isra' mi'raj
isra miraj

Catatan Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki (2): Apakah Nabi Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad?

Isra’ berarti perjalanan Nabi pada malam hari dari Masjidil haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Yerussalem). Adapun Mi’raj berarti naik ke langit (Sidratul Muntaha). Perjalanan yang sangat jauh itu dilakukan oleh Nabi hanya dalam waktu kurang dari semalam. Akibatnya, ketika beliau menceritakan perjalanannya itu banyak yang tidak percaya, bahkan mengolok-olok Nabi sebagai tukang tipu. Terutama Abu Jahal dan kawan-kawannya. Beberapa muallaf bahkan murtad karena menganggap Nabi pembual. Dalam penilaian akal mereka cerita Isra’ dan Mi’raj merupakan sesuatu yang mustahil.

Tetapi mereka yang beriman langsung percaya. Dalam keimanan mereka tidak ada yang mustahil kalau yang menghendaki adalah pencipta semesta. Sehingga seperti Abu Bakar dan sahabat-sahabat senior yang lain langsung percaya kepada cerita Nabi yang telah melakukan Isra’ dan Mi’raj dalam waktu semalam.

Namun demikian, masih ada pertanyaan apakah Nabi Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasad, atau hanya ruh saja?

Pertanyaan ini dibahas tuntas oleh Sayyid Muhammad Alawi bin Abbas al Maliki al Makki al Hasani dalam karyanya al Anwar al Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khairil Bariyyah.

Dijelaskan dalam kitab tersebut, ulama sepakat bahwa Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasad sekaligus, dalam keadaan sadar dan bukan sedang tidur (mimpi). Hal ini berdasarkan makna ayat al Qur’an surat al Isra’ ayat 1 dan beberapa hadis. Dan, secara akal adalah mungkin karena apabila Allah berkehendak segalanya menjadi mudah.

Kata “abdu” dalam surat al Isra’ayat 1 secara hakikat bermakna ruh dan jasad. Makna ini seperti dijelaskan dalam surat al Najm ayat 17, “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya”. Artinya, Nabi tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak pula melampaui apa yang dilihatnya pada malam ketika beliau Isra’ dan Mi’raj. Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa Nabi melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan jasadnya, dalam keadaan terjaga, bukan tidur. Karena, apabila ada kalimat yang diidofahkan (digandengkan) kepada kalimat “bashar” bermakna terbangun dan melihat dengan jasadnya (bukan melihat dalam mimpi), melihat dengan indera mata.

Baca Juga:  Sibuk Investasi di Dunia, Jangan Lupakan 7 Invetasi Terbaik untuk Akhirat

Surat al Najm ayat 18 lebih mempertegas hal ini. “Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhan-Nya yang sangat besar”.

Seandainya Nabi Isra’ dan Mi’raj hanya ruhnya saja (jasadnya tidur) tentu tidak layak disebut tanda kebesaran Allah, bukan pula mu’jizat. Kalau hanya ruh semua orang akan mudah percaya, sekalipun mimpi para Nabi adalah wahyu. Sebab, apa yang terjadi dalam mimpi bukan suatu yang ajaib dan luar biasa.

Seandainya Nabi menceritakan dirinya Isra’ dan Mi’raj dalam mimpi (ruhnya saja), niscaya orang-orang Arab akan percaya dan para muallaf ketika itu tidak akan murtad. Ketidak yakinan para muallaf dan orang-orang kafir Quraisy karena Nabi menceritakan perjalannya dengan jasadnya dan dalam keadaan sadar.

Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, Imam Bukhari dan Sa’id bin Mansur menafsirkan ayat “Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia” (al Isra’: 60), Nabi melihat kebesaran Allah pada malam Isra’ dan Mi’raj dengan mata kepalanya. Sa’id menambahkan, bukan melihat dalam mimpi.

Cukup jelas, dalil-dalil tersebut sebagai hujjah bahwa Nabi melakukan Isra’ dan Mi’raj dengan ruh dan jasad. Karenanya, ulama sepakat bahwa perjalanan ajaib dan fenomenal tersebut dilakukan oleh Nabi dengan ruh dan jasadnya. Bukan dalam keadaan tidur atau lewat mimpi.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

jalan kaki ke jumatan

Dianjurkan Berjalan Kaki Ketika Hendak Shalat Jum’at

Teknologi mutakhir semakin memudahkan dan memanjakan seseorang. Contoh, alat transportasi sepeda motor dan mobil membuat …

nikah atau naik haji

Menikah atau Naik Haji Dahulu?

Umat Islam kini lega karena bisa melaksanakan ibadah haji setelah dua tahun pelaksanaannya ditiadakan atau …