kisah nabi

Fikih Puasa (3) : Tidak Berpuasa Dapat Pahala ? Kok Bisa !

Syaikh Zainuddin al-Malibari menilai puasa Ramadan adalah ma’lum min al-din bi al-dharurah, syari’at yang dogmatis. Kebenarn tentang syariat ini tidak bisa disangkal lagi. Dari yang usia belia hingga yang berumur manula menyakini sekaligus mengikuti akan kewajibannya. Karena bagi yang menunaikannya pahala dan hikmahnya ‘sale’, utama dan banyak sedang mengantri.

Namun begitu, syari’at ini bukanlah syari’at yang rigid (kaku) dan harga mati.  Tetapi syari’at ini adalah syari’at ‘pliable’ lentur seperti bola balon. Artinya, masih beradaptasi dengan keadaan umat yang hendak menunaikannya. Tak heran banyak rukhshakh (keringanan hukum) dalam syari’at ini. Seperti wanita menstruasi boleh bahkan wajib tidak berpuasa, musafir, orang yang sedang sakit keras, stamina menurun karena cuaca alam.

Sabda Nabi :

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة أخبرنا أبو معاوية عن عاصم عن مورق عن أنس رضي الله عنه قال كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في السفر فمنا الصائم ومنا المفطر قال فنزلنا منزلا في يوم حار أكثرنا ظلا صاحب الكساء ومنا من يتقي الشمس بيده قال فسقط الصوام وقام المفطرون فضربوا الأبنية وسقوا الركاب فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ذهب المفطرون اليوم بالأجر

Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dalam suatu perjalanan. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada pula yang tidak puasa.

Kami singgah di sebuah tempat saat hari sedang terik sekali. Di antara kami yang paling banyak mendapat naungan ialah orang-orang yang berpakaian lengkap, sementara orang-orang yang tidak berpakaian lengkap mereka melindungi kepalanya dari teriknya matahari dengan menutupkan tangannya ke atas.

Maka orang-orang yang berpuasa berjatuhan (karena stamina melemah) dan mereka yang tidak puasa masih dapat tegak berdiri. Mereka kemudian mendirikan tenda-tenda dan memberikan minum unta-unta. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda : Orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) hari ini pergi membawa pahala. (Shahih Muslim No.1886)

Baca Juga:  Fikih Puasa (1) : Pahami Niat Supaya Puasa Tidak Sia-sia

Hadits ini sebenarnya hendak memberikan pesan bahwa seseorang yang badannya melemah karena cuaca, boleh tidak berpuasa bahkan tetap mendapat pahala. Kajian  fikih, bagi orang yang bepergian jauh boleh untuk tidak berpuasa asalkan harus berniat tarahhus (niat menjalankan keringanan agama) sebelum berbukanya.

Contoh lain seseorang yang sedang wukuf di padang Arafah tidak disunnahkan berpuasa sebab orang yang sedang wukuf itu tergolong musafir serta masih dalam ruang lingkup sedang melakukan perjalanan. Meski tidak berpuasa ia tetap mendapat pahala puasa dan haji dan bagi yang tidak wukuf disunnahkan berpuasa. jika orang yang sedang wukuf berpuasa maka malah tidak mendapat pahala sunnah puasa arafah. Karena dinilai menyiksa diri dengan puasa.

Syari’at hadir bukan untuk menyengsarakan umat manusia. Maka syari’at banyak memberikan toleransi kepada umat. Hal ini, juga membuktikan bahwa Islam adalah agama yang penuh toleran. Ini pula mengabarkan kepada kita bahwa intoleransi adalah suatu bentuk sikap yang tidak islami.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …