mukjizat quran
mukjizat quran

Nuzulul Qur’an (1) : Hukum Menyentuh Al-Quran Terjemah Tanpa Wudhu

Nuzulul Qur’an semata untuk menggali nilai-nilai Qur’ani guna membentuk pribadi yang Imani. Pribadi dengan tindak tanduk yang berhaluan al-Qur’an. Tutur sapa yang bernafaskan al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab suci nan mulia, diterimakan kepada Nabi sekaligus Rasul nan mulia, dengan media malaikat Jibril, seorang malaikat nna mulia, dan diturunkan pada bulan Ramadhan yang mulia. Jika narasi ini diterima, maka konklusinya,  Ramadhan adalan bulan yang penuh kemuliaan.

Setidaknya ada dua kemuliaan di bulan Ramadhan; kemuliaan Nuzulul Qur’an dan kemuliaan Lailatul Qadar. Tentang kemuliaan yang pertama, Syaikh Hudhari Beik menyakini bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada Hari Jum’at, 17 Ramadhan 2 H. pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Imam Thabari. Tarikh al-TAsyri’ al-Islamiy, 9.

Kemuliaan al-Qur’an semakin dikukuhkan bahwa tidak ada yang boleh menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan (QS: 56:79). Izz al-din Ibn Abd al-Salam memberikan sebuah interpretasi bahwa yang dimaksud dengan “hamba-hamba yang disucikan” adalah suci dari prilaku syirik, suci dari tingkah salah dan dosa, suci dari hadats dan najis. Artinya yang boleh menyentuhnya hanyalah orang orang yang berwudhu’ (menyucikan diri dari hadats. Tafsir Ibn Abd al-Salam, 6/386.

Hajat umat menghendaki al-Qur’an untuk diterjemahkan ke berbagai bahasa yang mudah dipahami. Lantas bagaimana hukum memegang/ membawa terjemah al-Qur’an dalam keadaan tidak suci dari hadats (tidak punya wudhu)?

Sayyid ‘Alawi Ibn ‘Abbas al-Maliki beranggapan terjemah yang ada saat ini termasuk terjemah tafsiriyah ma’nawiyah, (penjelasan yang cukup signifikan) karena terjemah tersebut diambil dari tafsir yang berlaku dan diakui. maka bisa dikatakan sebagai tafsir. (Faidh al-Khabir, 230).

Syaikh al-Munawi memaparkan bahwa membawa dan memegang terjemah tersebut bila al-Qur’anya tidak ditulis atau alqur’anya ditulis akan tetapi lebih dominan terjemahannya maka tidak diwajibkan. (Faidh al-Qadir, 26).

Baca Juga:  Hukum dan Dahsyatnya Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura

Syaikh Abu Bakar al-Dimyathi memberi sedikit catatan. Namun apabila dominasi terjemah atas ayat al-Qur’an sifatnya masih prediktif atau bahkan diragukan, maka tidak boleh bagi yang berhadats menyentuhnya. I’anah al-Thalibin, 1/66.

Wallaahu A’lam

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …