Ekstremisme kekerasan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari keterasingan, kemarahan yang tak tertangani, serta rapuhnya ikatan sosial dan emosional. Di tengah kompleksitas faktor ideologis, ekonomi, dan politik, terdapat satu fondasi mendasar yang sering terabaikan namun sangat menentukan, yaitu hubungan kasih antara anak dan orang tua. Mencintai dan menghormati orang tua bukan sekadar kewajiban moral dan agama, melainkan benteng utama yang mampu mencegah seseorang terjerumus ke dalam ekstremisme kekerasan.
Keluarga sebagai Fondasi Pembentukan Nilai
Keluarga merupakan sekolah nilai pertama bagi setiap individu. Di dalam keluarga, seorang anak belajar tentang empati, kesabaran, tanggung jawab, serta cara menyikapi perbedaan. Hubungan yang hangat dan penuh kasih antara orang tua dan anak membentuk rasa aman emosional yang kuat. Rasa aman ini membuat anak lebih tahan terhadap narasi kebencian dan kekerasan yang kerap digunakan kelompok ekstrem untuk menarik pengikut. Sebaliknya, relasi keluarga yang renggang, penuh konflik, atau diwarnai pengabaian emosional dapat menciptakan kekosongan batin. Kekosongan inilah yang sering dimanfaatkan oleh ideologi ekstrem dengan menawarkan identitas semu, tujuan instan, dan rasa memiliki yang menyesatkan. Dalam konteks ini, cinta dan perhatian orang tua berfungsi sebagai pelindung yang menutup celah masuknya paham kekerasan.
Banyak individu yang terpapar ekstremisme berada dalam kondisi rentan secara psikologis. Mereka merasa tidak dihargai, gagal, atau kehilangan arah hidup. Kehadiran orang tua secara emosional menjadi penyangga psikologis yang membantu anak melewati masa-masa sulit tanpa mencari pelarian pada ideologi berbahaya. Dialog terbuka antara orang tua dan anak memungkinkan pertanyaan-pertanyaan kritis dibahas secara sehat. Ketika anak merasa didengar dan dihargai, ia tidak mudah mencari jawaban di ruang-ruang tertutup yang sering menjadi pintu masuk ekstremisme kekerasan.
Hormat Orang Tua dalam Islam
Dalam Islam, menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan ajaran yang sangat fundamental. Al-Qur’an menegaskan:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak…” (QS. Al-Isra: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada orang tua merupakan pilar utama pembentukan akhlak seorang Muslim. Individu yang dibesarkan dengan kesadaran birrul walidain akan memiliki sifat tawadhu, sabar, dan penuh pertimbangan, karakter yang bertolak belakang dengan sikap ekstremisme yang keras, tergesa-gesa, dan gemar menghakimi.
Rasulullah SAW juga bersabda:“Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa kesalehan spiritual tidak dapat dipisahkan dari akhlak kepada orang tua. Seseorang yang benar-benar menghormati orang tuanya akan terbiasa mengendalikan amarah, menghargai kehidupan, dan mendengar nasihat, nilai-nilai yang menjadi benteng kuat terhadap paham kekerasan.
Islam juga mengajarkan prinsip keseimbangan (wasathiyah). Semangat beragama yang tidak disertai bimbingan keluarga dan ulama dapat berubah menjadi fanatisme sempit. Dalam banyak kasus, ekstremisme muncul ketika seorang anak memutus hubungan emosional dan dialog dengan orang tuanya. Islam bahkan melarang sikap kasar kepada orang tua yang berbeda pandangan atau keyakinan. Allah berfirman:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.”(QS. Luqman: 15)
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan prinsip tidak pernah membenarkan kekerasan atau pemutusan hubungan. Prinsip ini menjadi koreksi teologis yang tegas terhadap ekstremisme kekerasan.
Peran Orang Tua
Di era digital, paparan konten ekstrem semakin mudah diakses. Dalam konteks ini, cinta orang tua perlu diwujudkan melalui pendampingan yang bijak. Bukan dengan kontrol berlebihan, tetapi melalui kehadiran, keteladanan, dan komunikasi yang terbuka. Orang tua yang terlibat dalam kehidupan anak membantu membangun literasi kritis terhadap informasi yang menyesatkan dan bernuansa kebencian.
Mencegah ekstremisme kekerasan bukan semata tugas negara atau aparat keamanan. Upaya ini bermula dari rumah, dari hubungan paling dasar antara anak dan orang tua. Mencintai dan menghormati orang tua menumbuhkan empati, ketahanan emosional, serta kesadaran moral dan spiritual yang menjadi benteng utama terhadap ideologi kebencian. Dalam pandangan Islam dan nilai kemanusiaan universal, penguatan cinta dan penghormatan dalam keluarga adalah jalan damai untuk membangun individu berakhlak dan masyarakat yang aman, adil, serta berperikemanusiaan.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah