hijrah
hijrah

Hijrah Jangan Mudah Disalahartikan

Dalam satu dekade terakhir, kata hijrah menjadi sangat populer. Banyak orang-orang terkenal; artis, selebritis, musikus, pegawai kantor, pegawai bank, guru dan sebagainya menyatakan diri telah hijrah dengan cara meninggalkan pekerjaan lama mereka karena dianggap tidak syar’i, alias haram.

Anak-anak muda juga begitu, ramai-ramai mengaku telah hijrah karena beranggapan amaliah yang selama ini mereka lakukan merupakan tradisi jahiliah. Termasuk meninggalkan profesi yang dianggap haram, seperti musik, kerja di bank karena ada unsur riba, dan beragam jenis pekerjaan yang dianggap bertentangan dengan hukum agama.

Namun sayangnya, hijrah dalam perspektif mereka mengalami distorsi makna. Melenceng jauh dari makna sebenarnya. Padahal, apa yang mereka lakukan dengan jargon hijrah sebetulnya memiliki sisi kebaikan, minimal kesadaran untuk beragama yang lebih baik. Sayang seribu kali sayang, nihilnya ilmu agama yang dimiliki justeru menyeret mereka kepada hijrah yang tidak tepat dan meresahkan.

Makna Hijrah

Dalam bahasa Arab, hijrah berasal dari kata “Hajara” yang memiliki arti berpindah, bergerak, berpisah, mengambil bagian, menyerahkan diri dan arti-arti yang lain. Dengan demikian, semua perbuatan yang sesuai dengan makna “Hajara” disebut hijrah secara bahasa. Namun, hijrah secara bahasa belum tentu bisa dikatakan hijrah secara istilah atau hijrah menurut agama.

Secara istilah hijrah adalah penyebutan untuk perpindahan dan pergerakan Nabi bersama kaum Muhajirin dari Makkah ke Madinah untuk mencari suasana yang lebih nyaman dan lebih kondusif untuk berdakwah dan mengenalkan agama Islam.

Inilah hijrah Nabi. Mencari suasana baru yang lebih kondusif dengan niat menyebarkan agama Islam. Bukan niat yang lain. Walaupun perlu dicatat, sesampainya di Madinah, setelah umat Islam kuat dan ditakuti oleh mereka yang dulu membenci umat Islam, tapi Nabi dan kaum muslimin tetap memiliki akhlak yang baik dalam berdakwah.

Baca Juga:  Menyoal Kualitas Hadist dan Perbedaan Mengamalkannya dalam Aspek Akidah, Hukum dan Adab

Hijrah model saat ini, justeru memiliki prinsip yang berbeda dengan hijrahnya Nabi dan sahabat-sahabatnya, hijrah yang trend saat ini justeru meresahkan, sebab mereka yang mengaku telah hijrah melakukan provokasi dengan cara menyalahkan, bahkan sampai pada taraf mengkafirkan kelompok Islam lain yang tidak satu madzhab dengan mereka.

Hijrah bukan untuk Menyalahkan

Hijrah bukan seperti bayangan mereka. Sebab, Nabi sendiri telah mengingatkan para sahabatnya waktu itu supaya tidak mencederai hijrah sebagai ibadah yang mulia. Niat yang tulus supaya dikedepankan, yaitu berhijrah semata karena Allah dan rasul-Nya.

Hal ini sebagaimana ditulis oleh Ibnu Athaillah al Sakandari dalam kitabnya al Hikam. Siapa yang hijrah karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan rasul-Nya. Tapi siapa yang hijrah karena motivasi duniawi, seperti karena perempuan, maka itulah yang akan dinikmati. Tegas kata, siapa yang hijrah karena tujuan lain selain Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya tidak bernilai sama sekali.

Ibnu Hajibah dalam kitabnya Iqhadzu al Himam menulis, hijrah ada tiga macam. Yakni, berpindah dari medan maksiat menuju medan ketaatan, dari lalai ke sadar, dan dari alam jasmani ke alam rohani. Hijrah jenis terakhir diistilahkan pula dengan migrasi dari alam malak ke alam malakut, dari lahiriah fisik ke alam makna, dari ilmul yakin ke ainul yakin atau haqqul yakin. Jika hijrah itu perpindahan kepada tiga tempat tujuan ini dan diniatkan karena Alalh dan rasul-Nya niscaya telah hijrah dengan sebenarnya.

Dengan demikian, hijrah bukanlah sekedar perpindahan cara beragama secara formalitas seperti cara berpakaian, dengan siapa harus bergaul, dan penampilan formalitas beragama yang lain. Hijrah dengan perspektif sempit seperti ini justeru menimbulkan keresahan karena berpotensi menimbulkan perilaku ekstrim dalam beragama. Menyalahkan orang yang bermadhab lain, dan ujungnya pasti pengkafiran, halal darahnya dan boleh dibunuh.

Baca Juga:  Hati-Hati Menggunakan Aplikasi Islami ! Berikut Beberapa Aplikasi Milik Salafi Wahabi

Sikap yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Tapi ini tren hijrah yang terjadi saat ini. Untuk itu, diperlakukan satu upaya serius untuk menyadarkan mereka yang tergiur hijrah salah arti yang banyak digandrungi.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kisah nabi

Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Alkisah, penaklukan Makkah atau lebih tren disebut “Fathu Mekah” berjalan tanpa aral lintang, nyaris tanpa …

petasan dari kertas al quran

Viral Petasan Berbahan Kertas Al-Qur’an, Catat Ini Hukumnya!

Tak berapa lama berselang, jagad maya dihebohkan oleh kasus petasan berbahan kertas Al-Qur’an. Respon publik …