shalat gerhana
shalat gerhana

Hukum Shalat Gerhana Menurut Empat Imam Madhab

Hari ini, Ahad 20/06/2020 terjadi Gerhana Matahari Cincin (Annular). Sebagian kecil wujud matahari akan tertutupi oleh bulan. Peristiwa langit yang menakjubkan ini bisa disaksikan disebagian tempat di Indonesia secara langsung. Gerhana Matahari, atau dalam istilah bahasa Arab dikenal dengan Kusyuf al Syamsi terjadi saat bumi, bulan dan matahari benar-benar sejajar dalam garis lurus ditinjau dari perspektif tiga dimensi dimana bulan berada antara bumi dan matahari.

Dalam fikih, ada dua istilah yang dipakai untuk membahasakan gerhana. Seperti ditulis oleh Wahbah al Zuhaili dalam Fiqhu al Islam wa Adillatuhu, para ulama memakai istilah khusuf, dengan huruf kho’ untuk gerhana bulan dan kusuf, dengan huruf kaf, untuk gerhana matahari. Penyebutan dua istilah yang berbeda ini berkonsekuensi pada niat shalat sunnah gerhana akibat  gejala alam yang jarang terjadi ini. Yakni shalat Khusuf dan shalat kusuf.

Syihabuddin al Ramli dalam Nihayatu al Muhtaj ila Syarh al Minhaj menjelaskan, shalat gerhana adalah shalat yang dikerjakan dengan cara khusus, pada saat terjadi gerhana bulan atau matahari, baik terjadi gerhana total maupun sebagain (annular).

Dalam beberapa hadis, minimal ada tiga ibadah yang dianjurkan oleh Nabi ketika terjadi gerhana, baik Gerhana Bulan ataupun Gerhana Matahari. Yakni, shalat, dzikir dan shadaqah. Untuk shalat gerhana ada beberapa hadis Nabi yang bisa dijadikan hujjah atas Pensyariatannya. Salah satunya adalah sabda Nabi berikut.

Dari Abu Mas’ud, Rasulullah bersabda, sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang manusia, tetapi keduanya merupakan dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian menyaksikan dua gerhana tersebut, maka berdirilah shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga:  Tuntunan Islam Bila Terjadi Gerhana Bulan : Hukum, Tata Cara dan Niat Shalat Gerhana Bulan

Berdasar pada hadis ini para ulama sepakat bahwa shalat gerhana Matahari disyariatkan. Tetapi mereka beda pendapat mengenai hukumnya. Menurut mayoritas ulama hukum shalat gerhana Matahari sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan). Sementara menurut madhab imam Hanafi hukumnya wajib. Sedangkan shalat gerhana Bulan menurut madhab Maliki dan Hanafi hukumnya sunnah. Sedangkan Madhab Syafi’i dan madhab Hanbali berpendapat hukumnya sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan).

Menyimak keterangan di atas, maka saat terjadi gerhana matahari baik gerhana total maupun sebagian tentu kita harus mengambil pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat gerhana Matahari sunnah mu’akkadah. Disamping sebagai langkah yang hati-hati juga karena semua ulama sepakat terhadap pensyariatan shalat Sunnah gerhana Matahari.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …