husnul khotimah
husnul khotimah

Cerita Khusnul Khatimahnya Seorang Ahli Maksiat

Dalam kehidupan di dunia, manusia jangan mudah menjadi hakim untuk manusia lainnya. Karena apapun yang nampak dari seseorang itu tidak bisa menggambarkan keseluruhan kepribadian orang tersebut. Kadangkala orang yang kesehariannya terlihat buruk di mata umum, tapi ternyata matinya husnul khatimah. Begitu juga sebaliknya. Penilaian sepihak tersebut sebab keterbatasan manusia itu sendiri.

Sesungguhnya ada banyak sekali cerita-cerita yang terjadi dalam kehidupan seperti kasus di atas. Dan selayaknya cerita-cerita tersebut harus diambil pelajaran agar kita sebagai manusia hati-hati dalam menilai seseorang. Di bawah ini adalah salah satu cerita yang berkenaan dengan kekeliruan penilaian masyarakat terhadap seseorang.

Diceritakan dalam kita Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali yang masyhur itu, ada seorang laki-laki yang hidup terkesan waktunya dihabiskan untuk bermaksiat. Suatu hari laki-laki yang bergelimang dosa itu meninggal di pinggiran kota Bashrah.

Celakanya, kebiasaan buruknya itu membuat tetangga dan masyarakat sekitar acuh tak acuh atas kematiannya. Sehingga istri dari laki-laki tersebut tidak menemukan orang yang mau membantu membawa dan mengiringi jenazah suaminya ke masjid dan pemakaman. Terpaksalah istrinya membayar dua orang untuk membawa jenazah tersebut.

Setelah dimandikan dan dikafani, maka dibawalah jenazah tadi ke masjid. Di sana pun tak seorangpun yang menyambut dan bersedia menshalatinya. Orang-orang terlihat seperti pura-pura seolah tidak terjadi sesuatu. Istrinya pun dengan perasaan bertambah sedih, akhirnya memutuskan untuk segera membawa jenazah suaminya ke pemakaman.

Sementara itu, di sebuah bukit yang lokasinya bersebelahan dengan pemakaman, ada seorang ulama besar yang nampak seperti menunggu seseorang. Ternyata beliau ingin menshalati jenazah yang akan melewati tempat tersebut. Kabar ulama besar akan menshalati jenazah seseorang lantas segera terdengar ke seantero Bashrah.

Baca Juga:  Zaid bin Khattab: Syuhada Yamamah Pembasmi Fitnah

Kemudian dalam waktu singkat orang-orang pun beramai-ramai datang untuk ikut serta menshalati jenazah seorang yang belum diketahui mereka. Selain itu, mereka juga penasaran sebenarnya jenazah siapakah yang mendapat kehormatan disholati oleh ulama besar. Setelah selesai menshalati, orang-orang dibuat keheranan dan takjub. Ternyata jenazah yang mereka shalati adalah orang yang mereka kenal sebagai ahli maksiat.

Salah seorang dari mereka lalu bertanya kepada ulama besar tersebut. “Apa yang membuat anda bersedia datang jauh-jauh ke tempat ini dan menshalati jenazah ini?” Dengan tenang, ulama besar itu menjawab, ada yang berkata dalam mimpiku, “Datangilah bukit di sebelah pemakaman. Di sana kamu akan melihat jenazah yang pengiringnya hanya satu orang perempuan. Shalatilah dia, karena dia orang yang mendapatkan ampunan.”

Mendengar jawaban ulama besar tadi, maka bertambahlah ketakjuban orang-orang yang hadir di tempat itu. Ulama besar yang sedari tadi melihat fenomena keheranan orang-orang di situ, kemudian beliau memanggil istri almarhum dan menanyakan keseharian suaminya dan perjalanan hidupnya.

Dengan nada sedih, Istri jenazah ini menjawab, “Dia ahli maksiat seperti yang sudah dikenal di kota ini. Sepanjang hari dia menghabiskan waktunya untuk bermaksiat dan minum arak.” Belum puas dengan jawaban perempuan itu, segera ulama besar itu bertanya lagi, “Coba anda ingat-ingat dan perhatikan lagi, apakah ada amal kebaikan yang dia lakukan semasa hidupnya?”

Perempuan itu menjawab, “Iya setahuku hanya tiga hal yang menurutku tergolong amal kebaikan yang pernah ia lakukan. Yang pertama, setiap dia sadar dari mabuknya pada waktu shubuh, dia mengganti bajunya, berwudhu dan melaksanakan shalat subuh berjamaah. Setelah itu ia kembali mabuk dan ahli maksiat.

Yang kedua, di rumah selalu ada setidaknya satu atau dua anak yatim yang kami asuh. Ia memperlakukan dengan baik anak yatim itu melebihi kepada anaknya sendiri sekalipun. Yang ketiga, jika ia sadar dari mabuknya di tengah gelap malam, ia lalu menangis dan meratap, “Ya Allah, di bagian neraka jahanam manakah Engkau akan menempatkan hambaMu yang kotor penuh dengan maksiat ini.”

Baca Juga:  Kesederhanaan Nabi Muhammad Saw

Puas mendengar penjelasan perempuan tadi, sang ulama besar itu kemudian pulang. Setidaknya beliau sudah mengetahui dengan sangat jelas peristiwa aneh yang terjadi di siang hari itu. Beliau bersyukur atas diterimanya ampunan jenazah laki-laki tadi dari Allah SWT  yang menandakan ia mati dengan status khusnul khatimah. Dan masyarakat pun jadi tahu apa yang sebenarnya jenazah laki-laki itu lakukan semasa hidupnya.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

ilustrasi masjid tempat ibadah umat

Bersemangatlah dalam Beribadah (2): Cara Menghindari Kemalasan

Dalam tulisan sebelumnya, sudah dijelaskan betapa Allah SWT menganugerahkan kemurahan dan kemudahan kepada kita untuk …

ibadah

Bersemangatlah Dalam Beribadah (1): Tiada Kesukaran dalam Agama

Allah memerintahkan kita beribadah, pastilah itu bermanfaat dan baik untuk kita sendiri. Tak mungkin ada …