Ibadah bukanlah sekedar menengadah terhadap Allah sampai tubuh merasa kelelahan. Bekerja juga bagian pemenuhan seseorang dalam menjalankan kewajibannya. Perlu diingat bahwa Nabi pun yang ditunjuk Allah untuk menegakkan ajaran agama tetap berusaha mencari nafkah untuk keluarga dan badannya sendiri.

—————————————-

Allah adalah Zat Maha Pemberi Rizki. Allah tidak akan melupakan hambanya untuk mencukupi kebutuhan mereka dalam kehidupan selagi mau berusaha. Rasulullah juga telah memberitahu kita bahwa rizki merupakan sesuatu yang sudah ditetapkan. Jadi tidaklah patut seorang muslim khawatir tentang rizki yang nantinya akan tertukar.

Karena janji tersebut menjadi keyakinan banyak sekali orang-orang yang terlalu optimis sehingga mereka enggan berusaha lebih menjemput rizki dari Allah karena cukup percaya Allah akan memenuhi kebutuhan hambanya. Bahkan tak sedikit pula mereka yang lebih sibuk untuk menikmati ibadah dan memohon kepada Allah, namun tanpa mereka sadari telah melupakan tanggungjawab keluarga yang juga wajib ia nafkahi.

Perlu disadari bahwa memburu kenikmatan akhirat sangatlah penting, tetapi upaya tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kenikmatan dunia. Beribadah bukan berarti menciptakan sikap bermalas-malasan dalam mencari nafkah. Allah berfirman dalam surat An-Naba ayat 11 :

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Artinya: “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”

Dalam ayat di atas Allah seakan telah menggariskan siklus aktifitas manusia. Allah memberikan waktu siang hari agar dipergunakan secara baik untuk mencari nakfah atau riski untuk kebutuhan dunianya. Mencari nafkah dan bekerja adalah siklus alamiah yang harus dijalani oleh manusia.

Ibadah bukanlah sekedar menengadah terhadap Allah sampai tubuh merasa kelelahan. Bekerja juga bagian pemenuhan seseorang dalam menjalankan kewajibannya. Perlu diingat bahwa Nabi pun yang ditunjuk Allah untuk menegakkan ajaran agama tetap berusaha mencari nafkah untuk keluarga dan badannya sendiri.

Baca Juga:  Pentingkah Label Halal?

Lihatlah Nabi Adam yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan Bertani. Nabi Nuh menjadi tukang kayu agar mendapatkan uang dari hasil kerajinannya. Dan Nabi Muhammad melakukan usaha berdagang serta menggembalakan kambingnya.

Apakah lantas kita sebagai manusia biasa merasa tidak malu jika dalam kehidupan kita hanya meminta dan menengadah kepada kepada Allah saja tanpa memikirkan kebutuhan keluarga dan diri yang juga wajib untuk diberikan kehidupan? Padahal manusia pilihan Allah saja memberikan kita contoh untuk tetap berusaha mencari riski ketika kita masih diberikan hidup.

Di tengah kehidupan para nabi Allah dalam mengejar akhirat, namun mereka tetap tidak melupakan untuk bekerja memenuhi kebutuhan dunianya. Memeras keringat dan membanting tulang guna mendapatkan nafkah untuk bekal setiap hari adalah bagian tidak terpisah dari siklus aktifitas yang ditakdirkan Allah kepada manusia.

Karena itulah, wajib bagi setiap muslim untuk bekerja, berusaha, bersungguh-sungguh dan tidak menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya. Orang yang hanya duduk diam, ia bukanlah mutawakkil (orang yang tawakal), melainkan ia adalah mutawaakil (orang yang pura-pura tawakkal).

Tidak ada alasan untuk selalu beribadah sementara melupakan tanggungan diri dan keluarga. Tidak ada asalan ibadah jika hanya memupuk sikap bermalas-malasan. Ingatlah janji Allah bahwa perubahan nasib seseorang akan dinilai oleh Allah melalui usaha mereka.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11).

 

Effa Novavita

Tinggalkan Balasan