sunni-syiah
sunni syiah

Hentikan Adu Domba dan Konflik Sunni-Syiah, Kalian Bersaudara!

Dilansir nahimungkar.org, dua da’i muda aliran sesat Syi’ah patut diwaspadai. Adalah Husein bin Ja’far al Haddar dan Ahmad Hasan Alaydrus yang disinyalir sebagai pengikut Syi’ah dan patut diwaspadai. Kalangan Ahlussunah wal Jama’ah harus berhati-hati karena banyak yang tidak mengetahui identitas keduanya sebagai penganut Syi’ah. Ironisnya, banyak kalangan Ahlussunah yang memviralkan ceramah mereka. Begitu laman tersebut menyebutkan.

Pola seperti ini sebenarnya lama dimainkan kelompok radikal untuk melabelisasi tokoh dan ulama tertentu yang mempunyai pikiran terbuka dan moderat. Masih ingatkah dengan labelisasi Syiah terhadap KH Said Aqil Siradj atau kepada Quraish Shihab. Namun, persoalannya adalah memang kenapa dengan Syiah? Apakah Syiah harus dibenci dan Sunni harus berhadap-hadapan dengan Syiah?

Pikiran saya kembali bernostalgia, menelusuri sejarah hitam konflik Sunni-Syiah yang banyak terjadi dibelahan dunia. Di Indonesia, meski skalanya tidak terlalu besar, konflik keduanya mulai ada. Lalu, bagaimana kita menyikapinya?

Tema di atas adalah ucapan Grand Syaikh al Azhar Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib disaat berkunjung ke Indonesia 2016 silam. Pesan utama yang disampaikan tentang persatuan (ukhuwah) Islam.

Kenapa pemimpin tertinggi Institusi al Azhar, Kairo, Mesir, yang kealimannya sangat termasyhur itu membela Syi’ah? Bukankah Syi’ah dituduh sesat?

Jawab beliau, “Ketika saya berdialog dengan sejumlah tokoh mereka (Syi’ah) tentang mencaci sahabat, mereka mengatakan, ‘mereka bukan representasi kami”.

Lalu, kenapa ada upaya peminggiran, persekusi dan bahkan kekerasan terhadap kelompok Syi’ah, termasuk di Indonesia?

Hemat saya, karena penilaian yang tidak jernih dan tidak mendasar terhadap Syi’ah. Kalau penilaian terhadap mereka jernih dan komprehensif, akan menuju kesimpulan yang sama seperti kesimpulan Syaikh Ahmad Thayyib.

Kenapa konflik Sunni-Syiah seakan tak pernah redup?

Pertama yang harus dipahami, keduanya lahir dari rahim yang sama, yaitu Islam. Kalau toh ada sempalan kelompok Syi’ah yang sesat secara akidah, bukan berarti merepresentasikan Syi’ah secara keseluruhan.

Tidak mustahil ada oknum yang muncul dari kedua madhab tersebut yang ekstrem, kemudian memprovokasi, dan menginginkan konflik terjadi antara Sunni-Syiah. Atau, bisa pula benturan antara keduanya karena desain politik untuk kemenangan atau ulah segelintir manusia yang menginginkan konflik terjadi di Indonesia, kemudian negara ini hancur.

Kegelisahan seperti ini juga dirasakan oleh Quraisy Shihab. Ia prihatin dengan perpecahan di tubuh umat Islam yang belum usai hingga saat ini.

Keprihatinan itu beliau ungkapkan melalui buku Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Disini, penulis Tafsir al Mishbah tersebut mengajak umat Islam, lebih utama kaum muslim terdidik, jangan hanya melihat dan memperuncing perbedaan keduanya, tapi juga penting mengkaji pemikiran keagamaan keduanya supaya mengerti dan mengetahui titik persamaan keduanya. Bahkan, beliau menulis kata pengantar; “Kesepahaman, Urat Nadi Persaudaraan Islam” untuk Buku Putih Mazhab Syiah yang diinisiasi oleh Tim Ahlul Bait Indonesia.

Terlihat jelas, Quraisy Shihab mengajak umat Islam untuk mengedepankan persaudaraan dan persatuan di tubuh umat Islam. Beliau memahami, perbedaan sebagai kenyataan tak terbantahkan. Perbedaan akan selalu ada selama dunia masih ada. Di tengah perbedaan itu, masih ada peluang untuk bekerja sama, saling menopang, saling menguatkan, dan perdamaian. Terlebih perbedaan itu terjadi diantara sesama muslim.

Bukankah lebih baik mengutamakan dialog dari pada menyemai konflik?

Dialog dua kelompok jauh seribu kali lebih baik. Dengan dialog, saling memahami dan menemukan titik persamaan lebih mungkin. Dalam konteks kebangsaan kita juga membawa manfaat besar. Potensi perpecahan bisa diminimalisir sehingga keutuhan negara tetap terjaga.

Konflik Sunni-Syiah telah banyak menelan korban jiwa sesama muslim. Tidak perlu lagi kita menambah kepiluan yang menyayat itu terulang lagi di negara kita ini. Indonesia yang selama tenang dalam damai tidak boleh dirusak gegara memperuncing konflik Sunni-Syiah, juga konflik-konflik lain yang menihilkan nilai-nilai kemanusiaan. Tenun kebangsaan kita mahal harganya, layakkah ditukar dengan persoalan remeh-temeh, hanya gegara perbedaan paham yang masih mungkin menemukan titik temu.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Check Also

ilmu agama di internet

Viral Anak Membunuh karena Media Sosial, Inilah 4 Aturan Fikih Mendidik Kesalehan Bermedia Sosial Anak

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang siswa sekolah menengah atas terhadap seorang bocah berumur …

Abdullah bin Abbas

Kisah Ibnu Abbas Menginsyafkan 2000 Muslim Radikal

Kisah ini diriwayatkan oleh beberapa orang perawi hadits seperti Thabrani, Baihaqi, Hakim dan Nasa’i. Satu …

escortescort