Ken Setiawan
Ken Setiawan

Hati-Hati Pengikut NII Itu Seperti Bunglon di Masyarakat

Jakarta – Meski sudah dilarang keberadaannya di Indonesia, kelompok Negara Islam Indonesia (NII) diam-diam bergerak melakukan perekrutan anggota baru. Hal itu terungkap dengan ditemukannya 59 remaja di wilayah Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut yang mengaku dibaiat NII. Tak hanya dibaiat , mereka juga diduga didoktrin paham radikal bahwa pemerintah thogut.

Menanggapi hal ini, pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan mengatakan, tidak ada ciri fisik dari kelompok NII ini. Tapi mereka bisa menyatu dan membaur di masyarakat sehingga wajar cukup sulit mendeteksi keberadaan mereka.

“Mereka seperti bunglon. Bisa menyatu dan membaur di masyarakat tanpa bisa diketahui,” ujar Ken di Jakarta, Jumat (8/10/2021).

Ken mengungkapkan, yang tahu keberadaan mereka biasnya orang-orang terdekatnya, seperti orang tua. Selain itu untuk mengidentifikasi mereka, indikator yang bisa digunakan adalah melihat gerak-gerak mereka. Biasanya, para pengikut NII ini mempunyai kebutuhan infaq.

Kalau mereka tidak punya dana infaq, ungkap Ken, bisanya yang ditipu orang tuanya. Banyak sekali alasannya, ada yang beralasan habis nabrak motor, ngilangin HP, kamera, bahkan nabrakin mobil. Ironisnya banyak orang tua tidak tahu modus ini.

“Tiba-tiba dia pulang dengan kawannya, ngaku ngilangnin barang kawannya dan kawannya ngaku sehingga mau tak mau orang tua yang ganti. Padahal ini skenario mereka. Inilah jahatnya NII,” tukasnya.

Ken melanjutkan, mereka tipu-tipu orang tua karena doktrin mereka siapa saja orang diluar kelompoknya maka dia orang kafir, termasuk orang tua, bila belum ikut mereka. Mereka juga mendoktrinkan kondisi perang, dimana darah orang kafir itu, darah dan hartanya halal dan boleh diambil.

“Karena dalam perang ada namanya fai dan ghonimah diamana harta orang yang tidak sepaham itu bisa dipakai untuk perjuangan,” jelasnya.

Baca Juga:  Kumar, Pria Hindu Buat Kaligrafi Indah Untuk Ratusan Masjid Di India

Ken mengaku pernah menangani kasus seorang mahasiswa asal Bandung yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Dia menipu orang tuanya yang tinggal di Bandung dengan cerita telah memecahkan alat-alat laborarium di kampusnya. Dan temannya ikut meyakinkan orang tuanya.

“Jadi orang tuanya itu datang ke kampus menanyakan apakah anaknya pecahin alat laboratorium tersebut yang nilainya Rp300 juta. Namun dosennya memohon maaf kepada orang tua tersebut dan mengatakan bahwa anaknya sudah tidak kuliah lagi, sudah drop out dan bergabung dengan NII. Bahkan anak itu jadi  DPO di kampus karena merekrut kawan-kawannya,” jelasnya Ken.

Saat itu, lanjut Ken, orang tua itu gak percaya, karena ia menganggap anaknya tidak mungkin melkaukan itu. Pasalna sang anak hafiz quran beberapa juz, penurut, dan selalu komunikasi dengan orang tua. Orang tua itu baru percaya ketika ia meminta anaknya untuk menemui di kampus. Bukannya telepon orang tuanya diangkap, tapi malah dimatikan dan ia pun menghilang tidak tahu kemana sampai sekarang.

“Jadi yang jadi korban bukan hanya anak, tapi keluarga, sekolah dan kampus karena pemikiran radikalisme di dirinya itu bukan untuk dirinya sendiri, tapi dianggap harus disebarkan ke orang lain di sekitarnya. Seperti MLM, satu merekrut lima, lima rekrut 10. Ini sakaunya lebih bahaya dari Narkoba,” papar Ken.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Twit Abdulla Alamudi

Komentari Pelecehan Agama oleh Holywings, Kolumnis Media Qatar: Itu Bentuk Provokasi

Jakarta –  Pelecegahan agama yang dilakukan klub malam Holywings tidak hanya menyulut gejolak umat Islam …

Pernikahan beda agama

Nikah Beda Agama Disahkan PN Surabaya Preseden Buruk dan Resahkan Umat Islam

Jakarta – Beberapa waktu lalu Pengadilan Negeri (PN) Surabaya mensahkan pernikahan beda agama yang diajukan …