memotong jenggot
memotong jenggot

Haramkah Memotong Jenggot ?

Di antara ciri fisik pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, Salafi Wahabi, yaitu berjenggot lebat dan panjang. Sekalipun tidak pasti orang berjenggot adalah Salafi Wahabi, tetapi Salafi Wahabi dapat dipastikan berjenggot. Karena menurut mereka, memanjangkan jenggot hukumnya wajib, bahkan jika dipotong maka berakibat hukum haram.

Shalih Fauzan secara transparan menyatakan keharaman memotong jenggot. Dalam kitabnya, ia berkata:

قَصُّ الشَارِبِ مَشْرُوْعٌ، وَلَا يَجُوْزُ تَرْكُهُ يَطُوْلُ، وَأَمَّا حَلْقُ اللِّحْيَةِ فَهُوَ حَرَامٌ

Artinya: “Memendekkan kumis perbuatan yang disyariatkan, tidak boleh meninggalkannya yang akhirnya menjadi panjang. Adapun mencukur jenggot, hukumnya haram”

Begitu juga Salafi Wahabi lainnya, juga mengharamkan memotong jenggot. Sebab itulah, jenggot-jenggot mereka tebal, lebat dan panjang-panjang.

Adapun dalil yang mereka pahami yaitu hadits yang berbunyi:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Artinya: “Berbuat bedalah kalian terhadap orang-orang musyrik, biarkanlah jenggotnya, dan pendekkanlah kumisnya” (HR. Bukhari)

Namun apakah benar memanjangkan jenggot hingga sampai dada adalah perbuatan wajib, dan mencukurnya perbuatan haram ?

Ada dua hal yang perlu dipahami tentang hadits tersebut sebelum menvonis apakah memanjangkan jenggot hukumnya wajib serta haram memotongnya. Kedua hal itu adalah: Pertama. Tujuan memanjangkan jenggot sebagaimana dalam hadits tersebut yaitu agar berbeda dengan musyrik dari Majusi. Karena pada saat itu, orang-orang Majusi senang berpenampilan dengan berkumis dan menghilangkan jenggot.

Jika kita berbalik ke masa hidup Nabi saw, di mana Islam saat itu pada masa transisi dalam penyebaran agama dengan mendapat rintangan perlawanan dari orang-orang musyrik. Tentu saja identitas diri sangat perlu pada saat-saat itu. Kemudian, kalau kita kembali lagi kepada masa sekarang, di mana penampilan kumis dan jenggot tidak lagi menjadi identitas agama, maka tidak tepat memaksakan jenggot sebagai simbol Islam, dan kemudian menvonis haram bagi yang mencukur jenggotnya.

Baca Juga:  Macam dan Kriteria Mahram dalam Islam

Kedua, tidak ada seorang ulama’ pun yang menganggap perintah pada memanjangkan jenggot adalah wajib. Ini terbukti, ulama’ Fiqih hanya menanggap makruh jika memotongnya.

Imam Nawawi, salah satu ulama’ ahli Fiqih dan Fiqih dengan mengutip pendapat Qadi ‘Iyad berkata: “Makruh hukumnya mencukur, memendekkan atau membakar jenggot”. Kita sudah tahu, bahwa hukum makruh bukan lawan dari wajib, tetapi lawan dari sunnah. Sehingga dengan demikian, perintah pada hadits tersebut hanya sekedar sunnah saja, tidak sampai kepada wajib.

Lebih-lebih banyak sahabat Nabi saw yang mencukur jenggotnya, di antaranya adalah Ibn Umar ra. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ ، أَوِ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ فَمَا فَضَلَ أَخَذَهُ

Artinya: “Ibn Umar ra apabila melaksanakan ibadah haji atau umrah, ia menggenggam jenggotnya, lalu apa yang lebih dari genggamannya, ia memotongnya” (HR. Bukhari)

Abu Hurairah dalam riwayatnya Ibn Abi Syaibah dikatakan:

إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ ثُمَّ يَأْخُذُ مَا فَضَلَ عَنِ الْقَبْضَةِ

Artinya: “Sesungguhnya Abu Hurairah ra menggenggam jenggotnya kemudian mengambilnya yang melebihi genggamannya” (HR. Ibn Abi Syaibah)

Berangkat dari riwayat ini juga, bahwa yang sunnah dalam membiarkan jenggot adalah sebatas ukuran genggaman tangan, manakala lebih dari itu, maka tidak sunnah lagi. Bahkan imam Malik ra menghukumi makruh jika terlalu panjang sampai melebihi genggaman. Bahkan imam Syafi’i menilai sunnah memotong jenggot dan kumis hingga meletakkan sehelai rambut karena Allah.

Kesimpulannya, tidak ada nash baik al Qur’an atau Hadits yang melarang tegas tentang memotong jenggot. Sekelas sahabat saja sudah terbiasa memotong jenggotnya. Ini menunjukkan bahwa jenggot bukan bagian dari ajaran agama Islam. Memelihara jenggot hanya sebagai tradisi untuk membedakan antara seorang muslim dengan kafir. Tetapi dalam konteks ke Indonesia an yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, maka tidak penting penampilan jenggot dijadikan sebagai perbedaan yang memicu terjadinya kecurigaan antar agama.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Abaikan Informasi yang Tidak Masuk Akal

Cukuplah kiranya dengan menggunakan sarung, kopyah atau sorban sebagai tanda bahwa ia seorang muslim. Karena yang paling penting dalam agama adalah keseriusan dalam beribadah dengan tanpa menghilangkan atau menghambat hak-hak orang lain.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

aswaja

Mengenal Aliran Mujassimah (1) : Siapakah Yang Dimaksud Mujassimah ?

Istilah Mujassimah sebenarnya sudah lama. Bahkan ulama genarasi tiga abad yang pertama telah membahas tentang …

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …