cinta dalam islam
islam agama cinta

Inilah Makna Hadits “Agama Adalah Nasehat”

Dalam hadits Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadits no. 55 dan no. 95 yang berbunyi:

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Agama adalah nasihat. Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapa nasihat itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Nasihat untuk Allah, kitab Allah, bagi Rasul Allah, para imam umat Islam dan orang awam dari kalangan mereka.”

”Agama itu nasihat.” Itulah petikan hadis yang sering disampaikan di majelis-majelis ilmu.

Kata an-nashihah berasal dari kata na-sha-ha, yang dalam pengertian hadits di atas adalah upaya memberikan pesan yang baik. Definisi inilah yang berkaitan dengan nasihat dan tepat jika nasihat itu ditujukan kepada pemimpin muslim dan rakyatnya.

Jika nashihat dalam hadis di atas diartikan sebagai memberikan pesan yang baik, tentu saja akan ada kejanggalan ketika kata itu ditujukan kepada Allah, kitab-Nya, dan rasul-Nya. Justru, orang-orang berimanlah yang seharusnya membutuhkan pesan-pesan kebaikan dari Allah, kitab-Nya, dan rasul-Nya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu al-Mandhur, tentang makna nashihat yang tepat. Menurutnya adalah akhlasha, yang berarti memurnikan. Akan tetapi, kata lain yang paling tepat untuk kata tersebut adalah komitmen. Ini berdasarkan makna nashaha yang ada pada frasa kata taubatan nashuha.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya…..(QS. al-Tahrim: 8). Sehingga bisa diartikan taubat dengan penuh komitmen.

Baca Juga:  3 Penyakit Berbahaya yang Merasuki Umat Manusia Melebihi Virus Corona

Dengan demikian, hadits tersebut akan bisa dipahami yakni: Agama adalah komitmen kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin orang-orang beriman, dan orang-orang beriman secara keseluruhan.

Berbicara tentang komitmen, tentu merupakan suatu hal yang tidak mudah. Sehingga jarang orang berhasil dalam berkomitmen. Itu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keyakinan yang mudah goyah, gaya hidup yang tidak benar, pengaruh lingkungan, hingga ketidakmampuan mengatasi berbagai persoalan kehidupan.

Al-Qur’an menyebut ketaatan kepada uli al-amri setelah Allah dan rasul-Nya. Kepatuhan inilah yang menjadi sebuah komitmen. Karena itu, apabila seseorang mendapatkan amanah untuk menjadi pemimpin misalnya, maka ia harus memiliki komitmen yang kuat kepada masyarakat. Jika ia tidak memiliki komitmen yang kuat kepada masyarakat, maka sebenarnya ia telah mengabaikan agama, karena itu merupakan bagian dari menjalankan ajaran agama.

Ketika kita sudah ikhtiar semaksimal mungkin, dan berdoa sebanyak-banyaknya, kita harus tetap yakin dengan janji Allah. Disaat melandasi hidup ini dengan ketaqwaan, akan mendapatkan keberuntungan, dimudahkannya urusan, diberi jalan keluar dari permasalahannya, dan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebagaimana dalam surah at-Thalaq:2-3

وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ،وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Dan sabar menjadi syarat untuk itu semua. Oleh karena itu, jika ingin mengoptimalkan integritas, maka kita juga harus melejitkan potensi untuk meraih kesuksesan, dengan senantiasa mentadabburi al-Qur’an. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Ikhsan Hidayat

Avatar of Muhammad Ikhsan Hidayat
Peneliti di Pon-pes Dar al-Qolam Semarang

Check Also

sulit bersyukur

Merasa Sulit Bersyukur? Kenali Penyebabnya

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka …

doa 10 hari terakhir ramadan

Amalan Menjelang Ramadan: Perbanyak Doa Ini

Saat ini kita sudah memasuki akhir bulan Sya’ban. Itu artinya, bulan yang penuh dengan keberkahan …