneladani Ibnu Abbas : Sahabat Terpandai di Masanya

Diriwayatkan dari Hudzail bin Kilabah, dari Ibnu ‘Abbas, ia menuturkan, “Allah tidak menurunkan al Qur’an kecuali untuk diketahui ta’wilnya. Dan Dia senang pada yang demikian”.

Ubaidillah berdasar riwayat dari Sufyan al Washiti menjelaskan, “Perumpamaan orang yang membaca al Qur’an tapi tidak mengerti tafsirnya seperti orang yang diberi kitab kemudian manusia mengaguminya, ia bergembira dengan pujian itu, kemudian ia meminta seseorang untuk membacanya, tetapi tidak ada seorangpun yang membacakan untuknya, sementara dirinya tidak bisa membacanya.

Ilustrasi ini menggambarkan al Qur’an tidak berfungsi sama sekali kalau hanya dibaca tanpa mengetahui makna atau tafsirnya. Kemuliaan al Qur’an sirna ditangan mereka yang hanya membaca al Qur’an namun tidak memahami penafsirannya.

Karena itu, setiap kali Rasulullah mengajarkan al Qur’an kepada para sahabatnya, beliau mengajarkan sekaligus dengan tafsirnya. Membaca beberapa ayat saja kemudian dilanjutkan dengan penafsirannya. Setelah itu baru melangkah pada ayat berikutnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, “Ketika Rasulullah mengajarkan sepuluh ayat al Qur’an kepada kami, kami tidak melanjutkan terhadap ayat berikutnya kecuali setelah memahami tafsirnya”.

Tradisi ini seringkali kali alfa disebagian kalangan muslim. Lupa kalau Rasulullah mengajarkan al Qur’an kepada para sahabat-sahabatnya sekaligus dengan penafsirannya. Kealfaan seperti ini yang dikemudian hari menimbulkan situasi runyam. Terjemahan al Qur’an kemudian menjadi satu-satunya solusi memahami kandungan makna makna ayat per ayat. Akibatnya, kesalahan menafsirkan al Qur’an seringkali terjadi. Lebih fatal lagi, penafsiran yang keliru tersebut diasumsikan sebagai kebenaran final dan menuding penafsiran kelompok lain salah. Misalnya, kelompok jihadis yang memaknai jihad hanya melulu perang. Akibatnya adalah paham radikalisme menyelimutinya. Kemudian menjadi teroris.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

ali bin abi thalib

Enam Ahli Fikih pada Masa Sahabat: Ali bin Abi Thalib (2)

Selain Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang juga memiliki keahlian dalam bidang hukum Islam atau …

umar bin khattab

Enam Ahli Fikih pada Masa Sahabat: Umar bin Khattab (1)

Enam al Faqih (ahli fikih) dari kalangan sahabat Nabi ini ditulis oleh Mana’ al Qaththan …