bilal
bilal

Keteguhan Iman dan Kekuatan Cinta Bilal terhadap Rasul

Bilal bin Rabbah merupakan muadzin pertama yang mendapat kepercayaan langsung dari Rasulullah untuk mengumandangkan adzan sebagai penanda panggilan waktu solat. Sahabat ini memang sangat istimewa. Ia adalah sahabat Rasulullah yang berasal dari Habasyah (sekarang Ethiopia) dan termasuk Assabigunal Awwalun (Golongan orang yang pertama masuk Islam) dari kalangan budak.

Saat pertama kali masuk Islam, Bilal merupakan budak dari Ummayyah bin Khalaf, salah seorang pembesar kaum Quraish. Karena majikan bilal tidak rela budaknya menjadi seorang muslim, maka merekapun mulai menyiksa Bilal dengan menjemurnya di terik matahari. Bilal di gelandang ke tengah padang pasir yang tandus.

Para Algojo dari Umayyah melucuti pakaiannya lantas diganti dengan pakaian berbahan besi. Begitu besar siksaan yang didapat tak membuat dirinya merubah tekat dan imannya untuk teguh menjadi hamba Allah.

Tak hanya sampai disitu, siksaan Umayyah semakin menjadi-jadi hingga ia mencambuk dan menindih bilal dengan batu yang sangat besar. Umayyah meminta bilal untuk menyembah latta dan uzza, tetapi bilal tetap teguh kepada keimananya. Keteguhan iman Bilal membuat Umayyah semakin jengkel. Oleh karena itu ia lantas mengikat leher Bilal dengan tali lalu menyeretnya di sepanjang jalan.

Ketika itu sahabat Rasulullah, Abu Bakar As-Siddiq tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh Umayyah kepada Billal, membuat dirinya berkeinginan untuk membebaskan budak muslim tersebut. Abu Bakar mengajukan penawaran kepada Umayyah untuk membebaskan Bilal darinya.

Namun keinginan Abu Bakar tak berjalan mulus. Umayyah menaikkan harga Bilal berkali-kali lipat. Karena Abu Bakar sudah memiliki tekad yang bulat untuk membebaskan Bilal, maka Abu Bakar pun rela membayar uang sejumlah yang diinginkan oleh Umayyah. Setelah berhasil membebaskan Bilal, maka seketika itupun Abu Bakar memberi tahu Rasullah.

Baca Juga:  Kamu Mencintai Rasul, Mana Buktinya? Rasul Lebih Mencintaimu!

Ketika Rasullah hijrah menuju Madinah, Bilal merupakan salah satu sahabat yang ikut dalam perjalanan hijrah Rasullah. Sesampainya di Madinah Bilalpun mencurahkan seluruh perhatianya untuk mendampingi Rasulullah, ia selalu mengikuti kemanapun Rasullah pergi.

Bilal termasuk di antara salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Ini seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan dalam Hadits Bukhori.

.. فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ …

“Sesungguhnya aku mendengar suara gerakan dua sandalmu (Bilal) di hadapanku di surga”.

Suatu ketika usai Sholat Subuh, Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal, ‘Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam. Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu (sejenis alas kaki) di depanku di surga,”

Bilal menjawab, “Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan salat (sunah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.” (HR Muslim)

Maka ketika Rasullah selesai membangun masjid Nabawi dan menetapkan adzan, bilal secara spesial diberi kepercayaan dengan ditunjuk oleh Rasullah untuk menjadi muazzin pada saat itu. Secara tidak langsung Bilal ditasbihkan menjadi orang pertama yang mengumandangkan adzan di muka bumi ini.

Ketika Rasulullah wafat pada Senin 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah, Bilal bin Rabbah memutuskan berhenti menjadi Muadzin Rasul. Dia tak kuasa menahan kesedihan ditinggal Rasulullah. Jika dirinya mengumandanglan azan, ia selalu sedih karena di saat itulah terpampang wajah agung sang Rasul.

Setiap kali mengumandangkan adzan, sampai pada lafal, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, tangisnya pecah dan hatinya bergetar. Tak sanggup menahan kesedihan, Bilal memutuskan meninggalkan Madinah. Bilal ikut pasukan Fathul Islam menuju Syam, dan kemudian tinggal Syria yang kini berganti nama menjadi Suriah.

Baca Juga:  Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Begitulah kisah yang dapat kita tarik hikmah. Keteguhan iman seseorang tidak akan terganggu oleh siksa dan penderitaan di dunia. Iman para sahabat adalah contoh keimanan agung. Semoga kita bisa meneladani keteguhan iman dan kecintaan kepada Rasulullah.

Bagikan Artikel ini:

About Saparuddin

Avatar of Saparuddin

Check Also

debat

Debat adalah Metode Terakhir Berdakwah, Tetapi Jangan Lupa Etikanya

Sawala atau yang biasa disebut dengan debat merupakan suatu kegiatan adu argumantasi antara dua belah pihak …

kerja kepada non muslim

3 Sikap Islami untuk Mengais Rizki di tengah Pandemi

Manusia harus bekerja untuk dapat menghasilkan uang untuk mencukupi segala kebutuhannya dalam bertahan hidup, apalagi …