Konsultasi Syariah: Bagaimana Cara Mengontrol Emosi ?

0
2207
mengontrol emosi

Assalamu’alaikum Pak Ustadz.

Saya Edwin, seorang Owner di salah satu Perusahaan. Di kantor, saya di kenal sebagai BOS yang pemarah. Julukan ini sampai saat ini masih melekat erat. Saya ingin merubah julukan itu, namun saya tergolong orang yang temperamental, mudah marah. Dan terkadang amarah saya meledak ledak hingga tak bisa dikendalikan. Bagaimana cara mengendalikan emosi saya ini.

Terimakasih sebelumnya. Semoga Islam Kaffah tetap jaya.

Edwin, Tanggerang


Walaikum salam, semoga rahmat dan lindungan Allah selalu menyertai Bapak Edwin,

Bapak Edwin, Niat Saudara untuk menjadi lebih baik lagi adalah suatu keistimewaan tersendiri. Sabda Rasul: niat seorang mukmin lebih baik dari pada amal perbuatannya. (HR: al-Baihaqi:02). Alasannya, karena amal perbuatan gampang dirasuki riya’ (pamer), sementara niat sangat sulit dipengaruhi pamer.  

Emosi selalu diidentikkan dengan kemarahan. Kata-kata “jangan emosi dulu” memberikan pemahaman subyektif “jangan marah dulu”. Padahal emosi tidak selalu berkonotasi buruk.

Emosi sejatinya adalah  luapan perasaan yg berkembang dan surut dalam waktu singkat; emosi juga bisa dipahami sebagai reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, keberanian yg bersifat subjektif, emosi dalam hal keagamaan adalah getaran jiwa yg menyebabkan manusia bersikap religius.

Tapi kali ini kita bahas emosi yang sering diartikan marah.  ‘Marah’ adalah hal yang manusiawi. Sifat yang dibawa sejak lahir. Sifat yang tidak boleh disentuh larangan oleh aturan apapun termasuk agama, lalu bagaimana dengan hadits Nabi.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال :

( لا تغضب فردد مراراً قال : لا تغضب

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad saw. Berilah wasiat kepadaku. pinta lelaki itu. Nabi lalu bersabda: “jangan marah” sampai diulang berkali kali oleh Rasul. “jangan marah”. HR: BUkhari: 5771

Diulang-ulangnya kalimat “jangan marah” menunjukkan betapa petaka yang akan timbul dari amarah itu cukup besar. Tapi bukan berarti Nabi hendak melarang seseorang untuk marah. Karena marah itu tidak bisa disentuh oleh larangan disebakan amarah itu manusiawi.

Tetapi kalimat “jangan marah “ itu  hendak memberikan titah kalau anda marah hendaklah tahan jangan sampai timbul kerusakan akibat amarahmu, begitu kira kira makna tersiratnya. Karena lelaki yang meminta nasehat kepada nabi menurut pengarang al-Ifshah itu memang laki-laki yang temperamental, emosian, pemarah.

Atau bisa dipahami kalimat “jangan marah” itu artinya jangan cepat marah, atau tahanlah amarahmu dan lain sebagainya. Karena orang yang mampu menahan amarahnya mendapat sanjungan prestisius dari Nabi Muhammad saw. Dalam sabdanya :

ليس الشديد بالصرعة انما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب

Orang yang kuat perkasa bukanlah orang yang memiliki tangan berotot kuat yang sanggup membanting beban berat, tapi orang yang kuat perkasa adalah orang yang mampu menguasai dirinya saat marah.HR: Bukhari : 5769. Syarah Arbain al-nawawi hal 50.

Lalu bagaimana bila seseorang tidak mampu menahan amarahnya. Simaklah beberapa tips dari Syaikh Isma’il Ibn Muhammad Ibn Sa’id al-Qadiri untuk mengendalikan amarah yang menguasai diri.

Pertama, jika kamu marah dalam keadaan berdiri maka duduklah.

Kedua, jika kamu marah dalam keadaan duduk, maka rebahkan tubuhmu.

Ketiga, jika kamu marah dalam keadaan berbicara, maka diamlah.

Keempat, jika kamu marah dalam keadaan berdiam, maka berbicaralah.

Kelima, jika kamu marah dalam keadaan sedang melakukan sesuatu, maka tinggalkan pekerjaan itu.

Keenam, berwudlu’lah.

Ketujuh, guyurlah tubuhmu dengan air.

Kedelapan, menyingkir dan menjauhlah dari tempat di mana kamu marah. (Al-fuyudhat al-Rabbaniyyah hal, 154).

Saudara adalah pemimpin. Jadilah teladan untuk memberikan contoh yang baik kepada bawahan. Sesungguhnya anda tidak akan dikenal kuat karena dengan amarah, tetapi justru anda akan dianggap lemah karena tidak bisa mengontrol amarah.

Demikian, jawaban dari kami, semoga Pak Edwin selalu diberikan kekuatan untuk mengelola emosi dengan ikhtiyar di atas. Terpenting sesungguhnya ada perasaan dalam hati betapa mulianya orang yang bersabar dan menahan amarah.

Pengampu Konsultasi Syariah,

Ust. Abdul Walid, M.H.I, Alumni Ma’had Aly Li al-Qism al-Fiqh Wa Ushulih, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo