mencela
mencela

Haram Hukumnya Mencela Agama Lain

Semenjak Pilkada DKI 2017, intensitas perdebatan antar umat beragama semakin meningkat. Lebih-lebih perdebatan ini berada di ruang maya, hampir sebagian besar menjurus ke arah caci maki. Mencela Tuhan orang lain dengan guyonan atau serius, di forum resmi atau tongkrongan itu sama saja tidak diperbolehkan.

Menghina Tuhan dan agama lain akan berdampak kepada pembalasan penghinaan orang lain terhadap Tuhan kita, Allah dan Islam. Padahal mereka tidak ada pengetahuan tentang agama dan Tuhan kita. Makanya kita hindari ejekan dan celaan kepada tuhan non-muslim.  Kalau penghinaan kepada tuhan agama lain itu terjadi, sebenarnya yang salah dan berdosa adalah kita sendiri yang menghina Tuhan kita.

Perbuatan mencela tuhan agama lain secara tegas dilarang oleh Allah. Seperti di dalam QS. Al-An’am ayat 108 tentang tidak diperbolehkannya mencela atau mencaci maki hal-hal ‘sakral’ agama dan kepercayaan pihak lain. Allah SWT telah berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim halaman 314, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut Allah Swt melarang Rasulullah Saw dan seluruh umat Islam untuk mencela dan memaki sesembahan orang-orang musyrik. Karena dari celaan dan caci-maki itu akan berpotensi menimbulkan dampak negatif yang lebih besar, yakni serangan caci-maki dari orang-orang di luar Islam. Sebagaimana peristiwa asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat tersebut.

Baca Juga:  Jangan Bakar Sarang Semut karena satu Semut Menggigitmu

Pada dasarnya agama bersemi dari dalam hati setiap penganutnya. Maka melihat tabiat manusia, ia memiliki naluri dasar akan kepercayaan fundamental. Tak heran, manusia akan sangat mudah terpancing emosinya apabila agama atau kepercayannya disinggung. Karena Di sisi lain, hati adalah sumber emosi. Lain halnya dengan pengetahuan yang lebih mengedepankan akal dan pikiran. Karena itulah seseorang dengan mudah mengubah pendapat ilmiahnya akan tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya, walaupun bukti-bukti kekeliruan telah jelas di hadapannya.

Di satu sisi, yang dihasilkan dari mencaci-maki adalah suatu keburukan. Caci maki hanya menimbulkan sifat antipati terhadap pelakunya. Sangat tak pantas apabila hal itu dilakukan oleh umat Muslim yang semestinya menjaga lidah dan tingkah lakunya.

Perbedaan menjadi sebuah keniscayaan yang sulit dipungkiri. Apabila tidak ada kesadaran akan hal itu, niscaya perbedaan akan selalu dibenturkan. Bahkan berpotensi menyulut api konflik antar golongan. Sehingga sikap toleran dan saling menghormati merupakan kunci utama dalam membangun kehidupan yang harmonis, aman dan tentram di tengah perbedaan yang ada.

Penghinaan terhadap tuhan agama lain itu tidak dibenarkan dalam situasi dan kondisi apapun. Hal ini pernah dialami oleh Rasulullah SAW. Ketika beliau sedang berdakwah di kota Thaif, banyak orang yang marah dan menghina pribadi Rasulullah, Islam dan Allah, yang kemudian mereka mengusir Rasulullah secara kasar dengan melemparinya dengan batu dan kotoran binatang. Apa respon Rasulullah ketika itu? Beliau bersabar dan tidak marah sama sekali. Malah nabi Muhammad SAW tidak mau ketika ditawari bantuan oleh malaikat Jibril untuk menghancurkan kota Thaif beserta isinya. Malaikat Jibril pun heran ketika nabi Muhammad SAW mendoakan kebaikan kepada semua penduduk Thaif beserta anak keturunannya.

Baca Juga:  Al Qur’an sebagai “Isyarat Dakwah”

Nabi Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia. Jadi beliau senantiasa menjaga keharmonisan dan kedamaian, baik antar umat beragama maupun intern umat beragama. Itulah yang harus kita contoh sebagai umat nabi Muhammad. Jadi ketika kita jumpai ada orang, misalkan teman, ustadz bahkan professor sekalipun yang melontarkan ujaran kebencian semisal penghinaan kepada agama dan tuhan orang lain, maka selayaknya kita tegur dan peringati agar tidak mengulanginya. Karena citra agama ataupun Tuhan sekalipun itu tergantung dengan pemeluknya.

Islam sudah dicitrakan oleh nabi SAW dan para sahabatnya sebagai agama yang ramah, bukan marah. Jadi suatu kesunnahan juga ketika kita sekarang saling hidup berdampingan dengan ‘orang lain’ secara damai dan harmonis mengikuti perilaku nabi SAW dan para sahabatnya. Bukan malah memarah-marahi ‘orang lain’ yang berbeda aliran dan agama dengan kita.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

rakus

Kerakusan Menyebabkan Kehinaan dan Kerusakan Agama

Salah satu sifat buruk yang harus dihindari atau bahkan jangan sampai dipunyai seseorang adalah rakus. …

berbuat kebaikan

Berbuatlah Amal Kebaikan dan Buanglah Ke Laut

Setiap hamba Allah diwajibkan untuk melakukan amal kebaikan, apapun bentuknya. Mulai dari beribadah, menolong orang, …