Siapakah Mukmin Ideal ?

0
65

Menjadi seorang mukmin adalah suatu anugerah dari Allah SWT. Dengan Islam, kita percaya bahwa agama inilah yang diridhoi oleh Sang Maha Pencipta. Di dalam Alquran Surah al-Anfâl ayat 2-3, Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. [Q.S. al-Anfâl: 2-3]

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa ketika disebut nama Allah, hatinya bergetar karena ingat kekuasaan-Nya, janji serta peringatan-Nya, dan pada hari penghitungan amal di akhirat.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang-orang munafik itu tiada sesuatu pun dari sebutan nama Allah yang dapat mempengaruhi mereka untuk mendorong mereka mengerjakan hal-hal yang difardukan-Nya. Mereka sama sekali tidak beriman kepada sesuatu pun dari ayat-ayat Allah, tidak bertawakal, tidak salat apabila sendirian, dan tidak menunaikan zakat harta bendanya. Maka Allah mengkategorikan mereka orang-orang yang tidak beriman.

Pendapat diatas rasional sekali, bahwa menjadi mukmin adalah berupaya atau menghindari menjadi munkar atas ayat suci Alquran. Selalu bertakwa kepada Allah SWT, merubah perilaku kita agar tidak masuk kategori yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas diatas.

Allah SWT berfirman :

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ  

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” [Q.S. al-Taubah: 124]

Baca Juga:  Mengenal Kitab-kitab Fikih Madzhab Syafi’i

Imam Bukhari dan dari kalangan imam lainnya mengambil kesimpulan dalil dari ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang semakna, bahwa iman itu dapat bertambah dan dapat berkurang. Iman itu dalam hati mempunyai grafik naik dan turun.

Menjadi seorang mukmin yaitu tidak mengharapkan kepada selain Allah SWT. Tidak bertujuan kecuali hanya kepada-Nya. Seorang mukmin tidak berlindung kecuali hanya kepada naungan-Nya, dan mukmin itu mengetahui bahwa apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi serta apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.

Maka dari itu, menjadi mukmin yang ideal adalah ketika disebut nama Allah, hatinya bergetar. Ketika diperdengarkan ayat-ayat Allah, keimanannya bertambah. Selalu memasrahkan hasil akhir hanya kepada Allah. Selalu melaksanakan salat dengan khusyuk. Dan senang menginfakkan sebagian hartanya.

Dan Allah memberikan apresiasi kepada mukmin dengan 3 penghargaan:  

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” [Q.S. al-Anfâl: 4]

Pertama, mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Kedua, pengampunan dari segala dosa. Ketiga, surga yang berkelas. Indah, mewah, dan menenangkan hati.

Tinggalkan Balasan