tari rodat
tari rodat

Pendekatan Dakwah dan Kesenian Rodat

Perkembangan dakwah Islam sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan geliat yang sangat menarik untuk diperhatikan lebih lanjut. Kemunculan teknologi informasi dan komunikasi memberikan saluran baru bagi pendakwah untuk menyampaikan dakwah Islam melalui berbagai lini. Salah satunya lewat media sosial, seperti Instagram, YouTube, Facebook, dan lainnya. Adanya media tersebut memunculkan para pendakwah baru yang lantas menjadi viral di kalangan penggemarnya.

Ironisnya, pada saat yang sama, fenomena ledakan dakwah Islam di media massa dan media sosial itu juga melahirkan berbagai macam persoalan. Salah satunya ialah masifnya kemunculan model dakwah yang dinilai terlalu condong pada suatu golongan bahkan cenderung memusuhi golongan lain yang sama-sama Islam.

Perbedaan sedikit cara pandang terhadap bagaimana rutinitas keagamaan menjadi sesuatu yang dianggap radikal, bahkan menganggapnya sebagai musuh yang harus diperangi. Dakwah Islam yang harusnya menjadi sarana untuk menebarkan kebaikan, mengajak pada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, malah dijadikan sebagai media provokasi dan ujaran kebencian.

Disadari atau tidak, fenomena dakwah Islam yang menebar kebencian ini telah menyebabkan kerenggangan hubungan antaragama di Indonesia. Komunitas beragama cenderung saling bersitegang antara satu sama lain sebab konten dakwah yang cenderung memprovokasi untuk berpecah belah. Situasi semakin menjadi parah ketika dakwah Islam dimanfaatkan oleh sebagian elit politik tertentu. Bukannya ingin menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, melainkan untuk meningkatkan popularitas diri dan kelompok di hadapan publik.

Pendekatan Dakwah

Corak dakwah yang dipenuhi ujaran kebencian dan prasangka terhadap kelompok lain itu jelas menodai citra Islam yang sesungguhnya. Sejarah Islam selalu menggambarkan bahwa Islam adalah agama kasih sayang, agama yang rahmatan lil ‘alamin, selalu mengedepankan kasih saying. Bahkan Islam adalah agama dakwah (Q.S. An-Nahl: 125). Meski terdapat jejak peperangan berdarah dalam penyebaran Islam, namun Islam tetap mengedepankan cara-cara kemanusiaan dalam berdakwah.

Baca Juga:  Catatan Pencarian Jejak Khilafah Di Nusantara (Bagian 2)

Rasulullah sendiri selalu menampilkan teladan yang baik dalam mendakwahkan Islam. Beliau tidak  tampil sebagai seorang utusan yang kemudian arogan sebab kerasulannya, namun tetap rendah hati dan berwibawa di hadapan rivalnya. Sebab kelihaiannya dalam menyampaikan dakwah Islam dan juga atas izin Allah Swt. yang menyebabkan pihak yang diajaknya jatuh hati dan mempercayai Islam sebagai agama yang benar.

Meskipun di sisi lain ada yang tetap teguh menentang Islam, namun itupun disebabkan oleh rasa fanatik terhadap golongan, sehingga sesuatu yang jelas nampak sebagai kebenaran pun ditolak. Meski demikian, Rasulullah tetap bersikap baik terhadap siapa saja, sekalipun kepada para penentangnya. Strategi Rasulullah dalam berdakwah itu juga ditampilkan oleh ulama penyebar Islam di Nusantara yang kita ketahui dengan sebutan “Walisongo”.

Berbicara tentang sejarah penyebaran Islam di Nusantara, utamanya di pulau Jawa, tentu tidak bisa terlepas dari peran Walisongo di dalamnya. Selama tujuh abad lamanya, yakni dari abad ke VII hingga XIV Masehi, agama Islam belum mampu menembus wilayah Jawa. Sebagian besar masyarakat kala itu memeluk agama Hindu, Budha, atau kepercayaan nenek moyang yang lain. Namun semenjak awal abad ke XV, hampir seluruh pulau Jawa dapat diislamkan. Semua ini tidak terlepas dari peran Walisongo pada saat itu. Terlebih saat itu, penyebaran Islam yang dilakukan  tanpa pertumpahan darah maupun konflik sosial yang berarti di dalamnya.

Spirit Dakwah Walisongo dalam Kesenian Rodat

Rodat berasal dari kata iradat, salah satu sifat Allah yang artinya berkehendak. Maksud pemberian nama tersebut adalah agar manusia selalu berkehendak untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ada pendapat lain yang mengatakan ia berasal dari kata raudlah, yaitu taman Nabi Muhammad yang terletak di Masjid Nabawi. Pendapat lain mengatakan bahwa nama rodat diambil dari salah satu alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul, atau disebut dengan tar. Dengan demikian, rodat sebenarnya memiliki misi dakwah keislaman (Nuryani, 2015).

Baca Juga:  Mengenal Sufi Nusantara; Syekh Yusuf al-Makassari

Rodat merupakan salah satu tarian rakyat yang pementasannya berupa tarian kelompok berpasangan. Keseluruhan pemain dalam rodat adalah laki-laki, rata-rata berumur 30 tahun ke atas,  hal tersebut menjadi keunikan tersendiri dalam kesenian ini. Akan tetapi, keunikan tersebut jika tidak diikuti dengan regenerasi yang baik, maka dikhawatirkan kesenian ini akan lenyap ditelan zaman.

Rodat adalah salah satu bentuk seni tarian yang menggambarkan pejuang yang melawan penjajah. Hal ini dapat diamati dari atribut yang digunakan, yaitu bendera merah putih dan juga kipas. Selain itu gerakan dalam tarian rodat juga sederhana, ritmis dan dinamis dengan diiringi oleh lagu-lagu bertema kebangsaan. Dalam beberapa babak permainan pertunjukan ini dibuka dengan lagu-lagu shalawat nabi dan juga syiir-syiir Jawa khas Walisongo, seperti Kidung Wahyu Kolosebo karya Sunan Kalijaga (Apriliana, 2020).

Rodat termasuk jenis shalawatan yang lama dan jarang sekali ditemui saat ini. Selain tarian, terdapat juga atraksi-atraksi menegangkan, seperti aksi bermain ular, memakan api, uji ketahanan fisik dengan dicambuk, maupun mengupas dan memecahkan kelapa dengan gigi dan kepala. Umumnya rodat menjadi kesenian yang menjadi hiburan bagi masyarakat ketika jenuh.

Kesenian rodat, selain menjadi hiburan bagi masyarakat sekitar, juga memiliki nilai-nilai dakwah di dalamnya. Hal tersebut dapat kita lihat dari lagu-lagu yang dimainkan, yaitu berupa salawat dan syair gubahan para wali. Sehingga tidak berlebihan jika penulis mengatakan bahwa di dalam kesenian rodat terdapat spirit dakwah yang dibawa oleh para walisongo, yaitu menyelipkan dakwah Islam melalui kesenian yang dampaknya juga melestarikan kebudayaan Nusantara.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Lailatus Syarifah

Avatar