028936700 1622251249 030265500 1621185503 1280 856
028936700 1622251249 030265500 1621185503 1280 856

Israel Bersikeras Tolak Diselidiki Dewan HAM PBB

JENEWA – Konflik berkepanjangan antara Israel-Palestina seakan tidak berujung, berbagai jalan ditempuh untuk mendamaikan kedua negara, dimulai dengan pembagian wilayah yang kemudian dikianati oleh Israel dengan melakukan pendudukan dan pembangunan pemukiman bagi warganya diatas tanah Palestina, hingga usulan two state solution (solusi dua negara).

Selain kedua negara yang berkonflik, negara-negara tetangga dan beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS) tidak pernah mempunyai keseriusan dalam upaya penyelesaian konflik, termasuk tidak mempunyai ketegasan ketika agresi Israel menggempur Palestina. Hingga akhirnya memunculkan sikap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengusut tindak kejahatan perang di Israel-Palestina.

Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya sepakat meluncurkan penyelidikan internasional atas dugaan kejahatan selama konflik 11 hari antara Israel dan Hamas di Gaza, Palestina. 

Meski penyelidikan akan dilakukan terhadap kedua pihak, Israel langsung menolak mentah-mentah keputusan tersebut dan menyatakan tidak akan bekerja sama selama proses penyelidikan. Keputusan melakukan penyelidikan disepakati Dewan HAM PBB melalui pemungutan suara pada Kamis (27/5) dalam sesi khusus yang diprakarsai Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). 

Dari 47 anggota Dewan HAM, sebanyak 24 negara memberikan dukungan, sembilan negara menentang, dan 14 lainnya abstain. Resolusi itu menyerukan dibentuknya Commission of Inquiry/COI atau komisi penyelidikan permanen untuk memantau dan melaporkan pelanggaran hak di Israel, Gaza, dan Tepi Barat. Ini akan menjadi COI pertama yang memiliki mandat “berkelanjutan”.

“Komisi juga akan menyelidiki semua akar penyebab ketegangan yang berulang, ketidakstabilan, dan berlarut-larutnya konflik, termasuk diskriminasi dan penindasan,” demikian isi teks resolusi, seperti dikutip dari Aljazirah dDwan republika.id Jumat (28/5). 

Investigasi fokus mencari fakta dan mengumpulkan bukti untuk proses hukum. Selain itu, harus bisa mengidentifikasi pelaku agar mereka bisa dimintai pertanggungjawaban.

Palestina menyambut baik resolusi yang dikeluarkan Dewan HAM PBB. Pihak Palestina mengatakan, resolusi tersebut merupakan pengakuan internasional atas penindasan sistemis Israel dan diskriminasi terhadap rakyat Palestina. “Realitas apartheid dan impunitas tidak bisa lagi diabaikan,” demikian pernyataan Palestina.

Baca Juga:  DP MUI: Perubahan Status Hagia Sophia Hak Prerogatif Erdogan

Sementara, Israel langsung menolak resolusi yang diadopsi forum Jenewa. Pemerintah Israel dengan tegas menolak kerja sama tentang resolusi itu.  “Keputusan memalukan hari ini adalah contoh lain dari obsesi anti-Israel Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang terang-terangan,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah pernyataan. 

Kementerian Luar Negeri Israel dalam pernyataannya menyampaikan, pasukannya bertindak sesuai dengan hukum internasional dalam membela warga Israel dari tembakan roket Hamas yang tidak pandang bulu. “Israel tidak dapat dan tidak akan bekerja sama dengan penyelidikan semacam itu,” demikian pernyataan Kemenlu Israel seperti dilansir Sputnik, Kamis. 

Seorang juru bicara Hamas menyebut tindakan pihaknya sebagai perlawanan yang sah. Hamas juga menyerukan langkah segera untuk menghukum Israel.

Sekutu utama Israel, Amerika Serikat menyatakan sangat menyesalkan keputusan di forum Dewan HAM tersebut. “Tindakan hari ini malah akan membahayakan kemajuan yang telah dibuat,” begitu pernyataan yang dikeluarkan oleh misi AS untuk PBB di Jenewa.

Sementara, negara-negara Eropa terpecah. Austria, Inggris, dan Jerman memberikan suara menentang. Prancis dan Belanda abstain.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet pada Kamis (27/5) mengatakan, pihaknya telah memverifikasi wafatnya 270 warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, termasuk 68 anak-anak, selama serangan Israel. Sebagian besar gugur di Gaza. “Sementara, roket Hamas menewaskan 10 orang Israel dan penduduk,” katanya. 

Otoritas Israel menyebutkan, jumlah warga mereka yang terbunuh oleh serangan Hamas di Israel sebanyak 13 jiwa. Bachelet menilai, Hamas juga telah melakukan pelanggaran hukum humaniter internasional karena melakukan serangan roket tanpa pandang bulu. 

“Roket Hamas tidak pandang bulu dan gagal membedakan antara objek militer dan sipil. Dan, penggunaannya dengan demikian jelas merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional. Namun, tindakan salah satu pihak tidak membebaskan pihak lain dari kewajibannya berdasarkan hukum internasional,” kata Bachelet saat membuka sesi sidang Dewan HAM PBB tentang Palestina di Jenewa, Swiss, Kamis (27/5).

Baca Juga:  Ritual Mandi Bersama, Jimat dan Kondom di Aliran Hakekok

Menurut dia, Israel juga berpotensi melakukan kejahatan perang. Bachelet mengatakan, serangan udara Israel ke daerah padat penduduk di Gaza mengakibatkan tingginya korban jiwa dan cedera sipil.

Selain itu, serangan tersebut memperluas kerusakan infrastruktur di Gaza. “Terlepas dari klaim Israel bahwa banyak dari bangunan ini menjadi tempat kelompok bersenjata atau digunakan untuk tujuan militer, kami belum melihat bukti dalam hal ini,” kata Bachelet.

Pada kesempatan itu, dia pun menyoroti tentang pentingnya menyelesaikan akar penyebab konflik Israel-Palestina. Jika akar penyebab tidak ditangani, sangat mungkin akan kembali terjadi konflik dan menimbulkan penderitaan bagi warga sipil di kedua pihak.

Pada 21 Mei lalu, Israel dan Hamas menyepakati penerapan gencatan senjata. Hal itu tercapai setelah pertempuran berlangsung selama 11 hari, yakni sejak 10 Mei. Pertempuran antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza tak terlepas dari meningkatnya ketegangan di Yerusalem Timur. 

Sejak awal bulan ini, warga Palestina di Yerusalem Timur menggelar aksi demonstrasi menentang rencana Israel menggusur sejumlah keluarga Palestina yang tinggal di lingkungan Sheikh Jarrah. Namun, aksi itu direspons represif oleh aparat keamanan Israel.

Situasi memburuk saat aparat keamanan Israel menggeruduk Masjid al-Aqsha dan menyerang jamaah di dalamnya. Hal itu yang turut memicu Hamas meluncurkan serangan ke Israel. 

Harus berperan 

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid (HNW) mendesak pemerintah sebagai anggota Mahkamah HAM PBB ikut berperan aktif meyakinkan Komisi HAM PBB bahwa telah terjadi kejahatan perang dalam serangan brutal Israel ke Gaza, Palestina.

HNW mengatakan, kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel harus diusut secara tuntas melalui Dewan HAM PBB. “Karena gencatan senjata seharusnya tidak justru untuk menutupi atau memaafkan atau memaklumi kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel tersebut,” ujar Hidayat Nur Wahid. 

Baca Juga:  Pandemi Corona, Muslim AS Bantu Kebutuhan Warga Kurang Mampu

HNW mengapresiasi langkah sejumlah negara Muslim, terutama atas usulan Pakistan sebagai koordinator OKI, yang mendesak agar Dewan HAM PBB menyelidiki dugaan kejahatan perang dalam serangan Israel ke Palestina.

“Selaku anggota Dewan HAM PBB, Indonesia mestinya bisa meyakinkan Komisi HAM PBB bahwa yang dilakukan oleh Israel itu memang adalah kejahatan perang. Jadi, bukan hanya kemungkinan lagi, sebagaimana dinyatakan oleh Komisioner Tinggi HAM PBB,” ujar wakil ketua Majelis Syuro PKS ini.

HNW menjelaskan, kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel terhadap Gaza mudah dilihat secara gamblang, terutama dengan merujuk kepada Konvensi Jenewa 1949 serta Konvensi Den Haag yang mengharuskan memberikan perlindungan kepada warga sipil pada saat keadaan perang. Sementara serangan Israel ke Palestina selama 11 hari telah menelan korban jiwa 232 penduduk sipil Jalur Gaza, Palestina, dan 65 orang di antaranya adalah anak-anak.

“Apalagi, bukan hanya warga sipil. Israel juga memborbardir sejumlah kantor media di Gaza dan di antara korbannya baik yang luka maupun gugur adalah para wartawan. Padahal, sesuai konvensi Wina jurnalis merupakan salah satu elemen yang wajib dilindungi pada saat perang sekalipun,” ujarnya.

Menurut HNW, sikap Israel yang melanggar HAM dan konvensi internasional ini sudah dilakukan berulangkali. Sejumlah pegiat HAM juga kerap mengkritik adanya kejahatan perang karena Israel menggunakan kekuatan berlebihan yang mengorbankan banyak warga sipil, bahkan anak-anak.

“Tindakan Israel kali ini harus benar-benar diusut dan diberikan sanksi agar kejahatan HAM apalagi kejahatan perang serupa tidak berulang kembali seperti sebelumnya,” kata dia.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

020437300 1629024024 830 556

Ini 3 Ayat Alquran Isyaratkan Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Jakarta – Memahami teks-teks Alquran tidaklah mudah, dibutuhkan keilmuan yang mumpuni, bukan sekedar ilmu bahasa, …

umat muslim bersiap melakukan sholat berjamaah dengan menerapkan protokol

Fenomena Mana Dalilnya & Pentingnya Belajar Alquran Secara Baik

JAKARTA – Al-Quran bukan hanya sekedar kitab suci yang bertuliskan perintah dan larangan, namun juga …