status Medsos

Hukum Update Status dan Komenter di Medsos yang Mencaci dan Menyakiti

Media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram dan sejenisnya hampir saja menjelma menjadi kebutuhan primer manusia. Telah mencandui pikiran manusia. Bahkan rela sehari penuh mengisi berbagai konten di media-media tersebut. Setiap momen penting, bahkan kadang yang tidak penting sekalipun, diabadikan dalam kata, foto dan video.

Lazimnya, update status di dinding dunia maya merupakan bentuk ekspresi emosi yang sedang dialami. Apakah seperti ini salah? Belum tentu. Sebab sarana apapun yang ada di dunia ini nilai pemanfaatannya, duniawi maupun ukhrawi, tergantung kepada niatnya. Seperti update status di beberapa media di atas, bila isinya untuk kebaikan maka akan bernilai pahala. Namun bila sebaliknya, tentu berdosa.

Bagaimana kalau update status yang tujuannya untuk menyakiti orang lain, baik dengan bahasa yang vulgar ataupun berupa kalimat sindiran?.

Dalam Is’adu al Rafiq, Muhammad Ibnu Salim Ibnu Sa’id menulis, termasuk maksiat tangan adalah menulis sesuatu yang dilarang diucapkan. Dalam kaedah fikih dinyatakan, “Tulisan sama dengan hukumnya dengan ucapan”.

Imam Ghazali, dalam karyanya Bidayatu al Hidayah (juz. 1, hlm. 16) menyatakan, tangan yang baik adalah tangan yang tidak memukul muslim yang lain, tidak digunakan untuk memperoleh harta haram, tidak digunakan untuk menyakiti makhluk, tidak digunakan untuk menulis sesuatu yang haram diucapkan. Sebab tulisan lebih berbahaya dari lisan.

Hal yang yang sama bisa dibaca dalam kitab Maraqi al ‘Ubudiyah (hlm.73) karya Imam Nawawi al Bantani, dalam kitab tersebut diterangkan bahwa tangan dilarang menulis sesuatu yang dilarang untuk diucapkan. Karena tulisan sejatinya adalah ucapan lisan yang dibahasakan.

Dari paparan di atas telah jelas, bahwa update status di media sosial yang menyakiti orang lain hukumnya haram. Kelak di hari pembalasan akan dimintai pertanggung jawaban dari dosa tersebut. Dan, dosa demikian tidak akan diampuni oleh Allah sebelum meminta maaf kepada orang yang tersakiti oleh sebab status yang ditulisnya.

Baca Juga:  Fikih Hutang (3) : Etika Orang yang Berhutang

Dan, bukankah Allah berfirman, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Yaasin: 65).

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri