tips memilih pasangan

Kiat memilih Pasangan Hidup yang Ideal

Pernikahan sejatinya, menurut pandangan ‘Aisyah, ummul mu’minin, adalah perbudakan terhadap kaum wanita. Suami sebagai tuan-majikannya, maka berpikirlah seribu kali kepada siapa putrimu akan engkau abdikan. PesanNya.

Atas dasar ini, Ibn al-Qayyim al-jauziy mengatakan bahawa orang tua dan wanita wajib menyeleksi setiap laki laki untuk dipilih sebagai calon suaminya. Ia adalah calon pendamping hidup sejati, yang siap berbagi rasa dan asa, calon suami yang sanggup menjadi peneduh jiwanya. Akhtha’ al-Mar’ah al-Muta’alliqah Bi al-Khitbah wa al-Zawaj wa al-Mu’asyirah, Nada Abu Ahmad, 1/3

Lalu seperti apa suami ideal menurut Islam? Ibn al-Jauziy mengatakan bahwa suami ideal itu adalah Pertama, lelaki yang agamis, lelaki yang teguh berpendirian kepada ajaran agamanya, lelaki seperti inilah yang mampu menuntunnya menemukan jalan menuju surga. Menjadi Imam yang baik. Menjadi ayah yang laik.

Kedua, memiliki perangai dengan akhlak mulia, karena ia, dengan perangai ini, akan mampu menjadi suri teladan yang baik bagi istri, suami dan anak anaknya serta masyarakatnya.

Ketiga, memiliki latarbelakang keluarga yang baik. karena keluarga yang beradab akan melahirkan individu yang berbudi.

Keempat, memiliki kemampuan membangun hubungan dan komunikasi  (network) yang baik, dalam keluarga dan sosial.

Kelima, memiliki ‘problem solving’ yang handal. Hubungan keluarga yang penuh liku liku, membutuhkan sebuah penanganan yang tepat untuk menyelesaikannya. Tanpa manajemen yang baik, keutuhan keluarga akan dipertaruhkan.

Tanpa kemampuan dan kecocokan kerapkali perceraian (talak) adalah jalan keluarnya. Na’udzubillah. Akhtha’ al-Mar’ah al-Muta’alliqah Bi al-Khitbah wa al-Zawaj wa al-Mu’asyirah, Nada Abu Ahmad, 1/3

Untuk tipe yang pertama, berdasarkan Hadits riwayat al-Bukhari

تنكح المرأة لأربع : لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها ، فاظفر بذات الدين ، تربت يداك

Baca Juga:  Debat adalah Metode Terakhir Berdakwah, Tetapi Jangan Lupa Etikanya

Wanita biasanya dinikahi karena empat faktor, karena hartanya, karena keluarganya, karena kecantikannya dan karena agamanya, maka, pilihkan seseorang yang memiliki latar belakang agama, tanganmu akan tidak berdebu (kamu akan bahagia)”. HR. Bukhari, No 4803.

Hadits ini secara tersurat mendiskripsikan faktor faktor yang dijadikan ukuran untuk menentukan dan memilih calon istri. Namun secara tersirat juga bisa diaplikasikan untuk menentukan calon suami yang baik.

Kaya, cantik dan terhormat senantiasa menjadi prioritas utama untuk menentukan kreteria pasangan, karena dengan itu, kebahagian hidup akan di dapat, namun semua itu dibantah oleh Rasulullah, bahwa agamalah yang mampu menghadirkan kebahagiaan dalam keluarga.

Allah berfirman

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إلَى النَّارِ وَاَللَّهُ يَدْعُو إلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. QS: al-baqarah, 221.

Lelaki dan wanita beriman (beragama) sekalipun mereka budak sahaya dan tidak ayu masih lebik baik dari pada lelaki dan wanita musyrik (tidak beragama) sekalipun terhormat dan berparas cantik. Kenapa? Kesyirikan hanya akan membawa pasangannya kepada kemaksiatan sementara keimanan akan mampu membawa kepada ketaatan.

Sementara ketaatan ini yang akan mampu menghadirkan bukan hanya kebahagiaan dunia saja, melainkan kebahagiaan akhirat. Bahkan menurut Ibn Katsir, ayat ini menjadi dalil keharaman seseorang menikahi pasangan yang tidak beriman (tidak beragama). Tafsir Ibn Katsir, 1/582

Baca Juga:  Agar Sedekah Kita Tidak Sia-sia (1) : Inilah Tata Cara Bersedekah yang Benar

Dengan gamblang Nabi menegaskan soal urgensitas agama dalam menjalin sebuah hubungan

أن النبي صلى الله عليه وسلم ، قال : ” الدين النصيحة ” قلنا : لمن ؟ قال : ” لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. Bersabda: “Agama itu adalah nasehat”. Kami bertanya, “Nasehat untuk siapadan apa”? Nabi Menjawab: “Nasehat untuk (taat kepada) Allah, KitabNya, RasulNya, dan Para Imam (pemimpin) orang orang Islam, serta nasehat untuk khalayak umat”.HR. Muslim 107.

Dengan modal pengetahuan agama, setiap pasangan (suami-Istri) akan mampu memahami dengan sadar tentang hak dan kewajibannya. Ketika hak dan kewajiban dalam Rumah tangga berjalan stabil maka, keharmonisan akan senantiasa merekah dalam kehidupan rumah tangganya. 

Bila keharmonisan ini tergapai, ketentraman dalam menjalin sebuah hubungan akan berjalan secara natural. Bila tentram tercipta, maka aktifitas ibadah, ekonomi, sosial dan interaksi lainnya akan menemukan jalan kemudahannya. Dalam kondisi inilah sesungguhnya yang disebut dengan kebagahiaan sejati, bahagia bukan hanya didunia, bahagia akhiratpun akan didapatkan.

Pesan Penulis untuk para suami dan para istri “janganlah selalu menuntut pasanganmu menjadi pasangan yang baik untuk kamu, tapi tampillah sebagai pasangan yang baik dihadapan pasanganmu. Janganlah selalu menuntut hak kepada pasanganmu, tapi berupayalah untuk menunaikan kewajiban yang sempurna kepada pasanganmu. Jangan selalu berfikir, apa yang akan diberikan oleh pasanganmu, tapi berfikirlah apa yang akan kamu berikan kepada pasanganmu” inilah kunci menjadi pasangan ideal untuk pasanganmu.

Abdul Walid, Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Slafiyah Syafiiyah Sukorejo situbondo

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About redaksi

Avatar