Memotivasi Diri dengan Ayat Suci

0
93

Manusia seringkali menemui kondisi yang membuat dirinya menjadi lemah dan putus asa. Pada saat itulah, ungkapan motivasi sangat dibutuhkan oleh seseorang untuk meningkatkan semangat dalam meraih impian yang ingin dicapai. 

Ungkapan itu bisa berasal dari perkataan bijak tokoh terdahulu atau kalimat inspiratif dari orang sukses. Namun, tahukah anda sesungguhnya kalimat inspiratif yang mampu membangkitkan semangat justru ada dalam kitab suci, al-Qur’an.

Ayat Allah al-Qur’an yang dipercaya mampu menumbuhkan potensi, semangat serta kemampuan manusia adalah surat ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka.”

Sayangnya ayat di atas seringkali tidak dipahami secara utuh dari rangkaian kalimat sebelumnya. Membaca sepotong ayat di atas menyebabkan perbedaan persepsi dan kesalahan tafsir atas ayat tersebut. Karena itulah, menjadi penting untuk membaca ayat tersebut secara utuh dan tidak sepenggal- sepenggal.

Sepintas dari pengartian ayat tersebut diperoleh pengertian sederhana bahwa Allah tidak akan mengubah nasib manusia, jika manusianya sendiri tidak mau berusaha untuk merubah nasibnya. Namun, bagaimana jika manusia sudah berusaha dan tidak membuahkan hasil? Apakah janji Allah melalui ayat tersebut berarti tidak sesuai?

Sesungguhnya apabila dicermati ayat tersebut mencerminkan sebuah kepastian dari janji Allah kepada manusia. Apabila perubahan nasib ada di tangan manusia, maka tidak akan ada yang gagal dari semua usahanya. Hal ini salah satu kesalahan manusia ketika memenggal ayat Allah.

Karena itulah, mari kita baca dan pahami ayat tersebut secara utuh :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Baca Juga:  Tuhanpun tak Mau Diselingkuhi

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Secara utuh dapat kita pahami bahwa ayat di atas menjelaskan bahwa Allah selalu memelihara manusia dengan memerintahkan malaikat hafazhah untuk menjaga jasad maupun ruh manusia di bagian depan dan belakang dari gangguan makhluk yang hendak berbuat buruk kepadanya seperti jin, manusia dan lainnya. Inilah sesungguh nikmat yang seringkali tidak disadari oleh manusia bahwa Allah adalah Maha Penjaga.

Allah tidak akan mencabut nikmat yang diberikan kepada manusia, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Maksudnya semua orang terlahir dalam kebaikan dan kenikmatan. Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan seseorang kecuali mereka mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilakunya sendiri.

Allah sudah memberikan aturan agar menjaga manusia terhindar dari berbuat zina. Malaikat yang diutus Allahpun tak akan mampu melindungi seorang hamba dari godaan untuk tidak terjatuh perbuatan zina kecuali manusia itu sendiri yang bisa merubahnya.

Pada dasarnya manusia menerima anugerah kenikmatan, tapi perilaku manusia dapat mengubah kenikmatan itu menjadi keburukan atau musibah. Begitu pula perilaku manusia itu pula yang akan menentukan apakah nikmat itu tetap selalu melekat pada dirinya dengan terus melakukan perbuatan yang terpuji.

Menjadikan ayat di atas untuk membangkitkan memotivasi dan potensi seseorang agar berbuat yang terbaik dan berjuang maksimal merupakan langkah positif. Namun, makna perjuangan dalam konteks ayat tersebut bukan mengubah yang buruk menjadi baik, tetapi merawat agar anugerah kebaikan dari Allah tak berubah menjadi sesuatu yang buruk karena perilaku manusia itu sendiri.

Baca Juga:  Panduan Keluarga Sakinah : Kewajiban Suami Terhadap Istri

Sekali lagi, makna motivasi dari ayat di atas bukan dalam pengertian bahwa manusia menjadi angkuh karena mempunyai potensi untuk melakukan perubahan tanpa anugerah dari Tuhan. Namun, motivasi yang sesungguhnya dari ayat tersebut adalah pikiran positif bahwa Allah sudah memberikan anugerah terhadap diri manusia untuk selalu dijaga. Tuhan selalu memberikan yang terbaik dan tugas perubahan manusia adalah menjaga kebaikan itu menjadi lebih baik dengan tanpa melanggar ketentuan dan sunnatullah.

Tinggalkan Balasan