Harun Ar Rasyid
Khalifah Harun Ar-Rasyid

Ada banyak sekali cara dalam menyampaikan kebenaran. Mulai dari cara yang kasar, lembut sampai menyampaikan kebenaran dengan nasehat melalui humor. Cara-cara tersebut tergantung orang yang menyampaikan dan orang yang disampaikan pula.

Cara yang kasar dan nasehat yang lembut sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua cara diatas banyak orang yang bisa melakukan. Namun berbeda dengan cara menyampaikan nasehat kebenaran melalui humor, hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai kecerdasan yang tinggi bisa melakukannya.

Orang yang sering menyampaikan nasehat melalui humor jenaka di zaman dulu adalah orang-orang sufi. Cerita-cerita sufi tersebut seringkali menertawakan dan bahkan membodohi rasionalitas. Seorang sufi yang melakukannya pun cenderung ‘berbeda’ dengan masyarakat umum, baik itu penampilan, tingkah polah maupun pemikirannya.

Salah satu tokoh sufi yang termasuk kategori ini adalah Abu Nawas. Ia sangat masyhur sering menasehati khalifah dengan tingkah yang “nyeleneh” dan jenaka. Banyak sekali kisah-kisahnya yang beredar sampai sekarang, bahkan mungkin ada beberapa yang kita hafal.

Selain Abu Nawas, ada juga tokoh yang mempunyai peran  hampir sama persis dengan Abu Nawas. Dia adalah Abu Wahb Amr as-Shairafi al-Kufi, masyarakat waktu itu memanggilnya dengan sebutan Bahlul. Ia bukanlah seorang yang gila atau bodoh seperti yang pertama kita pikirkan.

Bahlul adalah seorang sufi eksentrik yang hidupnya anti kemapanan dan lebih suka menggelandang seperti orang gila. Betapapun keadaannya begitu, Khalifah waktu itu, Harun ar-Rasyid suka dikritik dan dinasehati oleh Bahlul. Cara yang dilakukan Bahlul dalam menasehati sang khalifah yakni menggunakan humor jenaka, seperti Abu Nawas.

Ada sebuah peristiwa ketika Harun ar-Rasyid dinasehati Bahlul di pekuburan sampai sang khalifah menangis dan tersadar. Kisah itu tertulis dalam kitab ‘Uqala al-Majanin (orang-orang gila yang berakal). Di situ dikisahkan pada suatu hari Harun Al-Rasyid lewat di pekuburan, dilihatnya Bahlul sedang duduk disana.

Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya :  “Wahai Bahlul, bilakah kamu akan berakal.. ?”,

Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik keatas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon,  ” Wahai Harun yang gila, bilakah engkau akan sadar….? “,

Maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan berkata : “Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk dikuburan….?”.

Bahlul berkata :  “Aku berakal dan engkau yang gila”,

Harun : “Bagaimana itu bisa…?”,

Bahlul : “Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada, maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita…?”.

Bergetarlah hati Harun, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya, lalu Harun berkata : “Demi Allah engkau yang benar, tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul”.

Bahlul : “Cukup bagimu Al-Qur’an maka jadikanlah pedoman”.

Harun : “Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul….? Aku akan penuhi”.

Bahlul : “Iya aku punya 3 permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu”.

Harun : “mintalah…”

Bahlul : 1. “Tambahkan umurku”.

Harun : “Aku tak mampu”,

Bahlul: 2. “Jaga aku dari Malaikat maut”.

Harun : “Aku tak mampu”,

Bahlul: 3. “Masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka”.

Harun : “Aku tak mampu”.

Bahlul : “Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu”.

Kisah-kisah sufi yang seringkali absurd, harus kita baca dengan kesadaran penuh agar kita mampu menangkap makna dan pesan dalam kisah tersebut. Kalau tidak demikian, maka membaca kisah-kisah nasehat berbentuk humor hanya membuat kita tersenyum dan mungkin sampai terbahak-bahak saja. Walaupun sederhana, kisah-kisah nasehat sufi haruslah kita ambil pelajaran agar kita mampu menurunkan ego dan mempergunakan akal sehat dengan bijak