Najih Arromdloni
Najih Arromdloni

Gus Najih: Bangsa Ini Gagal Kalau Sampai Tidak Selesaikan Persoalan Radikal-Terorisme

Wakil Sekretaris BPET MUI M. Najih Arromdloni mengatakan, radikalisme merupakan tantangan besar bangsa Indonesia selain korupsi dan narkoba. Hal tersebut Ia sampaikan dalam webinar Sang Khalifah pada Senin (3/5).

“Kalau kita gagal menyelesaikannya, kita juga bisa gagal sebagai suatu bangsa. Itu terbukti terjadi di banyak negara yang lain,” ucapnya.

Penyelesaian tersebut menurut dia sangat penting karena berkaitan dengan masa depan bangsa. Hari ini kata dia, kita mendapati negara-negara mayoritas muslim banyak yang kocar-kacir, terutama di Timur Tengah, akibat permasalahan radikalisme. Sehingga, umat Islam di Indonesia ditantang untuk menampilkan wajah islam yang sesuai misi Rahmatan Lil Alamin.

“Ketika Timur Tengah wajahnya sudah penuh dengan konflik, perang saudara, bunuh-membunuh dimana-mana, kita di Indonesia ditantang untuk menjadikan wajah islam sebagai kiblat peradaban baru. Karena kita (Indonesia) negeri Islam bisa kompatibel dengan demokrasi, Islam yang punya karakteristik khusus, Islam yang toleran dan menghormati budaya, Islam yang masuk tidak dengan pedang (perang), dan seterusnya,” lanjut pria yang akrab disapa Gus Najih tersebut.

Ia menambahkan, umat Islam di Indonesia ini punya karakteristik khusus yang oleh Gus Dur dikatakan sebagai Islam pribumi, atau Kyai Hasyim Muzadi mengatakannya sebagai Islam yang “non-transnasional“.

“Saya kira inilah wajah islam yg harus kita jaga sebagai bagian dari upaya kita menanggulangi persoalan radikalisme. Jadi sekali lagi bahwa persoalan radikalisme ini akan menentukan wajah masa depan bangsa kita,” lanjutnya.

Perlu diketahui, radikalisme merupakan permasalahan di banyak negara, dan hampir seluruh umat beragama. Jika kita mengamati, persoalan-persoalan ini juga terjadi di negara-negara seperti di Amerika dan Eropa. Tren radikal-terorisme tidak hanya menyangkut Islam saja, akan tetapi juga terjadi di agama-agama yang lainnya. Misalnya yang pernah terjadi dalam agama Buddha di Myanmar, atau Hindu di India, ataupun teror Masjid yang pernah terjadi di New Zealand, dan masih banyak lagi.

Baca Juga:  Kemensos Harus Segera Tindaklanjuti Usulan Pahlawan Nasional Bagi Mbah Cholil dan KH Bisri Syansuri

“Ini merupakan fenomena di mana simbol-simbol keagamaan ikut mewarnai kemunduran suatu bangsa diberbagai negara. Sehingga persoalan seperti ini perlu kita tangani,” Gus Najih melanjutkan.

Radikalisasi di Indonesia sendiri menurut Gus Najih, sudah terjadi sejak tahun 1980 yang masuk melalui kampus seperti IPB, atau organisasi keagamaan seperti Ikhwanul Muslimin, ataupun melalui gerakan Islam Salafy Wahabi. “Itu sudah terjadi sejak lama dan saat ini kita menuai hasil radikalisasi pada masa itu,” lanjutnya.

Pihaknya menegaskan, yang perlu dilakukan pemerintah ialah bersikap tegas dan berkomitmen tinggi dalam penindakannya. Pemerintah harus belajar mengambil langkah-langkah tegas terhadap permasalahan ini. Kominfo misalnya, harus serius terhadap persebaran konten radikal di medsos.

“Kita prihatin ya, persebaran konten radikal di medsos, mulai dari buku-buku yang bermuatan radikal, sampai tutorial bom bunuh diri bisa kita temukan di internet, dan itu bisa diakses siapa saja tanpa pembatasan atau kontrol dari negara. Terbukti dari 90 persen pelaku teror di Indonesia adalah pengguna aktif medsos. Banyak dari mereka sebelum jihad melakukan pamitan di medsos. Sebetulnya kita bisa melakukan deteksi dini dan upaya pencegahan kalau Kominfo ini komitmen melakukan kontrol terhadap konten yang beredar di medsos,” tegasnya.

Selain itu, penyebaran paham radikal-terorisme juga berlangsung melalui beberapa lembaga pendidikan yang ada, baik lembaga pendidikan formal seperti melalui Rohis, Liqo, dan Mabid, maupun non-formal seperti pesantren yang tidak berizin atau tidak terikat kurikulumnya dengan pemerintah. “Ini banyak di sekitar kita, dan ponpes itu juga yang melahirkan banyak pelaku teror. Seperti yg di Makassar ini kan ternyata pelakunya berasal dari salah satu pesantren di sana yaitu pesantren Ar Ridho,” lanjut Dia.

Baca Juga:  Abu Dzar al Ghifari: Pemimpin Oposisi yang Tegas, Tapi Santun

Terakhir, pihaknya berharap Pemerintah terutama Kominfo dan Kemenag berkomitmen teguh dalam memberantas gerakan ataupun paham radikal-terorisme ini. Serta ia juga berharap, peran aktif masyarakat yang moderat untuk ikut andil dalam melawan dan “mensterilkan” jagad medsos dari konten-konten agaupun narasi-narasi negatif yang provokatif, hoaks, ujaran kebencian, bahkan juga konten-konten bernuansa radikal-terorisme. “Saya kira kalau itu semua berjalan, maka radikal-terorisme bisa kita hilangkan atau kita minimalisir. Selama ini tidak dilakukan, ya, kita hanya rasan-rasan saja di berbagai Webminar, eksekusi di lapangan tidak ada. Tapi kita tetap perlu Webminar seperti ini untuk membangun kesadaran masyarakat. Ini adalah jihad kita. Karena pada hakikatnya, ketika kita membela negara sama artinya kita membela agama. Karena kita tidak bisa beragama tanpa kehadiran negara,” Pungkas Gus Najih.

Bagikan Artikel ini:

About Vinanda Febriani

Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Check Also

Terorisme di Abad 21

Akar Permasalahan Terorisme di Abad 21

Salah satu Jubir Al-Qaidah pernah berujar bahwa internet merupakan “Universitas Studi Jihad Al-Qaidah”.

Perempuan Muslim

Salahkah Perempuan Muslim Berpendidikan Tinggi ?

“Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Mencari ilmu sangat diwajibkan atas setiap orang Islam,”