Tampil anggun, menawan, cantik dan sempurna menjadi bagian tak terpisahkan dari diri wanita. Bila ada satu saja nikmat Allah yang dirasa kurang sempurna akan berakibat tidak pede, salting dan enggan berbaur dengan orang lain. Sulit memang bagi mereka untuk menjadi diri sendiri seperti telah diciptakan oleh Allah. Akhirnya, segala cara dijelajah untuk semaksimal mungkin membuat sempurna kekurangan yang melekat pada tubuhnya. Salah satunya memakai behel gigi.

Padahal, hukum asal merubah, merekayasa, mendesain ulang ciptaan Allah sangat dilarang. Dalam al Qur’an dijelaskan, “Dan akan aku (setan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”. (QS. al Nisa: 119).

Secara tegas ayat ini melarang manusia melakukan rekayasa perubahan ciptaan Allah. Konsekuensi hukum kalimat larangan pada ayat tersebut adalah haram. Di samping itu perbuatan tersebut merupakan ulah dan bujuk rayu setan supaya manusia melakukan kemaksiatan.

Dari Ibnu Mas’ud, ia mendengar Rasulullah melaknat perempuan yang mencabut (alisnya), menata giginya agar terlihat lebih indah yang mereka merubah ciptaan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Ibrahim bin ‘Alqamah, dari Abdillah ia berkata, Allah melaknat wanita yang memasang tato, orang yang meminta ditato, yang menghilangkan rambut dari wajahnya, dan yang mengikir giginya untuk memperindah ciptaan Allah”. (HR. Muslim).

Ada satu kata kunci yang harus dipahami, yaitu hukum asal merubah ciptaan Allah adalah haram. Tetapi hukum asal ini bisa berubah dalam kondisi dan situasi tertentu. Dalam kitab Al Minhaj Syarh Shohih Muslim yang ditulis Imam Nawawi terdapat keterangan yang mengharamkan wanita mengikir giginya hingga kecil dengan tujuan memperindah semata karena merubah ciptaan Allah dan tidak mensyukuri nikmat Allah. Namun beliau melanjutkan, bila mengikir gigi tersebut karena suatu tujuan (Lil Hajah), seperti untuk pengobatan dan merapikan gigi yang tumbuh berantakan, hukumnya boleh.

Dari sini bisa dipahami, bahwa  secara tegas, hadis Nabi di atas melarang mengikir dan menata gigi dengan tujuan memperindah semata. Namun bila karena suatu tujuan, seperti keterangan imam Nawawi yang baru saja disebutkan, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Behel gigi memiliki illat yang sama dengan mengikir gigi. Oleh karena itu pemberlakuan hukumnya juga sama. Yakni dengan cara qiyas (analogi). Karena tujuan behel sama dengan falj (mengikir). Maka yang menjadi catatan kebolehan memakai behel itu kalau ada tujuan tertentu, dalam istilah ushul fikih disebut dengan hajiyat (kebutuhan yang sifatnya sekunder).

Hajiyat posisinya ada di bawah dharuriyat (kebutuhan yang sifatnya primer). Oleh karena itu jika kebutuhan memakai behel itu sampai pada tingkat dharuriyat, maka tentu lebih diperbolehkan. Sebaliknya, bila memakai behel gigi bukan karena hajiyat atau dharuriyat maka hukumnya kembali pada hukum asal. Yakni haram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.