Nabi Muhammad SAW adalah manusia terbaik untuk dicontoh segala halnya. Beliau selalu menjaga perilakunya dengan akhlak yang mulia kepada siapapun. Dalam kesehariannya, selain terkenal sebagai orang yang jujur, piawai saat berdagang dan mengatur strategi dakwah, nabi SAW juga tergolong orang yang pemalu. Apalagi jika menyangkut soal kewanitaan.
Ketika nabi SAW ditahbiskan sebagai seorang Rasulullah, beliau seringkali didatangi oleh umatnya yang ingin bertanya secara langsung mengenai Islam, iman dan tatacara beribadah yang baik. Mulai dari golongan Muhajirin, Anshar, Badui, dan orang yang ingin tahu Islam lebih dalam pasti langsung datang kepada beliau.
Memanglah nabi SAW adalah tokoh sentral umat Islam kala itu. Maka ketika nabi SAW duduk di suatu majelis, maka banyak orang yang mengerumuni beliau untuk menimba ilmu ataupun sekedar ingin lebih dekat dengan utusan Allah yang dicintainya itu. Namun dari sekian banyak orang yang bertanya langsung saat di majelis-majelis tersebut, tak sedikit orang yang bertanya kepada beliau saat sendirian.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan nabi SAW untuk dicarikan jawaban saat beliau sendirian itu seputar masalah pribadi. Salah satu yang pernah ada ialah datangnya perempuan Anshar yang bertanya soal kewanitaan. Respon nabi SAW ketika ditanya perihal ini sungguh sangat mengagumkan. Walaupun nabi SAW tergolong orang yang jujur dan tegas, namun dalam persoalan ini nabi SAW memilih mengedepankan sifat pemalunya.
Dalam tulisan ini, ada sepenggal kisah akhlak nabi Muhammad SAW ketika ditanya soal kewanitaan. Dalam hal ini nantinya kita akan tahu betapa nabi SAW menjaga lisannya dari perkataan yang tak layak diucapkan. Betapapun hal ini perihal ilmu untuk beribadah. Kisah selengkapmya sebagai berikut:
Pernah suatu hari, nabi SAW disowani seorang perempuan dari golongan Anshar yang ingin berkonsultasi. Perempuan itu ingin berkonsultasi dengan nabi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan.
Ceritanya saat itu, Ia mengeluhkan tentang darah (kewanitaan) yang merembes di pakaian. Diperkirakan darah yang keluar saat itu adalah termasuk darah istihadhah. Namun ia tak buru-buru untuk melakukan shalat. Ia masih bingung bagaimana cara menyucikan diri dari darah itu, karena shalat lima waktu bagi perempuan yang sedang istihadhah tetaplah wajib.
Dalam kondisi darah istihadhah yang masih terus keluar, perempuan Anshar yang salehah ini merasa bimbang, jika ia memaksa untuk shalat, bukankah itu berarti sama halnya Ia sedang membawa najis? Lantas bagaimana caranya ia shalat? Maka untuk menghilangkan kebimbangannya, ia memutuskan untuk sowan kepada nabi SAW untuk berkonsultasi.
Ketika sudah bertemu nabi SAW, perempuan itu tak malu untuk mengajukan soal penanganan darah (kewanitaannya) itu agar ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslimah. Setelah mendengar persoalan tersebut dengan seksama, nabi SAW lalu menjawabnya,
“Ambillah selembar kain yang telah diolesi minyak wangi dan gunakan untuk bersuci. ” Nabi SAW singkat
Namun jawaban singkat nabi SAW di atas, belumlah membuat perempuan itu merasa jelas, maka ia melanjutkan pertanyaannya. “Bagaimana caraku bersuci menggunakan kain itu, wahai Rasulullah?” Ia bertanya lagi.
“Bersucilah dengannya.” Jawab Nabi SAW tambah singkat
“Bagaimana caranya?” Ternyata ia terus mendesak Nabi. Bukan karena apa, memang ia masih kurang mengerti.
Saat seperti inilah terlihat dari ucapan nabi, betapa beliau sangat tidak rela jika dari lisan sucinya terucap perkataan yang kurang layak. Betapapun ini mengenai ilmu dan praktik ibadah.
“Subhanallah, bersucilah dengan kain itu.” Kata Nabi SAW dengan menyebut Asma Allah, tanda beliau tak mampu lagi menjelaskannya hal-hal yang tak pantas beliau ucapkan.
Bantuan penjelasan dari Sayyidah Aisyah
Melihat situasi yang canggung itu, Sayyidah Aisyah langsung meraih tangan perempuan dari kalangan Anshar tersebut dan menuntunnya berjalan menjauh dari Nabi SAW. Sayyidah Aisyah kemudian menjelaskan dengan sangat detail bagaimana praktik bersuci yang ia tanyakan kepada Nabi.
Di sinilah istri-istri dan keluarga perempuan Nabi SAW mengambil peran dengan membantu beliau dalam berdakwah yang mungkin sangat sulit kalau hanya beliau sendiri yang melakukan. Karena bagaimanapun sebagai manusia biasa, ada area-area tertentu yang akan berat untuk dapat beliau jangkau.
Sebenarnya Nabi SAW dari awal menghendaki agar perempuan tadi menggunakan selembar kain untuk menyumbat darah, agar tidak merembes keluar saat melakukan ibadah. Hal ini tidak mungkin bisa dengan rinci beliau sampaikan.
Di sisi lain, Sayidah Aisyah Ra. yang dikenal paling cerdas di antara istri-istri beliau, memuji perempuan-perempuan Anshar yang tidak malu untuk belajar agama dan bertanya jika ada kemusykilan yang dihadapi.
Dari sepenggal kisah di atas, kita bisa ambil pelajaran dari nabi SAW mengenai penjagaan lisan secara baik agar terhindar dari keluarnya perkataan-perkataan yang tak pantas apalagi kotor. Selain itu, kita juga bisa ambil pelajaran dari perjuangan perempuan Anshar untuk mencari penjelasan mengenai kebingungannya dalam beribadah. Mencari penjelasannya pun harus dengan orang yang benar-benar paham akan hal tersebut.
Jangan sampai kita berkata kotor, karena itu bukan akhlak nabi SAW dan jangan pula kita tersesat ketika hendak mencari penjelasan. Karena itu akan mempengaruhi amaliyah dan ibadah kita.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah