gerhana bulan 1
gerhana bulan 1

Tuntunan Islam Bila Terjadi Gerhana Bulan : Hukum, Tata Cara dan Niat Shalat Gerhana Bulan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi akan terjadi gerhana bulan total atau Super Blood Moon, pada tanggal 26 Mei 2021. Ketika terjadi fenomena seperti ini, umat Islam dianjurkan untuk melakukan shalat gerhana bulan (shalat li khusufil Qamar).

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali seperti semula”. (Muttafaq’alaih, dan riwayat Imam Bukhari memakai redaksi “sampai terang kembali”).

Dari hadis, Nabi menganjurkan kepada umat Islam untuk berdoa dan shalat ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan. Dalam fikih, shalat gerhana ini dikenal dengan istilah shalat gerhana matahari (shalat li Kusufis Syamsi) dan shalat gerhana bulan (shalat li Khususufil qamari).

Selanjutnya, dalam hadis yang lain Nabi juga mengajarkan teknis atau cara pengerjaan shalat gerhana.

Dari Aisyah, Nabi mengeraskan bacaannya dalam shalat gerhana, beliau shalat empat kali ruku’ dalam dua rakaat dan empat kali sujud. (Muttafaq ‘alaih).

Lebih rinci cara shalat gerhana yang dilakukan oleh diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Terjadi gerhana matahari pada masa Nabi, beliau kemudian shalat. Beliau berdiri lama seukuran lamanya membaca surat al Baqarah, kemudian ruku’ lama, lalu bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ (lagi) cukup lama, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, lalu sujud dan berdiri lama namun lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ lama namun lebih pendek dari ruku’yang pertama. Setelah itu beliau mengangkat kepala lalu sujud. Selesai, dan matahari telah terang, lalu beliau berkhutbah dihadapan orang-orang”. (Muttafaq ‘alaih).

Baca Juga:  Fikih Puasa (4) : Berjualan Makanan di Siang Hari Ramadan

Hukum dan Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Dengan demikian, cara mengerjakan shalat gerhana adalah dua rakaat seperti shalat sunnah yang lain. Bedanya, dalam setiap rakaat dua kali ruku’. Kemudian Imam berkhutbah kali seperti shalat Ied.

Dalam Hasyiah al Bujuri karya Ibrahim al Bajuri, shalat gerhana matahari disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Sedangkan shalat gerhana bulan menurut pendapat yang kuat (rajih) disyariatkan pada tahun kelima Hijrah tepatnya pada bulan Jumadil Akhir.

Sedangkan hukum mengerjakan shalat gerhana ini, sebagaimana ditulis oleh Imam Nawawi dalam kitabnya al Majmu’, ijma’ ulama mengatakan hukumnya sunnah mu’akkadah. Akan tetapi menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, shalat gerhana bulan dikerjakan sendiri-sendiri dua rakaat seperti shalat sunnah yang lain.

Imam Nawawi al Bantani dalam Nihayatuz Zainnya menjelaskan, shalat gerhana, baik shalat gerhana matahari dan gerhana bulan, dianjurkan dikerjakan dengan berjamaah. Dan termasuk tipe shalat sunnah yang sangat dianjurkan.

Bagaimana bila saat gerhana baik matahari maupun bulan tertupu mendung, atau sebab lain sehingga saat terjadi gerhana tidak kasat mata?

Dalam Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah dijelaskan, jika awan menutupi bulan atau matahari sehingga diragukan apakah keduanya telah bersinar atau telah normal, tetap dianjurkan untuk mengerjakan shalat gerhana, karena hukum asalnya adalah tetapnya shalat gerhana.

Akan tetapi, jika bulan tertutup mendung dan seseorang menduga apakah terjadi gerhana atau tidak, maka shalat gerhana tidak anjurkan sampai ada kenyataan (yakin) terjadinya gerhana. Hanya menurut ulama madhab Imam Malik jika bulan tidak terlihat saat gerhana maka tidak dianjurkan shalat gerhana.

NIat Shalat Gerhana Bulan

Adapun niat shalat gerhana bulan adalah:

اصلي سنة الخسوف ركعتين إماما/مأموما لله تعالى

Baca Juga:  Mengenal Darah Haid dan Tata Cara Mandi Setelah Haid

Ushalli sunnatal khusif rak’ataini imaman/makmuman lillahi ta’ala

“Saya shalat sunnah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah”.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

kisah nabi

Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Alkisah, penaklukan Makkah atau lebih tren disebut “Fathu Mekah” berjalan tanpa aral lintang, nyaris tanpa …

petasan dari kertas al quran

Viral Petasan Berbahan Kertas Al-Qur’an, Catat Ini Hukumnya!

Tak berapa lama berselang, jagad maya dihebohkan oleh kasus petasan berbahan kertas Al-Qur’an. Respon publik …