halalan tayyiban
gaya hidup halal

Gaya Hidup Halal untuk Hidup Sehat

Dari sekian agama, Islam merupakan agama yang memiliki konsen besar dan detail terhadap persoalan konsumsi. Islam mengatur dengan begitu baik mana makanan yang layak konsumsi dan mana yang tidak layak dengan istilah relijius halal dan haram. Pada dasarnya aturan ini memang memiliki dimensi keagamaan dalam pengertian maknawi, tetapi secara dhahir pengaturan ini menunjukkan suatu pola hidup atau gaya hidup yang sehat.

Gaya hidup sehat menentukan aspek Kesehatan manusia. Salah satu pokok penting dari gaya hidup sehat adalah pengaturan konsumsi, termasuk barang yang layak konsumsi. Dalam Islam aturan ini menjadi cukup jelas bahkan eksplisit tertera dalam al-Quran dan Hadist. Terdapat ayat yang menyinggung persoalan konsumsi dan begitu pula banyak hadist yang membicarakan tentang hal tersebut.

Pada awalnya hukum mengkonsumsi adalah boleh. Seluruh isi bumi menjadi layak untuk dikonsumsi karena bagian dari anugerah Allah kepada manusia sebagai pengelola bumi. Hal ini tertera misalnya firman Allah “Dialah yang menciptakan untuk kalian segala sesuatu di bumi”. (Al-Baqarah: 29). Ayat ini menegaskan bumi sebagai ladang yang layak untuk dikonsumsi. Namun, dalam firman lain, Allah mulai memberikan petunjuk dalam surat Al-Maaiddah ayat 88 Allah SWT berfirman : “Dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Dalam surat yang kedua ini ada petunjuk menarik yang bisa kita ungkap. Allah menggunakan kata halal dan baik (tayyiban) atau berkualitas baik. Dalam konteks ini, Islam memberikan panduan yang masih sangat umum bagi manusia untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan berkualitas yang menyehatkan. Bukan sekedar halal, tetapi bagaimana makanan tersebut juga bernilai baik terhadap kehidupan.

Konsep gaya hidup halal mengandung dua hal. Pertama, implikasi relijius yang maknawi dan kesehatan yang fisik. Ketika kategori halal disebutkan artinya sebagai panduan untuk mencegah barang yang bisa merusak perilaku keagamaan dan Kesehatan. Mengkonsumsi barang yang haram berdampak pada kehidupan baik hati, akhlak, mustajabnya doa, dan lain sebagainya.

Ibnu Abbas r.a berkata, “Tatkala aku membaca ayat di hadapan Rasulullah , yang artinya, “Wahai manusia makanlah apa-apa yang ada di bumi yang halal dan baik.” Tiba-tiba berdirilah Sa’ad bin Abi Waqqas kemudian berkata , “ Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikan doaku mustajab. Rasulullah saw. menjawab, “Perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi yang jiwa Muhammad ada di tanganNya seorang yang memasukkan sesuatu yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima dari amal-amalnya 40 hari. Dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari yang haram dan riba maka neraka lebih layak baginya”

Begitu pula haram juga mempunyai implikasi terhadap kesehatan. Banyak riset yang membuktikan bahwa kategori haram dalam konsumsi Islam ternyata mengandung hal yang merugikan kesehatan. Karena itulah, Islam juga melengkapi persoalan halal dengan istilah tayyib artinya mempunyai kualitas yang baik untuk dikonsumsi. Kualitas baik itu tentu saja sangat beragam baik dari aspek dzatnya, kebersihannya, pengelolaannya hingga pengemasannya.

Tidak diragukan bahwa Islam memberikan panduan yang baik dalam gaya hidup yang sehat. Tolak ukur halal dan haram bukan sekedar mempunyai implikasi maknawi keagamaan, tetapi juga mempunyai dimensi fisik kesehatan. Marilah memulai dengan gaya hidup halal.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

belajar membaca alquran pertolongan bagi mualaf bertujuan untuk menguatkan 210327203725 989 scaled

3 Ilmu yang Wajib Dipelajari dan Diajarkan

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Namun kesempurnaan manusia …

agama bisa menyembuhkan

Agama Bisa Menyembuhkan Penyakit?

Saya mendapatkan satu postingan yang sangat menarik tentang sebuah hasil riset. Sebuah riset menggunakan binatang …