Operasi Cesar
Operasi Cesar

Melahirkan Melalui Operasi Cesar, Apakah Wajib Mandi Wiladah ?

Di antara sebab wanita wajib mandi adalah melahirkan, sekalipun yang dilahirkan hanya segumpal darah akibat keguguran[1]. Lebih-lebih ketika melahirkan disertai dengan darah, maka ulama sepakat kondisi melahirkan seperti itu hukumnya wajib mandi.

Jika kita mencari dalil apa yang melatarbelakangi wanita wajib mandi jika melahirkan maka tidak akan pernah ditemukan. Sebab itu, maka ulama berbeda pendapat tentang faktor yang mewajibkan orang melahirkan wajib mandi wiladah.

Ada dua faktor yang menyebabkan wanita melahirkan wajib mandi wiladah yaitu:

Pertama, karena darah wiladah (darah yang keluar dari farji wanita yang menyertai keluarnya bayi) diduga kuat adalah darah nifas. Akibat dugaan kuat ini yang menjadikan wanita melahirkan wajib mandi. Faktor ini dapat diumpamakan dengan tidur yang tidak menetap di tempat duduknya sebagai pembatal wudhu’ karena faktor diduga terjadi hadats. Sehingga menurut pendapat yang pertama ini, yang mewajibkan mandi bukan karena kelahiran itu sendiri tetapi karena darah wiladahnya yang diduga darah nifas.

Kedua, bayi yang keluar dari rahim wanita merupakan sperma yang menggumpal. Sehingga yang mewajibkan mandi karena dianggap keluar sperma, sementara keluar sperma wajib mandi sebagaimana hadits:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

Artinya: “Air dari air” (HR. Muslim dan lainnya)

Perbedaan pendapat tentang faktor yang mewajibkan mandi bagi wanita melahirkan sangat berpengaruh terhadap kelahiran melalui operasi cesar atau kelahiran yang tidak disertai darah.

Terkait dengan kelahiran melalui operasi cesar, jika berpatokan kepada pendapat yang pertama, hukumnya tidak wajib mandi, karena tidak ada darah yang perlu diduga sebagai darah nifas[2]. Darah bisa dikatakan sebagai darah nifas jika keluar dari farji, sementara pada operasi cesar darah tidak keluar dari farji, tetapi melalui perut. Dalam madzhab Hanafy secara tegas mengatakan darah kelahiran selama tidak keluar dari farji tidak disebut sebagai darah nifas, sebagai konsekwensinya maka tidak wajib mandi bagi yang melahirkan dengan cara demikian[3].

Baca Juga:  RUU Alkohol Menuai Polemik, Inilah Hukumnya dalam Islam

Kemudian, menurut pendapat yang kedua, tetap hukumnya wajib, sebab janin yang keluar merupakan wujud lain dari sperma yang menggumpal. Sementara sperma keluar dari manapun selama itu benar-benar sperma tetap mewajibkan mandi[4]. Dan pendapat yang kedua dianggap pendapat yang ashah dalam madzhab Syafi’i.

Di dalam kitab al Bajuri dijelaskan:

وَلَوْ وَلَدَتْ مِنْ غَيْرِ طَرِيْقِ الْمُعْتَادِ فَالَّذِيْ يَظْهَرُ وُجُوْبُ الْغُسْلِ

Artinya: “Seandainya wanita melahirkan melalui jalan yang tidak biasa (farji) maka berdasarkan qaur yang adzhar adalah wajib mandi”[5]

Kesimpulannya, menurut pendapat ulama yang mengatakan bahwa kelahiran mewajibkan mandi sebab ada dugaan darah nifas pada darah wiladah, berkesimpulan kelahiran melalui operasi cesar tidak wajib mandi karena tidak ada darah yang dapat diduga sebagi darah nifas. Sementara ulama’ yang mengatakan kewajiban mandi sebab bayi yang terlahir adalah sperma yang berubah wujud berpendapat kelahiran dari operasi cesar mewajibkan mandi.

Wallahu a’lam


[1] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 41, Hal 16

[2] Abu Bakar bin Muhammad al Husaini, Kifayah al Akhyar,  Hal 32

[3] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 41, Hal 16

[4] Ibn Qasim al Ghazi, Syarh Fath al Qarib, Hal 60

[5] Ibrahim al Bajuri, Hasyiyah al Bajuri, Juz 1, Hal 84

Bagikan Artikel

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember