isra' mi'raj
isra miraj

Catatan Sayyid Muhammad Alawi al Maliki (3): Sesaat Sebelum Rasulullah Berangkat ke Masjidil Aqsha

Malam itu, tanpa memberi kabar lebih dulu, Jibril mendatangi salah satu di Mekah, rumah dimana disitu ada Rasulullah. Lalu, ia membawa Nabi ke Masjidil Haram. Di Hijr Ismail, dibantu malikat Mikail, Jibril membelah dada Nabi dan membersihkannya dengan air zam-zam sebanyak tiga kali. Operasi yang dilakukan oleh Jibril ini merupakan kali keempat. Pertama dilakukan di Bani Said sewaktu Nabi masih kecil, kedua kalinya disaat beliau umur sepuluh tahun, ketiga kalinya ketika diangkat sebagai Nabi/rasul.

Operasi ini nyata (seperti operasi medis saat ini). Suatu operasi bedah seperti yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Allah Maha Kuasa untuk melakukan apapun. Peristiwa luar biasa ini memang tidak bisa dinalar secara akal. Dikisahkan oleh para ulama, Jibril mengeluarkan hati Nabi dan membasuhnya tiga kali dengan air zam-zam dengan tujuan menghilangkan segala penyakit hati. Satu riwayat mengatakan, Jibril membuang gumpalan hitam yang ada di hati Nabi. “Inilah bagian setan yang ada padamu”, kata Jibril. Menurut Syaikh al Dardir maknanya adalah tempat setan membisikkan rasa was-was untuk menguasai Nabi ketika ada kesempatan untuk itu.

Namun, menurut Imam al ‘arif Billah Sayyid Ali al Habsyi, tujuan pembedahan dada Nabi dan membuang pengaruh setan (hadzdzu al syaithan) adalah untuk menyempurnakan kesucian hati Nabi Muhammad. Sebab, hati Nabi merupakan sumber rahmat sebagimana disebutkan oleh al Qur’an (al Anbiya: 107). Karenanya, tidak ada peluang/bagian setan dalam hati Baginda Nabi.

Setelah itu, Jibril memberikan tanda kenabian di tubuh Nabi. Inilah yang masyhur dengan stempel kenabian. Yaitu, daging kecil yang ditumbuhi bulu di bagian atas bahu kiri Nabi. Menurut satu riwayat, stempel kenabian itu hilang (diangkat oleh Allah) ketika beliau wafat.

Baca Juga:  Isra Miraj: Momentum Perkuat Komitmen Perjuangan Bangsa Melawan Radikalisme dan Terorisme

Inilah persiapan sebelum Nabi berangkat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Perjalanan yang sangat membahagiakan Nabi setelah ditinggal wafat istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Disamping perjalanan penting karena akan menerima perintah shalat langsung, perjalanan ini merupakan perjalanan yang memang dikhususkan untuk menghibur hati Nabi setelah dirundung kesedihan mendalam karena meninggalnya dua orang terkasihnya yang segenap harta dan jiwa raga diwakafkan untuk kepentingan agama Islam.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

silaturrahmi non muslim

Silaturahmi Kepada Orang Tua dan Saudara Non Muslim, Bolehkah?

Meskipun hari raya Idul Fitri telah berlalu, namun sebagian masyarakat muslim tetap memanfaatkan momentum Syawal …

shalat saat adzan

Shalat Saat Adzan Dikumandangkan?

Tujuan azan adalah untuk memanggil umat shalat berjamaah, sekaligus penanda waktu shalat telah tiba. Seperti …