bertemu rasulullah
Nabi Muhammad

Nabi Muhammad : Sosok yang Bersahaja, Namun Luar Biasa, Refleksi Bulan Maulid

Peringatan Maulid Nabi selalu menjadi momentum mengingatkan umat Islam akan hari kelahiran sosok Sayyidul Wujud, yang karenanya Allah menciptakan segala sesuatu. Maulid Nabi atau hari kelahirannya selalu ditunggu sebagaimana semesta dulu menanti-nanti kelahiran bayi putra Abdullah dan Aminah. Karena, kelahiran beliau akan membawa rahmat bagi alam semesta dan seisinya. Bahkan kabar kelahiran Sang Uswah Hasanah telah tersiar jauh sebelumnya, sejak masa para nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad.

Tepat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah, menurut pendapat yang masyhur, manusia agung yang dinantikan terlahir. Tapi ia lahir dari keluarga biasa, bukan penguasa bukan pula raja. Kehidupannya pun bersahaja. Pernah mengganjal perutnya dengan batu karena lapar, tidur dengan alas tikar yang kasar, pernah kalah berperang, sedari kecil yatim, dan hidup serba kekurangan.

Lalu apa yang istimewa dari Nabi Muhammad? Beliau istimewa karena sedari kecil telah memiliki akhlak mulia. Karena memang misi kenabian yang diembannya tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Karena itu, kelahirannya ibarat vitamin yang mampu menyehatkan tubuh. Merubah karakter seseorang menjadi penyabar, tidak mudah marah, tidak mudah mencaci, dan tidak membunuh.

Kemuliaan Nabi Muhammad karena akhlaknya yang begitu mulia. Aisyah, istrinya, menyatakan, Nabi adalah al Qur’an yang berjalan, akhlak beliau apa yang tertera dalam al Qur’an. Nabi adalah al Qur’an itu sendiri.

Beliau istimewa karena mendedikasikan dirinya untuk keselamatan semua umat manusia, belas kasih, dan teramat penyayang. Dalam al Qur’an disebutkan, “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, amat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyanyang pula terhadap orang-orang yang beriman”. (QS. al Taubah: 128).

Baca Juga:  Memuliakan Nabi Muhammad Harus Dengan Kebaikan dan Keteladanan Bukan Provokasi, Apalagi Kata Kotor

Inilah Nabi Muhammad. Wajar kalau umat Islam selalu memperingati hari kelahirannya. Untuk membaca kisah-kisahnya supaya bisa dimaknai dan diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, merenungkan petuah-petuah, dan suri tauladannya. Sebab Nabi, adalah pelita (nur) yang tak pernah padam menerangi alam semesta.

Begitulah, wajar kalau sejak masa para sahabat dan tabi’in maulid Nabi Muhammad selalu diperingati. Potret antusiasme peringatan Maulid Nabi ditulis oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam kitabnya al Ni’matu al Kubra ‘ala al ‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam.

Abu Bakar berkata, “Siapa yang membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi, maka ia akan menjadi temanku di surga”. Begitu juga, Sayyidina Umar bin Khattab berkata, “Barang siapa mengagungkan Maulid Nabi, sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam. Utsman bin Affan berkata, “Siapa yang membelanjakan satu dirham untuk perayaan Maulid Nabi, sekaan-akan ia telah menyaksikan perang Badar dan Hunain”. Dan, Sayyidina Ali berkata, “Siapa yang mengagungkan Maulid Nabi, dan ia menjadi sebab terlaksananya pembacaan Maulid Nabi, maka akan mati dengan membawa keimanan dan masuk surga tanpa hisab”.

Maka, semangat memperingati Maulid Nabi semestinya terus bergelora dikalangan umat Islam. Untuk membaca sejarah hidup beliau, merenungkan kembali petuah-petuahnya, untuk meneladani uswahnya. Supaya tau seperti akhlak Baginda Nabi yang sesungguhnya.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kiamat

5 Pertanyaan Allah Kepada Manusia di Hari Kiamat

Mati itu pasti. Setiap orang, setiap yang bernyawa pasti mati. Selain Allah, semua pasti mati. …

Toa masjid

Apakah Perintah Mengeraskan Suara Adzan Harus Memakai TOA?

Sejak pertama kali ditemukannya teknologi mutakhir dengan Branding TOA, hingga saat ini ia menjadi branding …