Ibnu Ummi Maktum : Sahabat yang Membuat Rasul Ditegor Allah dengan Sebutan Muka Masam

0
942
Ibnu Ummi Maktum

Abdullah bin Ummi Maktum merupakan salah satu dari sahabat Nabi yang memiliki kekurangan fisik, namun memiliki tabiat yang mulia. Beliau lahir dari kandungan seorang wanita bernama Ummi Maktum yang memiliki nama asli Atikah binti Abdillah bin Ankatsah bin Amir bin Makhzum bin Yaqadhah Al-Makhzumiyah.

Sahabat ini sangat istimewa. Karena sahabat ini Allah pernah menegor Nabi Muhammad. Dan salah satu tegoran ini terekam dalam surat Abasa dalam al-Quran.

Ibnu Ummi Maktum memutuskan masuk Islam sejak ia berada di kota Makkah dan ikut hijrah setelah perang Badar usai. Meskipun ia tunanetra, namun ia memiliki tugas yang sangat penting ketika di Madinah, yakni sebagai muadzin Rasulullah bersama Bilal.

Tugasnya sebagai muadzin diungkapkan oleh Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, “Sungguh jika Bilal adzan di malam hari (adzan pertama di fajar kadzib), maka makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum memanggil. Ia adalah buta, ia tidak akan memanggil sampai dikatakan kepadanya bahwa telah pagi-telah pagi.”

Kisah ini berawal dari Ibnu Maktum yang datang menyela pembicaraan penting kepda Rasulullah. Rasulullah seakan tidak menghiraukan kedatangan Ibnu Ummi Maktum yang karena sedang berdiskusi penting dengan pembesar Quraisy yang bertanya tentang Islam.

Allah lantas memberikan teguran kepada Nabi. Tentunya Rasulullah bertindak seperti itu karena ada alasannya, yakni Beliau sedang membujuk para Quraisy untuk masuk agama yang Ia bawa, sedangkan Ibnu Ummi Maktum telah beragama Islam.

Teguran itupun tertuang dalam al-Quran dalam surat ‘Abasa ayat 1-16. Allah berfirman:

Artinya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.

Baca Juga:  Kisah Imam Bukhari Diuji oleh Sepuluh Ahli Hadis

Nabi Muhammad lalu memanggil Abdullah bin Ummi Maktum untuk meminta maaf atas kesalahannya dan untuk pertama kalinya menunjuk Ibnu Ummi Maktum menjadi wakil beliau di kota Madinah. Sejak saat itulah, Rasulullah semakin memuliakan sang muazin yang memiliki keterbatasan fisik ini.

Tegoran yang diberikan Allah kepada Rasulullah juga patut menjadi tegoran bagi kita semua untuk tidak mengacuhkan seseorang karena status dalam memberikan pengajaran. Allah memerintahkan kepada Rasul dan juga pelajaran bagi umatnya untuk tidak menganggap orang istimewa. Semua sama rata antara orang yang mulia dan orang yang lemah, orang yang miskin dan orang yang kaya, orang merdeka dan budak, laki-laki dan wanita, serta anak-anak dan orang dewasa.

Tidak ada hal yang istimewa bagi Allah. Karen Allah-lah yang akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Bukan karena keputusan dan cara kita mengistemewakan seseorang.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan