tangisan para ulama
tangisan para ulama

Kisah Sedih Para Ulama Ketika Hendak Berpisah dengan Ramadan

Bulan puasa Ramadan telah masuk di etape ketiga. Dengan kata lain, beberapa hari lagi bulan puasa akan berakhir. Beragam ekspresi di wajah umat Islam. Ada yang senang karena bisa kembali menikmati makan minum di siang hari, ada yang sibuk mempersiapkan segala hal untuk menyambut Idul Fitri, dan (walaupun sedikit) ada yang susah dan sedih sebab akan ditinggal oleh bulan penuh berkah dan keistimewaan ini.

Sejatinya sebagai orang beriman kita akan sedih dan susah karena ditinggal bulan suci. Bagaimana tidak? Pada bulan ini nilai ibadah dilipatgandakan, doa diijabah, sedekah pasti diterima oleh Allah dan beragam keutamaan lainnya.

Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif menceritakan, sebagian ulama salaf berdoa selama enam bulan berharap dipertemukan dengan bulan Ramadan. Kemudian mereka berdoa pula selama enam bulan agar Allah menerima segala amalan mereka di bulan Ramadan.

Lanjut beliau, bagaimana bisa seorang mukmin tidak sedih dan meneteskan air mata karena ditinggalkan Ramadan, sementara dirinya tidak tau apa masih akan dipertemukan dengan Ramadan berikutnya. Di lubuk hati terdalam orang-orang yang bertakwa sangat senang dengan bulan Ramadan, dan sedih serta gundah gulana karena akan berpisah dengannya. Air mata pun berderai.

Dengan suara lirih berkata, semoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan, semoga taubat dan tidak berbuat dosa mampu menjadi penyempurna puasa, dan mereka yang berpisah dengan kelompok yang diterima amalnya akan segera menyusul mereka pula. Semoga yang dibelenggu dosa akan terbebaskan, semoga yang seharusnya masuk neraka juga dibebaskan, dan pelaku maksiat mendapat hidayah karena rahmat-Nya.

Gambaran ini melukiskan betapa besar kesedihan dan kesusahan para ulama salaf dipenghujung bulan Ramadan. Bahkan seandainya bisa, mereka berharap seluruh bulan selama setahun dijadikan bulan Ramadan. Tidak lain, semua ini karena keutamaan dan keistimewaan bulan suci ini. Dan, kesedihan itu menjadi berlipat oleh kekhawatiran amalan-amalan selama bulan puasa tidak diterima oleh Allah.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah termasuk orang yang sedih dan susah karena ditinggal bulan suci? Atau termasuk orang yang senang dengan berakhirnya bulan Ramadan? Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya. Yang jelas, orang mukmin itu akan susah dan sedih bila Ramadan akan pergi.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

sirah nabi

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …