utang puasa
puasa

Masih Punya Hutang Puasa? Segera Tunaikan Sebelum Ramadan Tiba

Segerakan menunaikan puasa yang pernah ditinggalkan pada bulan ramadan sebelumnya. Bulan Ramadan sudah menjelang


Ramadan adalah bulan yang ditunggu oleh seluruh umat Islam. Bulan suci ini menjadi madrasah bagi jiwa jiwa yang resah. Tentu, sebagai Muslim sejati, kita harus memiliki komitmen agar bulan puasa kali ini harus lebih baik dari puasa kemaren.

Bagi kaum Adam, menuntaskan puasa genap sebulan kerap tidak ada persoalan, tetapi tidak bagi kaum hawa. Wanita secara biologis terhambat dengan kodratnya, menstruasi (haid) yang tidak bisa dielakkan. Sehingga banyak ibadah seperti shalat dan puasa yang harus ditinggalkan.

Namun, puasa berbeda dengan shalat. Dalam kasus shalat, wanita mendapat dispensasi untuk tidak melakukan shalat sekaligus tidak dibebani untuk menggantinya (qadha). Alasannya, terlalu membebani kepada wanita. Karena shalat itu diwajibkan lima kali dalam sehari. Bila haidnya tujuh hari, berarti sebanyak tiga puluh lima kali shalat yang harus ia qadha’. Beban beratnya disini. Oleh karenanya, fikih memberikan dispensasi.

Beda kasus dengan puasa. Wanita hanya mendapatkan dispensasi untuk menunda puasanya hingga masa haidnya berakhir. Artinya, di Bulan Ramadhan, wanita haid tidak wajib puasa, namun ia wajib menggantinya (qadha’) di bulan yang lain.

Namun persoalannya, banyak wanita dilalaikan oleh kesibukannya, hingga ia lupa, bahwa memiliki tanggungan qadha’ puasa. Tentu saja tidak hanya perempuan terkadang laki-laki juga lupa masih mempunya hutang puasa yang pernah ditinggalkan karena alasan syar’i.

Tak jarang kelupaannya ini hingga bertahun tahun. Lalu bagaimana kesimpulan fikih terhadap fenomena ini?

Tentang wajibnya qadha’ puasa, ditunjukkan oleh al-Qur’an.dalam firmanNya.

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Barang siapa di antara kalian sakit, atau sedang melakukan perjalanan jauh (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti (mengqadha’)) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari hari (di bulan) yang lain”. QS: al-Baqarah:184

Baca Juga:  Makan Ikan yang Masih Hidup, Bagaimana Hukumnya ?

Secara sharih ayat ini menjelaskan hukum wajibnya Qadha’ bagi seseorang yang memiliki alasan untuk tidak berpuasa di Bulan Ramadhan.

Lalu, bagaimana dengan alasan haid? 

أليس إذا حاضت لم تصل ولم تصم  

Bukankah wanita bila haid tidak boleh shalat dan puasa!”. HR: Bukhari:No 300

Wanita haid memang tidak boleh boleh shalat dan juga puasa. Namun, untuk puasa tetap wajib untuk mengqadha puasa yang ditinggalkan. Dalam sebuah hadits Nabi bersabda:

عن عائشة ، قالت : ” كنا نحيض عند النبي صلى الله عليه وسلم ، فيأمرنا بقضاء الصوم

Dari ‘Aisyah berkata: “Kami sedang haid. Di sisi kami, ada Rasulullah saw. Kemudian Beliau menyuruh kami untuk (tidak berpuasa) tapi dengan mengqadha’ puasa yang kami tinggalkan”. HR: Inu Majah: No 1666

Tata Cara Bayar Utang Puasa yang Melewati Batas Ramadan

Seperti deskripsi pertanyaan di atas. Bagaimana bila wanita itu lupa mengqadha’nya hingga datang Ramadhan berikutnya? Segenap Imam Madzhab Syafii serempak mengeluarkan fatwa. Wajib membayar kaffarat perhari satu mud makanan pokok selain qadha’.

Gambarannya begini, pada Ramadhan tahun 1440 H, Muna meninggalkan puasa selama tujuh hari karena haid. Maka, Muna wajib mengganti puasanya itu di bulan bulan berikutnya, Syawal 1440 H-Sya’ban 1441 H. Namun, bila hingga Ramadhan 1441 H Muna belum lagi mengganti puasanya, maka, yang harus dilakukan Muna adalah berpuasa Ramadhan di Tahun 1441 H genap 30/29 hari.

Bulan Syawal, setelah hari Raya idul fitri, 1441 H, Muna wajib segera mengganti puasa Ramadhan 1440 H tujuh hari sekaligus membayar kaffarat perhari 1 mud. Dikalikan tujuh hari kaffaratnya sejumlah tujuh mud.

Berapa satu mud itu? Menurut versi Syaikh Daib al-Bugha satu mud sepenuh wadah berukuran 9,2 cn atau kira kira setara dengan 600 gram. Berpijak atas takaran ini berarti Muna wajib membayar kaffarat  7x 600 gram=4200 gram atau 42 Kg.

Baca Juga:  Peristiwa Terbakarnya Masjid Nabawi di Bulan Ramadan

Menurut Imam al-Mawardi, wanita wajib membayar kaffarat bila keterlambatannya mengqadha’ puasa ini tidak alasan yang bisa dibenarkan oleh agama. Bila keterlambatannya beralasan, maka menurut al-Mawardi hanya wajib qadha’ puasa saja tanpa harus membayar kaffarat.

Apa yang difatwakan al-Mawardi ini merupakan fatwa dari Imam Malik, Imam Ahmad, Ishaq, al-Awza’iy, al-Tsauriy. Berbeda dengan fatwa Imam Abu Hanifah yang mengatakan hanya wajib qadha’ puasa tanpa harus mengeluarkan kaffarat, baik yang beralasan atau tidak.  (Al-Hawi al-Kabir, 3/983)

Sebagai insan yang beriman tentunya, kita takkan pernah abai terhadap kewajiban kita sebagai mukmin dan muslim. Yuk! Tunaikan hutang puasa kita sebelum sebelum Ramadhan tiba.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …