sumber foto : geotimes.co.id

Sistem pendidikan di Indonesia memang jauh dari kata sempurna. Mulai dari sistem kurikulum, tenaga pendidik, fasililitas pendidikan hingga murid yang dibimbing. Masing-masing memiliki banyak ketidaksempurnaan yang beraneka ragam. Ketidaksempurnaan itu bertambah kacau dengan hadirnya sejumlah praktik-praktik diskriminasi, intoleransi, radikalisme dan bullying di berbagai sekolah.

Belakangan viral kasus siswa Pramuka di sebuah Sekolah Dasar Negeri di Yogyakarta yang diajari menyanyikan yel-yel “Islam Yes, Kafir No!”. Sebetulnya ini bukan kasus baru, yel-yel semacam ini. Jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata yel serupa banyak digaungkan di sekolah-sekolah yang -biasanya- berbasic keagamaan -yang tentu kita boleh saja menyebutkan fakta bahwa kebanyakan kasus semacam ini terjadi di sekolah berbasis Islam Terpadu (IT). Meskupun tidak menutup fakta lain bahwa ada kasus serupa di sekolah negeri maupun swasta.

Sebelumnya, viral juga kasus intimidasi Rohis kepada siswi di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tidak mengenakan Jilbab, anak-anak Sekolah yang dijari menyanyikan yel-yel politik, melontarkan ujian kebencian kepada orang lain, kebijakan sekolah yang intoleran, anak-anak TK yang didandani seperti pasukan teroris ISIS -kasus tahun 2018-, hingga anak-anak yang diajak orang tuanya melakukan aksi bom bunuh diri -Surabaya 2018-, dan seabrek kasus lainnya.

Bejibun kasus intoleran dan diskriminatif di dunia pendidikan sudah saatnya disambut kepalan tangan oleh Kemdikbud kita. Sayangnya di periode lalu, kemdikbud tidak benar tegas merespons kasus semacam itu. Periode ini, Kemdikbud harus punya kebijakan tegas dalam membendung dan menanggulangi doktrin-doktrin ajaran ilegal untuk melakukan ujaran kebencian, intoleran, diskriminasi dan tentu saja radikalisme serta terorisme di sekolah-sekolah.

Menanamkan Toleransi

Dalam menanggulangi kasus penanaman nilai dan sikap intoleran di dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya cukup mudah. Sebagaimana sertifikasi pra-nikah, pemerintah juga harus menerapkan pula sertifikasi sebelum menjadi guru. Sebuah sekolah harus bisa menghadirkan tenaga pendidik berkualitas, sekalipun hanya pembimbing ekstrakurikuler.

Guru agama menjadi salah satu profesi yang paling wajib dilakukan sertifikasi. Beberapa kasus intoleransi di dunia pendidikan kita, berasal dari kekeliruan dalam memahami ajaran agama para guru-guru agama di sekolah.

Selain sertifikasi tenaga pendidik, pembinaan Rohis sekolah juga perlu diperketat. Sebagian besar rohis di dunia pendidikan Indonesia didominasi oleh kelompok-kelompok yang setuju dengan tindakan intoleran dan ujaran kebencian. Sebagaimana yang telah terjadi beberapa minggu lalu di sebuah SMA di Sragen.

Rohis-rohis di Sekolah Negeri harus mendapat bimbingan khusus dari seorang yang benar-benar ahli dan moderat dalam beragama. Ini untuk memperkecil celah kemungkinan Rohis kembali disusupi paham-paham anti-toleransi yang menghalalkan praktik-praktik diskriminasi dan ujaran kebencian.

Pemerintah -Kemdikbud tentunya- harus mulai membuka mata dan bergerak nyata melihat banyaknya kasus intoleransi di dunia pendidikan. Jangan sampai kedepan nanti permasalahan bangsa selain kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran, adalah intoleransi dan ujaran kebencian yang terus dipupuk dan diajarkan sejak Sekolah Dasar. Mereka adalah racun-racun yang berbahaya bagi masa depan peradaban bangsa Indonesia.