parkir kendaraan di jalan
parkir kendaraan di jalan (sumber Balipost)

Parkir Kendaraan di Tepi Jalan Umum dalam Pandangan Fikih

Kendaraan yang diparkir di tepi jalan, terutama mobil, bukan hal aneh. Khususnya di kota-kota besar. Banyak pemilik mobil yang tidak punya garasi di rumahnya karena sempitnya lahan terpaksa harus memarkir kendaraan roda empatnya di tepi jalan depan rumahnya.

Tentu saja hal ini sangat menggangu pengguna jalan yang lalu lalang. Bahkan terkadang terjadi insiden yang tidak diinginkan. Karena ruas jalan semakin sempit, gesekan mobil yang sedang lewat dengan mobil yang sedang parkir kerap terjadi. Dan, menjadi masalah karena masing-masing pihak sama-sama ngotot minta ganti rugi.

Fikih sebenarnya telah mengatur hal ini. Memarkir kendaraan di jalan raya atau jalan umum tidak masalah dengan catatan tidak menggangu atau membahayakan pengguna jalan yang lain. Apabila sebaliknya, yakni mengganggu dan membahayakan pengguna jalan yang lalu dijalan raya tersebut, hukumnya haram.

Definisi jalan raya, sebagaiman dijelaskan dalam kitab Syarah Qailubi wa ‘Amirah, adalah jalan yang digunakan bersama dan semua masyarakat memiliki hak yang sama terhadap manfaat jalan tersebut. Manfaat dimaksud antara lain, berjalan, duduk, transaksi, belajar, membaca,  istirahat dan manfaat yang lain.

Semua kemanfaatan jalan tersebut boleh dilakukan oleh masyarakat dengan syarat tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pengguna jalan. Semisal dapat membahayakan pengguna jalan yang lewat disitu. Jika menimbulkan mudharat (bahaya), maka jalan tersebut tidak boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang telah tersebut selain hanya untuk dilewati. Keterangan yang sama bisa dibaca dalam al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah.

Dalam kitab I’anatu al Thalibin dijelaskan, haram menanam pohon di jalan walaupun diyakini tidak akan menimbulkan mudharat, dan walupun memberi manfaat kepada penduduk. Juga haram secara mutlak membangun warung di jalan. Bermanfaat untuk masyarakat, apalagi menimbulkan mudharat. Alasan keharamannya karena menyebabkan jalan menjadi sempit dan mengganggu serta membahayakan pengguna jalan.

Baca Juga:  Kriteria Mampu dalam Ibadah Haji yang Sering Terabaikan

Bagaiman dengan jalan gang? Apa boleh parkir kendaraan di tepinya?

Dalam al Fiqhu al Islami wa Adillatuhu disebutkan, jika bukan musytarikin (masyarakat sekitar yang memiliki hak terhadap manfaat jalan gang tersebut), tidak boleh parkir di jalan gang tersebut. Hanya boleh lewat. Untuk penduduk setempat boleh memarkir kendaraan di jalan gang dengan syarat harus mendapat izin dari semua penduduk.

Bila terjadi insiden kendaraan yang lewat menabrak atau nyerempet kendaraan yang sedang parkir di tepi jalan gang, siapa yang bertanggung jawab? Yang lewat atau yang parkir?

Jika seseorang memarkir kendaraannya di tepi jalan dan telah mendapat izin dari semua masyarakat, dan badan jalan masih luas, kemudian ada kendaraan yang lewat lalu menabrak atau nyerempet, yang bertanggung jawab adalah pemilik kendaraan yang lewat tersebut. Sebab dianggap lalai ketika mengendara.

Adapun jika jalan itu menjadi sempit sebab kendaraan yang parkir, dan secara urf (kebiasaan) sering terjadi tabrakan atau gesekan antar kendaraan, baik memperoleh izin dari semua masyarakat atau tidak, haram hukumnya memarkir kendaraan di tepi jalan tersebut. Dan apabila terjadi inseden tabrakan atau senggolan antar kendaraan yang bertanggungjawab adalah pemilik kendaraan yang parkir.

Bagikan Artikel

About Ahmad Sada'i