Taat kepada perintah adalah perintah itu sendiri. Begitulah dalam Islam. Ketaatan kepada Allah, Rasul dan ulil amri menjadi bagian penting dari perintah agama. Bukan hanya keyakinan dan keimanan, tetapi ketaatan adalah tuntutan dalam berislam.

Taat berarti mematuhi. Kata ini merupakan serapan dari kata thaat dalam bahasa arab yang berarti patuh dan tunduk. Dengan demikian, taat adalah sikap dan perilaku untuk mematuhi dan tunduk terhadap segala perintah agama.

Menjadi muslim yang taat berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Ketaatan berdimensi dua aspek, menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi  apa yang dilarang. Menariknya dalam Islam, dua hal ini memiliki penekanan yang berbeda.

Bedanya begini. Sesuatu yang diperintahkan oleh Allah maka harus dilakukan dengan batas kemampuannya. Sementara apa yang dilarang, ya jauilah.

Dalam sebuah hadist, misalnya Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku larang, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampu kalian” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 7288 dan Muslim, no. 1337].

Hadist tersebut sejalan dengan beberapa ayat dalam al-Qur’an yang mempertimbangkan kemampuan dalam menjalankan ketaatan. Misalnya :  “Bertakwalah pada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16). Dalam ayat lain, Allah menegaskan : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Artinya, ketaatan dalam mengerjakan kebaikan sejatinya menuntut adanya kemampuan. Jika tidak mampu jangan dipaksakan. Jangan melakukan ketaatan buta yang tidak melihat batas kemampuan.

Karena itulah, dalam berbagai ibadah yang diperintahkan dan dipandang memiliki kualitas yang berat akan diikuti dengan “jika mampu”. Misalnya dalam masalah haji yang menuntut kemampuan finasial dan fisik. Tunaikanlah, jika mampu.  

Kondisi “jika mampu” mempunyai cakupan luas. Mampu secara finansial terkait ibadah yang meniscayakan adanya uang. Mampu secara kesehatan terhadap ibadah yang menuntut kemampuan fisik. Dan tentu ragam kemampuan yang lain.

Kemampuan menjadi faktor penting dalam ketaatan. Ketika berada dalam kondisi ketidakmampuan, Islam mensyariatkan rukhshah atau dispensasi. Kategori rukhshah ini pun bermacam-macam.

Ada kalanya rukhshah berarti meringankan. Dalam hal ini patut dipahami bahwa dispensasi berarti meringankan beban ketaatan, bukan menggugurkan ketaatan.

Misalnya, orang yang dalam perjalanan diringankan untuk meringkas (qashar) shalat. Shalat tetap dilaksanakan, tetapi diringankan bebannya. Jangan pernah berterik ini bukan ketaatan ketika menjalankan keringanan. Adanya keringanan itu pun bagian dari syariat Allah.

Ada pula dispensasi yang menangguhkan ketaatan. Orang yang dalam perjalanan dan orang sakit boleh tidak berpuasa tetapi harus diganti di hari yang lain ketika mampu. Ketaatan bukan dihilangkan, tetapi ditangguhkan. Jangan dikatakan penangguhan kewajiban ini sebagai ketidaktaatan. Sekali lagi itu bagian dari cara Allah.

Ada kalanya dispensasi itu berupa kompensasi. Orang yang sakit, dalam perjalanan, atau kondisi yang sulit dan membahayakan boleh tidak melakukan shalat jumat, tetapi menggantinya dengan shalat dhuhur. Dalam kasus tersebut, ketaatan terhadap perintah tidak dilakukan dengan perintah yang sama tetapi dikompensasi dengan ketaatan yang lain.

Apa yang ingin ditegaskan bahwa dalam melakukan ketaatan disyaratkan adanya kemampuan. Islam ketika memerintahkan ketaatan kepada hambanya sangat mempertimbangkan batas kemampuannya. Ketaatan yang diajarkan tidak melibas kemampuan.

Jangan berdalih ingin taat, tetapi tidak memperhitungkan batas kemampuan. Jangan sekali-kali menjatuhkan diri dalam kebinasaan atas nama ketaatan. Allah sekali lagi sudah menegaskan  “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78).

Jika Allah sudah menegaskan ketidakinginan untuk menjadikan agama dalam kesempitan dan kesulitan, terus kita ingin mempersulit diri? Apakah kita ingin terus-menerus ke masjid di tengah peringatan nyata bahaya wabah yang sulit diprediksi antara kita tertular atau menularkan kepada yang lain?

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.