hakikat cinta

Cinta Butuh Logika, Jangan Membabi Buta

Cinta bila tak dilandas-tumpukan pada batu bata logika ilmiah, akan cenderung berulah dan membabi buta. Cinta model ini, cenderung memberikan pembelaan tak bermadzhab. Apa saja yang dilakukan yang dicintainya adalah kebenaran, walaupun sejatinya salah.

Ketika cinta membabi buta tidak ada kata salah bagi yang dicintai. Salah dan dosapun akan dibela karena dasar cinta. Yang dicintai seolah ma’shum tanpa salah dan dosa. Seolah dosanya pun mau ditanggung oleh pegikutnya. Itulah kekuatan cinta yang buta.

Cinta bagaikan secangkir kopi tanpa gula. Apabila ia tidak diberi sentuhan gula maka pahitlah rasanya. Namun sebaliknya apabila ia diberikan sentuhan gula maka manislah rasanya. Gula itu adalah ungkapan dari nalar pikir manusia. Agar perasaan cinta itu menjadi berkompas dan terarah. Bukan semata melampiaskan nafsu belaka.

Ungkapan bahwa harus (wajib) mencintai Habaib, kapasitasnya sebagai dzurriyyah Rasul, itu benar adanya. Namun perasaan cinta itu tidak boleh dbiarkan liar tanpa panduan. Bagaimana lalu panduan cinta dalam agama Islam?

Cinta menurut Nabi adalah sesuatu yang sangat berbahaya yang mampu melenyapkan kekuatan fisik dan psikis manusia. Sabda Nabi

عن أبي الدرداء ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” حبك الشيء يعمي ويصم

Dari Abu Darda’, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama Beliau bersabda: “Cinta akan membuatmu buta dan tuli”. HR: Ahmad: 21165‏

Menurut Dr. Sayyid Muhammad Nuh, cinta yang digambarkan Nabi di atas adalah cinta yang dilandaskan kepada syahwat belaka, tanpa panduan dan arahan dari akal budi manusia. Akibatnya, dalam pandangan Ibnu Hajar al-Haitami, pemiliknya, (yang mencintai) akan menjadi posesif dan loba. Afat ‘Ala al-Thariq, 3/9. Al-Zawajir ‘Ala iqtiraf al-Kabair. 1/210

Baca Juga:  Hikmah Kisah Nabi Yunus: Haruskah Menunggu Ancaman Azab untuk Bertaubat?

Kalimat “lonte” yang sengaja dilontarkan oleh HRS. beberapa hari yang lalu, adalah kalimat kotor yang mestinya tak keluar dari lisan ulama dan teladan seperti HRS. Bagi para Pencintanya, itu dianggap wajar. Karena mereka tak mampu mengendalikan rasa cinta berlebihan yang bersemayam dalam dada mereka. Hingga walau salah, masih saja dibenarkan.  Mereka seakan dibutakan dengan rasa kagum berlebihan. Ditulikan oleh kharisma tak berpengetahuan dari pribadi HRS.

Oleh karena itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama sudah mewanti wanti jauh sebelumnya, agar jangan terlalu mencinta secara berlebihan :

ما عسى أن يكون بغيضك يوماً  ما وأبغض بغيضك هوناً ما عسى أن يكون حبيبك يوماً ما

Rasullah Saw, bersabda, “Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi musuhmu. Bencilah musuhmu sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu”. HR: Thabrani: 3395

Secara tersirat, Nabi hendak mengatakan cinta haruslah dipandu oleh akal budi manusia, agar tak bingung mencari kiblat kebahagiaan. Karena bila cinta diumbar sesuai keinginan nafsu, maka akan selalu berakhir nestapa.

Mencintai Dzurriyyah Rasul (Habaib) haruslah dengan pengetahuan mumpuni. Agar tak mudah menyalahkan dan tak gampang membenarkan. Bila dua hal ini terjadi di Indonesia, Negara ini akan semakin runyam dan tak terdamaikan.

Tentu dengan cinta berbasis akal sehat menghormati dzurriyah Rasul karena kecintaan kita kepada Rasulullah. Begitu pun ketika dzurriyah Rasul melakukan kesalahan atas dasar cinta kepada Rasulullah, kita juga perlu memberikan nasehat, bukan justru membenarkan atas nama cinta.

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo