Teladan
Teladan

Mencari Sosok Teladan untuk Kebaikan

Banyak sekali idola, tokoh, dan figur yang dikagumi, tetapi belum tentu menjadi teladan yang baik. Tidak semua tokoh mampu menjadi teladan yang bisa menghantarkan kebaikan. Sekedar terkenal dan populer belum menjamin menjadi sandaran keteladanan.

Terkadang seorang tokoh mempunyai kefasihan retorika yang memumpuni, tetapi tidak perilakunya. Terkadang pula ucapannya tidak baik tetapi mempunyai karisma yang bak memukau. Keteladanan seperti apa yang seharusnya patut diteladani.

Meneladani bukan sekedar meniru dalam arti fisik. Terpukau dengan seseorang lalu meniru idola dalam arti harfiyah. Namun, keteladanan dalam bentuk subtansi dari sifat hingga perilaku. Teladan yang baik adalah keteladanan yang menghantar pada kebaikan.

Allah berfirman :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إبْرَاهِيمَ وَاَلَّذِينَ مَعَهُ

“Sungguh pada diri Nabi Ibrahim dan para pengikutnya, terdapat teladan yang baik, sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dsb” (Al-Mumtahanah ayat 4).

Menurut Ibnu Arabi, redaksi ayat ini menegaskan tentang wajibnya mengambil contoh atau teladan dari seseorang yang memiliki jejak yang baik. Ibrahim adalah seorang sosok idola. Manusia yang beberapa rekam jejaknya dijadikan syariat haji oleh Allah, tentang bagaimana pengorbanan Ibrahim, bagaimana patuhnya Ibrahim kepada perintah Allah.

Maka, tidak satu alasanpun yang bisa memalingkan kita untuk tidak mencontoh Nabi Ibrahim. Mencontoh di sini memberikan pengertian bahwa boleh bercita cita atau berkeinginan menjadi Ibrahim millennial sebagai sosok orang yang baik, bukan sebagai Rasul, karena pintu kerasulan sudah ditutup oleh Allah.

Ayat ini pulalah yang dengan gamblang membenarkan bahwa syariat nabi nabi dahulu merupakan syariat bagi kita umat Nabi Muhammad. Ahkam al-Quran Li Ibn Arabi 7/300.

Abdullah Ibn Ahmad Ibn Ali Zaid mengatakan: Meneladani orang yang patut diteladani seperti Nabi Ibrahim menunjukkan takutnya kepada Allah dan kepada siksa neraka. Ma’alim al-Tanzil, 7/403.

Baca Juga:  Negeri Mesir dan Kisah Kemenangan Para Nabi

Tapi Imam Barra’ hanya membatasi kepada perbuatan saja yang bisa ditiru dan diteladani, selebihnya tidak boleh karena karakter seseorang tidak bisa direkayasa, ia akan hidup secara alamiah pada diri manusia. Ma’ani al-Qur’an 5/100

Nabi bersabda :

وعن جعدة بن هبيرة قال : قال رسول الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الآخرون

Dari Ja’dah Ibn Hubaira berkata: Rasullullah bersabda: sebaik baik manusia adalah manusia yang hidup dimasa Ku, kemudian orang orang yang meneladani orang orang yang hidup dimasaKu, kemudian generasi berikutnya dan begitu seterusnya. HR: Ibn Hajr al-Asqalani No 4245 dalam Kitab al-Mathalib al-’Aliyyah

Di hadits yang lain Rasulullah juga bersabda :

قال رسول الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : لا تزالون بخير ما دام فيكم من رآني وصاحبني والله لا تزالون بخير ما دام فيكم من رأى من رآني وصاحبني.

رواه أبو بكر بن أبي شَيْبَة

Senantiasa akan diberi kebaikan selama ditengah tengah kalian terdapat orang yang pernah melihat orang yang melihat saya dan pernah melihat orang yang menemani saya. HR. Abu Bakr Ibn Abi Syaibah. Ittihaf al-Khiyarah al-Mahrah, 7/337

Dari hadits di atas, bisa kita pahami bahwa meneladani orang orang baik menjadi ukuran kebaikan. Rasulullah adalah teladan bagi Para Shahabatnya. Para Shahabat adalah teladan bagi Para Tabiin, Para Tabiin teladan bagi Tabi’ al-Tabiin,  Tabi’ al-Tabiin teladan bagi para Ulama’ Salaf, Ulama’ Salaf teladan bagi para Kiai, Kiai teladan bagi para Ustadz dan Ustadz  teladan bagi para santri dan santri teladan bagi masyarakat. Itulah keteladanan yang menjadi mata rantai sebuah amal shalih dan sifat sifat baik.

Baca Juga:  7 Alasan Doa tak dikabulkan oleh Allah

Dalam kitab Ghidza’ al-Bab Imam Suyuthi pernah ditanya tentang seorang santri yang berpakaian layaknya seorang kiai atau habaib, padahal sesungguhnya ia adalah anak pelosok desa. Ketika pulang dari pondok, ia merubah penampilannya sebagaimana penampilan asli anak desa dan menanggalkan pakaian santrinya.

Jawab beliau: tidak ada perselisihan tentang dua karakter yang coba diperankan santri tersebut. Karena ketika ia berpakaian layaknya seorang kiai atau habaib maka ia termasuk pecinta kiai atau habaib. Dan ketika ia berbaju yang semestinya dipakai orang desa, maka memang seperti itulah kenyataannya. Dia memang orang desa dengan pakaian adatnya yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja karena itu termasuk muru’ah (pristise).

Karena itulah, meneladani bukan sekedar meniru, tetapi lebih kepada perilaku. Bukan sekedar merubah fisik, tetapi mengubah sifat dan perilaku.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo