Jakarta –  Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan untuk memboikot produk-produk dari Unilever yang mendukung gerakan gerakan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Tidak hanya MUI, banyak lembaga juga menyerukan hal serupa setelah Unilever mendapat kecaman di dunia maya terkait dukungannya itu.

Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin mengatakan, bukan hanya Unilever yang mendukung LGBT. Ada beberapa perusahaan yang mendukung LGBT.

“Kalau memang kita benar serius ya kita bisa melakukan pemboikotan terhadap produk-produk mereka di Indonesia, karena mereka mendapatkan keuntungan dari kita,” kata KH Muhyiddin dikutip dari laman Republika, Jumat (26/6/2020).

Ia menyampaikan, pemboikotan produk mereka penting agar dijadikan sebagai pembelajaran oleh mereka. Sehingga perusahaan lain yang ingin melakukan hal yang sama dengan Unilever bisa meninjau kembali reaksi dari publik.

Ia menjelaskan, permasalahannya Unilever ini nyaris menguasai produk-produk yang digunakan oleh masyarakat. Kalau memang sudah ada produk-produk perusahaan lain yang tidak mendukung LGBT, tinggalkan saja produk-produk Unilever ini. Sebaiknya begitu kalau memang umat Islam ingin betul-betul melakukan pemboikotan secara masif.

“Memang harus diawali dulu dari imbauan maka publik khususnya umat Islam itu agar tidak menggunakan produk mereka,” ujarnya.

Terkait pesan yang ingin disampaikan dari pemboikotan produk ini, KH Muhyiddin menjelaskan, pemboikotan ini mengandung pesan moral bahwa semua agama melarang LGBT. Bukan hanya agama Islam yang melarang LGBT, agama lain juga melarang.

“Yang lebih penting jangan sampai keuntungan dari Unilever itu dipakai untuk mendukung kegiatan-kegiatan LGBT yang secara tidak langsung itu diharamkan oleh agama,” jelasnya.

Ia menegaskan, pemboikotan produk mereka juga mengandung pesan agar perusahaan-perusahaan jangan mendukung kegiatan-kegiatan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai agama. Itu pesannya yang ingin disampaikan dari pemboikotan produk perusahaan yang mendukung kegiatan LGBT.

“Mereka akan mengalami kerugian besar seandainya masyarakat tidak membeli produk mereka karena banyak sekali produk mereka itu,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Ketua Komisi Pemberdayaan Umat MUI, Azrul Tanjung. Ia menegaskan, akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain.

“Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” seru Azrul.

Menurut Azrul, kampanye pro-LGBT yang tengah gencar dilakukan Unilever sudah keterlaluan dan sangat keliru. Azrul juga menyayangkan keputusan Unilever untuk mendukung kaum LGBT.

“Saya kira Unilever ini sudah keterlaluan. Kalau ini terus dilakukan, saya kira ormas-ormas Islam bersama MUI akan melakukan gerakan anti-Unilever atau menolak Unilever, dan kita menghimbau masyarakat untuk beralih pada produk lain,” tegasnya.

“Kita akui Unilever ini memang perusahaan terbesar tapi bukan berarti kita tidak bisa beralih ke produk lain, dan sekarang kesempatan bagi produk lain untuk mengambil posisi,” sambungnya.

Sebelumnya, Unilever, perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, pada 19 Juni lalu resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram.

“Kami berkomitmen untuk membuat rekan LGBTQ+ bangga karena kami bersama mereka. Karena itu, kami mengambil aksi dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja,” kata Unilever.

Sementara, Governance and Corporate Affairs Director Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso mengatakan, Unilever beroperasi di lebih dari 180 negara dengan budaya yang berbeda. “Secara global dan di Indonesia, Unilever percaya pada keberagaman dan lingkungan yang inklusif,” katanya dalam keterangan pers.

Sancoyo mengatakan, Unilever telah beroperasi selama 86 tahun di Indonesia. Unilever selalu menghormati maupun memahami budaya, norma, dan nilai setempat.

“Oleh karena itu, kami akan selalu bertindak dan menyampaikan pesan yang sesuai dengan budaya, norma, dan nilai yang berlaku di Indonesia,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.