Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Selamat siang, saya seorang suami yang baru saja mendapatkan putra, ingin memberikan nama untuk anak saya dengan nama tokoh sepak bola eropa yang saya sukai, tapi istri malah ingin menamainya dengan nama yang diambilkan dari artis, sedangkan orang tua kami ingin nama-nama agama, menurut ustdaz, bagaimanakah memberikan nama anak yang baik? Apakah nama tokoh bola atau artis tidak baik? Mohon penjelasanya.

Zain Alwi – Krian, Sidoarjo.


Waalaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Bapak zain yang berbahagia, selamat atas kelahiran putranya, semoga menjadi anak yang soleh, bermanfaat, berbakti kepada orang tua dan bermanfaat untuk sesama terutama agamanya. Bapak Zain, memang memberikan nama bagi seorang anak merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua, dan mendapatkan nama yang baik bagi anak juga merupakan haknya, tidak ada yang salah menamai anak anda dengan tokoh idola dalam sepak bola ataupun artis. Namun karena nama merupakan do’a dan pengharapan sebaiknya benar-benar dipikirkan sesaui dengan apa yang menjadi harapan anda dan sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad Saw.

Arti Sebuah Nama

Kelahiran seorang anak tentu menjadi sebuah kebahagiaan bagi setiap orangtua, maka tidaklah mengherankan banyak banyak orangtua telah menyiapkan nama untuk calon anaknya sedari masih dalam kandungan. Seorang penulis bernama Shakespears pernah berkata “Apalah arti sebuah nama”. Bagi keluarga muslim nama mempunyai arti yang sangat penting, karena dalam nama seorang anak tertanam harapan para orangtua terhadap anaknya kelak ketika telah menjadi dewasa, nama yang baik juga akan membentuk kepribadian dari anak, maka tidaklah mengherankan apabila banyak pula dari orangtua meminta nama untuk anaknya kepada para ulama.

Nama merupakan sebuah identitas diri yang paling hakiki. Ia menjadi pembeda antara satu dan lainya sehingga memudahkan orang untuk saling berkomunikasi dan bersilaturrahim, selain itu nama juga menjadi identitas dihadapan Allah SWT karena kelak di hari kiamat, masing-masing orang akan dipanggil berdasarkan namanya, seperti apa yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga:  Saat Ulama’ Berbuat Kesalahan, Ini Cara Menyikapinya

Sesungguhnya kalian kelak pada hari kiamat akan dipanggil berdasarkan nama-nama kalian beserta bapak kalian, maka (namailah) diri kalian dengan nama-nama yang baik. (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Nama Sebagai Harapan dan Do’a

Kecintaan orangtua terhadap anaknya tertuang dalam pemberian nama. Oleh karenanya memberikan nama anaknya yang paling baik dan mengandung makna yang baik pula. Karena nama yang baik itulah terkandung harapan orangtua dan tentunya berharap setiap nama anaknya dipanggil akan sekaligus menjadi do’a bagi anaknya. Orangtua tidak akan memberikan nama asal-asalan. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan seorang sahabat bernama Hazn (susah) menghadap Rasulullah Saw. lalu beliau bertanya: Siapakah namamu? Jawabnya: Hazn, maka (Rasul) langsung menggantinya seraya bersabda: jangan, namamu (adalah) Sahal…(HR. Al-Bukhari).

Nama Hazn,  yang bermakna “susah” atau ‘sulit’ tentunya kurang baik untuk sebuah nama. Oleh karenanya Rasulullah langsung menggantinya agar menjadi do’a bagi sahabat, yaitu mendapatkan kemudahan dalam kehidupanya.

Nama yang baik selain mengandung harapan dan do’a, juga dapat membentuk kepribadian dari yang mempunyai nama, nama yang baik akan mensuport untuk berbuat dan berprilaku sesuai dengan makna nama yang disandangnya. Sahabat yang tadinya bernama Hazn,  kemudian diganti namanya menjadi Sahal oleh Rasulullah berkata: Akhirnya sirnalah kesusahan pada (keluarga) kami. (HR. Al-Bukhari)

Pemberian nama yang baik terhadap anak merupakan kewajiban dari orangtua. Terlebih Rasulullah bersabda: Hak anak atas orang tuanya ialah mendapatkan nama yang baik…(HR. Al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan Ad-Dailami).

Dengan demikian maka jelaslah bahwa, memberikan nama yang baik kepada anak adalah hak bagi anak untuk mendapatkanya. Sehingga para orang tua berkewajiban memberikan nama yang baik kepada anak turunanya.

Memberi Nama Anak dengan Tokoh Idola

Seperti yang dijelaskan sebelumnya nama menjadi penting dalam Islam selain sebagai identitas tetapi juga sebagai harapan kebaikan. Lalu, bagaimana dengan mengikuti nama idola? Sebenarnya tidak ada masalah dengan memberi nama tokoh idola sepanjang nama tersebut adalah nama baik dalam segi arti dan mengharapkan anaknya (tabarruk) dengan kebaikan dan kesuksesan idolanya.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kedua: Makna Sebuah Ungkapan

Dalam suatu hadist yang diriwayatkan Muslim, Abu Dawud dan Ahmad bin Hanbal esok hari setelah kelahiran putranya Nabi berkata : Tadi malam lahir anak lelaliku, ia kuberi nama sama dengan nama ayahku (leluhurku), Ibrahim. Dalam hal ini memberi nama dengan contoh tokoh, idola maupun panutan lainnya tidak masalah sepanjang nama itu baik dan tokoh idola tersebut memberikan kesuksesan manafat kepada sesamanya.

Inilah yang menjadi penyebab masyarakat kita sering memberikan nama anaknya dengan nama kiayi dan ulama yang mereka cintai sebagai harapan dan doa untuk kebaikan putra-putrinya. Karena itulah disarankan untuk memberikan nama dengan panutan dan idola yang baik seperti nama Nabi, Sahabat, ulama, tokoh masyarakat yang sukses ataupun idola lainnya yang memang memberikan prestasi untuk kebaikan.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan