mengqadha' puasa ramadan

Sejarah Tahapan Puasa Ramadan

Ibadah puasa sudah ada sebelum kedatangan Islam. Semua agama langit memiliki ritual puasa, meskipun dengan tata cara yang berbeda-beda. Bahkan, agama bumi seperti Hindu juga mengenal ritual puasa.

Sejarah kewajiban puasa Ramadan dalam Islam terjadi secara bertahap, sebelum akhirnya ditetapkan puasa Ramadan dengan praktik ritual sebagaimana yang dilakukan dan masyhur hingga saat ini. Puasa Ramadan disyariatkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah dan Rasullulah melakukan puasa Ramadan selama 9 tahun hingga beliau wafat. (Muhammad Hasan Hitu, Fiqh al-Shiyam,13).

Tahap 1 : Ibadah Puasa sebelum Puasa Ramadan

Sebelum puasa Ramadan disyariatkan Rasulullah berpuasa tiga hari dalam setiap bulan dan berpuasa pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan puasa ‘Asyura’. Terkait puasa yang dilakukan Rasulullah ini Aisyah meriwayatkan:

كَانَ عَاشُورَاءُ يُصَامُ قَبْلَ رَمَضَانَ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَ ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ.

Artinya: “’Asyura adalah hari yang dipuasai (oleh Rasulullah) sebelum puasa Ramadan, ketika Ramadan ditetapkan sebagai puasa wajib kemudian Rasulullah bersabda: barang siapa hendak puasa ‘asyura berpuasalah, dan barang siapa mau berbuka berbukalah”. (Shahih Bukhari, No. 4502).

Dalam riwayat sahabat Mu’adz bin Jabal dituturkan bahwa ketika Rasullah sampai di Madinah, beliau melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan dan berpuasa ‘Asyura. Yazid bin Harun bertutur, puasa model ini berlangsung selama 17 bulan sejak bulan Rabiul Awal (bulan pertama kali Nabi hijrah ke Madinah) hingga bulan Ramadan berikutnya. Lalu pada bulan Ramadan kedua di Madinah itulah kewajiban puasa disyariatkan melalui turunnya ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (184 (

Baca Juga:  Perang yang diikuti oleh Rasulullah Saw selama hidupnya (Bagian II)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/2: 183-184).

Tahap 2 : Puasa dengan Keringanan dan Fidyah

Setelah dua ayat tersebut turun kewajiban berpuasa fokus dalam satu bulan penuh, yakni bulan Ramadan. Berpuasa dalam jenjang waktu yang relatif lama membuat kaum muslimin sedikit kewalahan, mereka belum terbiasa, butuh adaptasi. Oleh karena itu, Islam memberikan kelonggaran dengan mempersilahkan mereka yang merasa keberatan berpuasa untuk meninggalkan puasa dengan cara membayar fidiah, yaitu memberi makan orang miskin. Inilah tahapan pertama puasa Ramadan yang diwajibkan secara gradual.

Praktik ini terekam dalam hadis riwayat Salamah bin Akwa’ berikut ini:

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ – رضى الله عنه – أَنَّهُ قَالَ كُنَّا فِى رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِينٍ حَتَّى أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ(

Artinya: “Dari Salamah bin Akwa’, ia berkata, kami berada di bulan Ramadhan pada masa Rasulullah, barang siapa yang hendak berpuasa berpuasalah dan barang siapa yang tidak mau berpuasa berbukalah, lalu membayar fidiah dengan memeberi makan orang miskin, sehingga turun ayat: barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Shahih Muslim, No. 2742).

Baca Juga:  Belajar dari Ar-Risalah Imam Syafi’I: Memahami al-Qur’an dan Hadis itu Butuh Panduan dan Guru

Tahapan kedua adalah penetapan kewajiban puasa bagi setiap orang yang bermukim dan sehat jasmani sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, sekaligus menghapus syariat sebelumnya yang memperkenankan kaum muslimin memilih antara berpuasa atau berbuka dengan syarat membayar fidiah. Pada tahap dua ini dispensasi hanya diberikan kepada mereka yang sakit dan sedang dalam perjalanan (musafir). Untuk kategori dua orang tadi diperbolehkan berbuka dengan mengganti di hari-hari selain Ramadan sesuai hitungan hari yang ditinggalkan. Sementara dispensasi meninggalkan puasa dengan cara membayar fidiah ditetapkan bagi orang yang sudah lanjut usia, tua renta.

Tahapan 3 : Pemantapan Syariat Puasa

Namun demikian, kewajiban puasa Ramadan belum sepenuhnya seperti apa yang dipraktikkan umat Islam saat ini. Kaum muslimin pada saat itu diperbolehkan makan, minum, dan berkumpul dengan isteri sebelum mereka tidur di malam hari. Jika sudah pernah tertidur, meskipun bangun lagi, tidak diperkenankan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Artinya, ketika sudah tidur tidak diperbolehkan lagi makan, minum, dan berhubungan suami isteri. Dengan demikin, durasi waktu berpuasa akan berbeda antara orang perorang, tergantung kapan ia mulai tidur di malam hari.

Dalam kaitan ini, seorang sahabat Anshar bernama Qais bin Shirmah saat berpuasa Ramadan ia bekerja menggarap ladang miliknya hingga sore hari. Ketika tiba waktu berbuka ia pulang mendatangi isterinya, lalu bertanya apakah ada makanan, dan ternyata isteri menjawab belum ada makanan. Sang isteri kemudian pergi mencari makanan, sambil menunggu isteri mencari makanan hingga usai shalat Isya’, ia lelah dan kemudian tertidur. Saat isteri datang membawa makanan, ia mendapati suaminya telah tertidur lelap. Akhirnya si suami belum sempat makan apa-apa dan lanjut berpuasa. Keesokan harinya sampai pertengahan siang ia tak sadarkan diri karena hampir dua hari tidak makan. Lalu kejadian ini diadukan kepada Rasulullah.

Baca Juga:  Ashabul Qoryah dalam Al Qur'an : Kisah Umat Pembangkang

Kejadian lain dialami oleh sahabat Umar bin Khatthab. Beliau pernah suatu ketika pulang larut malam sehabis berbincang-bincang bersama Rasulullah. Sesampainya di rumah Umar mendapati isterinya sudah tidur, kemudian beliau membangunkannya dan hendak menunaikan hajatnya. Lalu isteri beliau bilang, “aku sudah tertidur”. Namun, Umar tetap saja menunaikan hajatnya.

Keesokan harinya Umar mengadu kepada Rasulullah tentang kejadian semalam. Kejadian ini tidak saja dialami oleh sahabat Umar, namun terjadi juga kepada sahabat-sahabat yang lain. Dari beberapa kejadian yang diadukan kepada Rasulullah kemudian turunlah ayat yang berbunyi:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ  وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ.

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”.

Inilah tahapan puasa Ramadan yang ketiga dan terakhir. Dengan turunnya ayat tersebut kaum muslimin ketika itu sangat bergembira. Mereka diperbolehkan melakukan apa saja mulai dari makan, minum, dan berkumpul dengan isteri hingga fajar tiba, meskipun sudah tidur. Ketentuan inilah yang berlaku dalam kewajiban puasa Ramadan hingga saat ini. Merupakan bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya dengan memberikan keringanan-keringanan dalam syariat-Nya dengan bentuk gradualisasi puasa Ramadan. (Muhammad Hasan Hitu, Fiqh al-Shiyam,10-13). []

Wallahu a’lam Bisshawab!

Bagikan Artikel

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.