Hadapi Covid-19, Butuh Ketabahan dan Ketaatan

0
507
ketabahan dan ketaatan

Butuh ketabahan dan ketaatan terhadap kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi ini.


Virus corona (Covid-19) telah menjadi momok menakutkan masyarakat dunia. Wabah ini selain mematikan, tetapi mudah menular. Segala upaya terus dilakukan oleh seluruh negara untuk mencegah banyaknya korban akibat virus ini.

Wabah penyakit seperti corona ini sebelumnya sudah pernah terjadi pada masa Khalifah Umar. Pada tahun 18 Hijriyah, suatu hari Umar bin Khattab dan rombongan pergi menuju Syam. Seketika di perbatasan mereka mendengar sebuah kabar tentang wabah penyakit kulit yang menjangkiti wilayah tersebut.

Penyakit kulit ini dinamai wabah Tha’un Amwas. Penyakit menular yang menyebabkan benjolan di seluruh tubuh. Benjolan tersebut mampu tumbuh dan akhirnya pecah sampai akhirnya terjadi pendarahan yang tidak dapat di hentikan sampai akhirnya si penderita meninggal.

Satu persatu penduduk Syam meninggal. Korbannyapun separuh dari penduduk kota Syam. Mengantisipasi hal tersebut, Syam memberlakukan lockdown kala itu. Gubernur Amr bin Ash memerintahkan kepada penduduknya untuk saling menjaga jarak dan berpencar dengan menempatkan diri di gunung-gunung. Akhirnya penularan penyakit inipun mampu diredam, dan kota Syam kembali normal.

Sejatinya, wabah ini harus kita sikapi dengan tenang. Bukan malah panik. Takdir mati memang sepenuhnya ada di tangan Allah. Tetapi muslim yang baik adalah selalu mengedepankan ikhtiyar dan doa.

Kalaupun ajal telah mendapati, perlu kita ketahui bahwa korban meninggal akibat suatu wabah yang terjadi dapat di katagorikan mati syahid. Hal ini tertuang dalam hadist riwayat Muslim nomor 1914 dan Bukahri nomor 2829 yang berbunyi:

Artinya : “Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.”

Pentingnya Menaati Ulil Amri Ketika Wabah

Keberhasilan Amr bin Ash dalam menormalkan Syam bukan saja terletak pada metode yang digunakan, tetapi terpenting adalah ketabahan dan ketaatan warganya dalam kebijakan yang diambil pemerintah atau ulil amri. Dalam situasi wabah seperti ini, butuh kerjasama seluruh pihak dan terpenting kemauan untuk mengikuti himbauan yang ada.

Upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan penyebaran virus corona atau COVID-19 ditempuh dengan membatasi kegiatan yang sifatnya berkumpul (social distancing), bukan dengan lockdown. Selain itu, pemerintah dan masyarakat bersama-sama memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat dan bersih serta mengisolasi diri di rumah masing-masing selama 14 hari.

Bukan tanpa alasan, pemerintah menetapkan masa isolasi selama 14 hari karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan masa inkubasi virus corona berkisar 2-14 hari setelah terpapar. Jadi apabila terinfeksi akan terlihat gajalanya mulai dari 2-14 hari setelah terpapar.

Dengan kebijakan isolasi dan jaga jarak ini diharapkan masyarakat tidak mempergunakan waktunya untuk bepergian keluar rumah, karena hal ini akan membuat virus ini mudah menular. Selain itu penting untuk kita menjaga jarak minimal satu meter dari orang di dekat kita.

Namun jika kita mulai merasakan gejala seperti flu, jangan pergi ke rumah sakit atau klinik, karena sistem imun dalam tubuh menurun, maka akan semakin rentan tertular Covid-19. Tetap tinggal di rumah dan hubungi tenaga kesehatan terdekat dan tunggu hingga tenaga medis yang anda hubungi datang dan memeriksa Anda.

Mulailah bersabar dengan menahan diri untuk tetap berada di dalam rumah serta menghindari kerumunan. Simak berbagai informasi resmi dari pemerintah dan tetap tenang di dalam rumah dengan melakukan kegiatan produktif. Semoga wabah ini segera teratasi. Amin.