Egoisme
Egoisme

Egois dan Merasa Paling Benar, Akhlak yang Harus Segera Direvolusi!

Berita mengenai kerumunan di masa pandemi sedang ramai diperbincangkan oleh para netizen. Hal tersebut lantaran beberapa waktu lalu, ribuan bahkan ada yang mengatakan ada jutaan orang yang berkumpul di beberapa titik yang sedang menggelar beberapa agenda.

Menanggapi fenomena kerumunan yang terjadi belakangan ini, berkali-kali pemerintah telah memperingatkan bahkan juga telah mengambil tindakan tegas terkait hal itu. Di antaranya adalah memberikan sanksi atau denda hingga pemberhentian beberapa pejabat tinggi wilayah yang tidak bisa menertibkan warganya untuk tidak berkerumun sementara waktu hingga pandemi usai (tidak mematuhi protokol kesehatan Covid-19).

Pemerintah dan aparat juga mewanti-wanti kepada seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali untuk tidak lagi berkerumun atau menggelar agenda yang dapat menyedot banyak massa. Terlebih beberapa waktu ke depan, setidaknya ada momentum yang berpotensi menciptakan kerumunan seperti perayaan natal dan tahun baru.

Kerumunan di masa pandemi tidak hanya berpotensi menciptakan klaster baru covid-19, melainkan juga bentuk akhlak yang tercela. Dikatan demikian karena aktivitas berkerumun  di masa pandemi secara menohok tidak menghormati upaya pemerintah dalam memutus penyebaran covid-19.

Usaha serius para tenaga kesehatan dalam menangani pasien covid-19 sampai ada yang gugur, menjadi tidak dinilai dan sia-sia oleh ulah oknum umat yang lebih mengedepankan sifat egoisme. Apa ini bukan bagian dari akhlak yang tercela? Tentu saja jawabannya jelas. Jika demikian adanya, maka revolusi akhlak memang harus segera ditabuh.

Bahaya Egoisme dan Merasa Paling Benar

Sebagian orang masih saja berlindung pada nilai-nilai Islam, meskipun sejatinya mereka sama sekali tidak sedang menjalankan ajaran Islam. Bawa-bawa Revolusi Akhlak, namun tidak mengedepankan akhlak. Gagasan yang baik sekalipun, namun tidak disampaikan dan dijalankan dengan baik, maka hasilnya akan tidak baik pula.

Baca Juga:  Benarkah Ulama yang Dekat Penguasa Ulama Su’u?

Kebebasan merupakan hak mutlak manusia dan ini merupakan hak manusia yang dinikmati oleh individu-individu tanpa memandang agama atau rasnya. Namun, sebagai hak, kebebasan ini diimbangi oleh kewajiban individu yang perlu dijalankan secara layak dan dalam koridur hukum-hukum universal yang berlaku.

Jadi, kebebasan individu dibatasi oleh kebebasan universal. Hal inilah yang akan menciptakan sebuah ketertiban, keseimbangan dan kedamaian. Kegagalan manusia untuk hidup sesuai dengan persyaratan kebebasannya terletak pada kebodohannya, yang merupakan fungsi dari tipe tertentu dari egoisme (John Cooper, 2000: 110-111).

Uraian di atas memberikan pengertian kepada kita semua akan sebuah fakta bahwa sikap egois yang dipelihara dan diulang-ulang akan berdampak negatif pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Bahkan, sikap egois, merasa yang paling benar misalnya, akan memunculkan benih-benih pertikaian karena ada nilai-nilai universal yang dilanggar. Sama halnya sikap egois yang dipraktekkan dalam berkerumun. Pasti akan menimbulkan madlarat yang lebih luas, bahkan jika dibiarkan akan menimbulkan kekacauan.

Belajar dari Kisah Adam dan Hawa yang Digoda Iblis

Disadari atau tidak dan diakui atau tidak, egoisme manusia erat kaitannya dengan kadar keimanannya. Kisah Adam dan Hawa dapat menjadi sebuah refleksi terkait pertarungan antara egoisme dengan keimanan.

Adalah benar bila ada yang mengatakan bahwa keimanan Adam dan Hawa tidak bisa diragukan lagi mengingat keduanya langsung berjumpa dan berdialog dengan Allah SWT. Namun kita bisa mengatakan pula bahwa keimanan Adam dan Hawa harus gugur lantaran mengikuti godaan Iblis untuk ‘membangkan’ dan ingkar pada salah satu aturan Allah, yakni memakan buah Khuldi.

Dalam QS. Thaha [20]: 120, Iblis menggoda Adam dan Hawa dengan menyatakan: “Hai Adam, Maukah kamu saya tunjukkan sebuah pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.”  Sementara pada saat yang sama, Allah berfirman: “Janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 35).

Baca Juga:  Kenali Ciri Da'i Ahlussunah Waljama'ah di Media Sosial

Pada posisi itu, Iblis dengan ‘cerdik’ telah menyentuh aspek yang sangat sensitif pada diri manusia (Adam) dan ini sekaligus menjadi titik lemah manusia, yakni membisikkan pikiran jahatnya dengan menggoda Adam dan Hawa dengan ‘bujukan’ maut sehingga melemahkan keimanan Adam dan Hawa.

Bujukan Iblis kepada Adam dan Hawa yang meruntuhkan keimnanan keduanya adalah mengenai pohon Khuldi (kekal) dan dijanjikan akan mendapat kerajaan atau kekayaan yang berlimpah ruah. Hematnya, Iblis memperdaya Adam dan Hawa untuk melangar aturan Allah dengan iming-iming akan sama-sama kekal dan mempunyai harta yang melimpah.

Dari cerita Adam dan Hawa yang digoda Iblis di atas, dapat kita tarik sebuah hikmah yang nyata bahwa egoisme atau kecintaan manusia kepada dirinya, tidak jarang menjadikan manusia kehilangan kendali atas dirinya. Pada posisi seperti ini, keimanan seseorang dipertaruhkan; jika imannya kuat, maka dia akan mampu mengendalikan ‘ego’ yang menguasasi dirinya.

Selain kisah di atas, ada nilai-nilai Islam yang harus diperjuangkan dalam kaitannya menekan ego dalam diri seseorang. Bahwa Allah tidak membenarkan hambanya bersikap egois. Bahkan amal shaleh dalam Islam orientasinya bukan semata-mata pada diri sendiri, melainkan ada aspek sosial yang lebih luas.

Di antara amal shaleh yang harus ditempuh oleh umat Islam adalah agar setiap muslim mengambil kedudukan sebagai muslihun; berbuat kebaikan untuk dirinya dan juga orang lain. Menyelenggarakan tabligh akbar di tengah covid-19 merupakan wujud egoisme dan sikap merasa benar sendiri yang dipelihara dan dapat membahayakan orang banyak. Padahal, umat Islam harus menjadi penyelamat umat.

Bagikan Artikel

About Muh. Ulin Nuha, MA

Avatar