tafsir Dzulhijjah

“Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).” (hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi)

Ya’qub bin Ibrahim bin Habib bin Khanis bin Saad al-Anshari atau lebih dikenal dengan nama panggilan Abu Yusuf merupakan ulama termasyur di era kejayaan Islam. Abu Yusuf dilahirkan di kota Kufah, Irak. Abu Yusuf terlahir dari keluarga yang miskin. Namun, kemiskinan tersebut tidak membuat dirinya menjadi patah arang dalam menuntut ilmu.

Abu Yusuf digambarkan sebagai seorang individu yang sangat rajin dan haus akan ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan pemahaman hukum.beliau banyak menimba ilmu dari banyak ulama di Kufah dan Madinah.

Abu Yusuf merupakan orang pertama yang menentukan madzhab hanafi dan menyebarluaskan di kalangan murid-muridnya. Kedekatannya dengan para penguasa menjadikan Mahzab Hanafi mudah di terima di beberapa wilayah kekuasaan Islam.

Dalam dakwahnya Abu Yusuf pernah bercerita tentang salah satu sahabat yang dicintai Rasul namun orang-orang melihatnya sebagai orang fasik. Dalam waktu duapuluh tahun Abu Yusuf menunaikan ibadah haji bersama temannya tersebut. Namun ada perbedaan ketika mereka melakukan ibadah puasa pada bulan Dzulhijjah.

Abu Yusuf melakukan puasa penuh di bulan itu, namun sahabatnya tersebut berpuasa dengan cara berpuasa satu hari dan hari berikutnya berbuka. Ketika menginjak hari ke sepuluh di bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna.

Abu Yusuf dan sahabatnya tersebut telah memasuki kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Dikota inilah sahabat yang dicintai Abu Yusuf wafat, taka da seorangpun yang tau akan meninggalnya sahabat tersebut. Karena yang ada di kota tersebut hanyalah mereka berdua.

Untuk menghormati jenazah sahabatnya tersebut, makan Abu Yusuf memutuskan untuk segera mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni.

Dalam hati kecil Abu Yusuf masih bertanya-tanya siapakah mereka yang datang untuk menghormati mayat sahabatku ini, padahal yang dia ketahui, mereka hidup disana hanyalah berdua saja. Dalam pikirannya yang berkecamuk Abu mendengar para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah.

Abu Yusuf pun menghampiri mayat sahabatnya tersebut, tanpa disangka ia melihat melihat kain kafan yang di gunakan untuk membungkus tubuh sahabatnya tersebut sangat bersih. Serta ia melihat kain  tersebut tercantum tulisan berwarna hijau yang bertuliskan,

هذا جزاء من آثر رضا الله على رضا نفسه وأحب لقاءنا فأحببنا لقاءه

Yang artnya, “Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Karena kecapean maka Abu Yusuf tanpa sadar telah tertidur pulas dan ia mendapati sahabatnya dalam mimpinya. Ia mendapati sahabatnya telah menunggang kuda berwarna hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jawab sahabatnya dalam mimpinya.

“Hendak ke manakah mereka?” tanyanya sekali lagi

Mereka ingin meziarahiku.” Jelas sahabatnya

Karena merasa kagum maka Abu bertanya kepada temannya tersebut “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Setelah bangun dari tidurnya, Abu Yusufpun mengetahui pentingnya berpuasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah.