madzhab imam muslim
madzhab imam muslim

Madzhab Fikih Imam Muslim Perawi Hadist

Periodisasi bangunan madzhab merupakan sejarah awal ilmu keislaman. Sementara proses kodifikasi hadist adalah sejarah di kemudian hari, tak terkecuali Imam Muslim dan Bukhari. Sesungguhnya para imam madzhab juga ahlu hadist yang banyak mengumpulkan hadist sebagai dasar dari penetapan hukum mereka.

Imam Muslim tampil sebagai tokoh yang cukup populer dalam ilmu hadist. Jika periode ilmu hadist ini belakangan dibandingkan dengan ilmu fikih, Lalu, apa madhzhab fikih imam Muslim?

Hampir semua karya-karya Imam Muslim adalah di bidang hadis. Karyanya yang paling terkenal adalah kitab Shahih Muslim. Kitab ini diakui oleh para ulama sebagai kitab hadis yang paling dipercaya. Imam Nawawi, ulama dari kalangan madhab Syafi’i mengatakan, Shahih Muslim adalah kitab yang paling shahih (setelah al Qur’an) yang pernah ada.

Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Muslim bin Hajjaj bin Muslim bin Warad bib Kausyaz al Qusyairi al Nisaburi. Menurut ‘Izzuddin bin Abu Atsir, seorang pakar sejarah, dalam Al Lubab fi Tahdzib al Ansab, al Qusyairi adalah nisbat terhadap keturunan Qusyair bin Ka’ab bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah.

Al-Dzahabi, ulama pakar sejarah dan hadis, dalam Siyar A’lam al Nubala menulis, Imam Muslim mulai menekuni ilmu hadis sejak usia dua belas tahun, yakni pada tahun 218 H. Ia menuntut ilmu ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir dan negara yang lain.

Di antara guru-gurunya, seperti disebut dalam kitab Tahdzib al Tahdzib, tercatat nama Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, Muhammad Ibnul Mutsanna, Qutaibah bin Sa’id, Muhammad bin Abdillah bin Numair, Abu Kuraib Muhammad Ibnul ‘Illa, Muhammad bin Basyar al Muqallab, Muhammad bin Rafi’ al Naisaburi, Muhammad bin Hatim al Muqallab dan Ali bin Hajar al Sa’di.

Baca Juga:  Islam Menolak Rasisme dan Menghargai Perbedaan

Selain Muhammad bin Hatim, kesembilan guru Imam Muslim tersebut juga menjadi guru Imam Bukhari. Dan, Imam Muslim ternyata pernah berguru kepada Imam Bukhari dalam bidang ilmu hadist. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Shalah dalam kitab Ulum al Hadis.

Hubungan Imam Bukhari dan Imam Muslim

Sebagaimana telah dikatakan, Imam Bukhari merupakan guru Imam Muslim. Dari gurunya ini Imam Muslim banyak sekali mendapatkan pengetahuan tentang hadis. Salah satu yang paling istimewa adalah ilmu metodologi untuk memeriksa dan meneliti keshahihan hadis.

Abu Bakar al Khatib al Baghdadi dalam karyanya Tarikh al Baghdadi menulis, dalam soal hadis Imam Muslim banyak merujuk kepada Imam Bukhari, baik dalam pengembangan ilmu hadis maupun metodologinya. Bahkan Imam Muslim selalu menemani Imam Bukhari saat mendatangi kota Naisabur menjelang akhir hayatnya.

Karena Imam Muslim merupakan murid Imam Bukhari, tentu ada keistimewaan lebih yang dimiliki oleh Imam Bukhari dibandingkan Imam Muslim. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Syarh Nukhbat al Fikr, konsensus ulama menyatakan bahwa Imam Bukhari lebih utama dari Imam Muslim. Bahkan menurut Daruquthni, “Seandainya tidak ada Imam Bukhari tentu tidak akan muncul Imam Muslim.

Madzhab Fikih Imam Muslim

Melihat karya Imam Muslim yang mayoritas di bidang ilmu hadis dan cabang-cabangnya, sulit mengetahui secara pasti madhab fikih yang dianutnya. Karena jika mempelajari kitab Shahih Muslim, segera akan tahu bahwa beliau juga ahli dalam bidang fikih seperti terlihat dalam urutan pembahasan dalam kitab hadis tersebut dan kemampuan beliau memahami silang pendapat ulama fikih. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab al Taqrib bahwa Imam Muslim adalah ulama ahli fikih.

Baca Juga:  Taliban dan Isu Al Mahdi dalam Perspektif Islam

Namun begitu, ada beberapa pendapat ulama yang mengatakan kepada siapa Imam Muslim bermadzhab dalam bidang fikih. Pertama, dalam Kasyfu al Dzunun, Haji Khalifah menyebut Imam Muslim bermadhab Syafi’i. Dalam kitab tersebut tertulis, “Muslim Ibnul Hajjaj al Qusyairi al Naisaburi al Syafi’i”. Pendapat ini diperkuat oleh Shiddiq Hasan Khan dalam karyanya Al Khitah.

Kedua, menurut beberapa ulama, madhab fikih Imam Muslim adalah madhab Hanbali. Pendapat ini didasarkan pada salah satu karya Imam Muslim, Sualaat Ahmad bin Hanbal. Selain itu Imam Muslim juga pernah berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal dalam disiplin ilmu hadis. Thabaqat al Hanabilah disebutkan, Imam Muslim memuji Imam Ahmad. Ia menyebut Imam Ahmad dengan Huffadz al Atsar (punggawa ilmu hadis).

Ketiga, menurut Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatwa, Imam Bukhari dan Imam Abu Daud adalah imam mujtahid dalam bidang fikih. Sedangkan Imam Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, al Bazzar dan para ulama sekelas mereka semuanya berpegang pada madhab Ahlul Hadis dan tidak taqlid pada salah satu imam madhab. Mereka tidak tergolong mujtahid mutlak, sehingga memiliki kecenderungan untuk mengambil pendapat ulama ahlul hadis seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan ulama yang lain.

Menurut penulis, bila melihat status Imam Muslim merupakan murid Imam Bukhari, maka pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah bahwa Imam Muslim bermadhab Syafi’i sebagaima Imam Bukhari. Hal ini seperti ditulis oleh Dr. Nahrawi Abdussalam dalam Al Imam al Syafi’i baina al Madhabaihi al Qadim wa al Jadid.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat …

bulan shafar

Menepis Anggapan Bulan Shafar sebagai Bulan Sial

Masyarakat Arab pra Islam atau masyarakat jahiliah mengenal istilah tasyaum. Suatu anggapan bahwa bulan Shafar …