masturbasi
masturbasi

Viral Cumi untuk Masturbasi, Bagaimana Hukum Masturbasi dalam Islam

Baru-baru ini jagad media dihebohkan dengan postingan yang sama sekali tidak produktif. Lagi-lagi yang viral terkadang bukan hal yang rasional apalagi bermanfaat. Di twitter heboh cumi-cumi untuk alat masturbasi. Bukan hanya itu saja, banyak makanan yang dijadikan alat mastubasi dan bikin mual warganet. Lalu, bagaimana hukum masturbasi dalam Islam?

Sebelum membahas itu kita perlu melihat pemahaman yang utuh tentang seksualitas dalam Islam. Seks (dalam pemahaman etimologi nikah) bertujuan untuk memperbanyak keturunan (Hifdh al-Nasl). Nabipun menegaskan nikah sunnahnya. (HR: baihaki: 4270). Lalu bagaimana jika ada penyimpangan seks seperti masturbasi?

Masturbasi adalah proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, marturbasi disinonimkan dengan onani atau masturbasi (pengeluaran mani (sperma) tanpa melakukan sanggama; masturbasi).

Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa telah terjadi perselisihan fatwa di kalangan ulama dalam soal hukum masturbasi atau onani. Pertama, ulama madzhab Maliki, Syafi’i dan Zaidiyah berpendapat bahwa onani atau masturbasi adalah haram.

Argumentasi ulama tentang pengharaman onani atau masturbasi ini adalah bahwa Allah swt telah memerintahkan untuk menjaga kemaluan dalam segala kondisi kecuali terhadap istri dan budak perempuannya. Apabila seseorang tidak melakukannya terhadap kedua orang itu kemudian melakukan onani atau masturbasi maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang melampaui batas-batas dari apa yang telah dihalalkan Allah bagi mereka dan beralih kepada apa-apa yang diharamkan-Nya atas mereka.

Firman Allah swt :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦﴾فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ﴿٧﴾

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” QS. Al Mukminun,5-7

Baca Juga:  Hukum Dan Adab Ziarah Kubur

Kedua, ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa hukum masturbasi hanya diharamkan dalam keadaan-keadaan tertentu dan wajib pada keadaan lainnya. Mereka mengatakan bahwa onani atau masturbasi menjadi wajib apabila ia takut jatuh kepada praktik perzinahan jika tidak melakukannya.

Sesuai kaidah fiqhiyyah

إذَا تَعَارَضَ مَفْسَدَتَانِ رُوعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

Jika ada dua kerusakan saling Tarik menarik. Maka yang perlu dijaga adalah yang lebih besar kerusakannya, dengan melakukan yang lebih kecil kerusakannya. Asybah Wa al-Nadhair, 1/161

Namun, mereka mengharamkan apabila hanya sebatas iseng belaka demi kepuasaan sesaat. Mereka juga mengatakan bahwa onani atau masturbasi tidak masalah jika orang itu sudah dikuasai oleh libidonya sementara ia tidak memiliki istri atau budak perempuan demi menenangkan libido tersebut.

Ketiga, ulama madzhab Hambali berpendapat bahwa hukum masturbasi itu diharamkan kecuali apabila dilakukan karena takut dirinya jatuh kedalam perzinahan atau mengancam kesehatannya sementara ia tidak memiliki istri atau budak serta tidak memiliki kemampuan untuk menikah, jadi onani atau masturbasi bisa menjadi alur alternatif dalam artian tidaklah masalah (mubah).

Ibnu Hazm berpendapat bahwa onani atau masturbasi itu makruh dan tidak ada dosa didalamnya karena seseorang yang menyentuh kemaluannya dengan tangan kirinya adalah boleh menurut ijma seluruh ulama, sehingga onani atau masturbasi itu bukanlah suatu perbuatan yang diharamkan.

Firman Allah swt :

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

Artinya : “Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu.”QS. Al An’am:119

Dan onani atau masturbasi tidaklah diterangkan kepada kita tentang keharamannya maka ia adalah halal sebagaimana firman-Nya : Artinya : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” QS. Al Baqoroh, 29. Fiqh al-Sunnah,3/424-426.

Baca Juga:  Wali Nikah Anak Zina, Siapa ?

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

waktu kurban

Hari Tasyrik, Perbedaan Ulama tentang Waktu Kurban

Idul Adha memiliki dua sebutan popular, Idul Hajji (hari Raya Haji) dan Idul Qurban (Lebaran …

daging kurban kepada non muslim

Daging Kurban pada Non Muslim, Boleh Diberikan??!!

Struktur masyarakat majemuk; suku bangsa, agama, adat, serta kedaerahan —seperti Indonesia—pada dasarnya tidak bisa ditafsirkan …